Takut digoda habis-habisan, Carrie mendekam di kamarnya setelah makan. Dia terdiam di sana hingga sore hari. Sekitar pukul empat, dia memberanikan diri untuk keluar karena mendengar suara berisik.
James sedang membuka pintu.
“James?” Carrie berniat untuk ikut. “Boleh aku ikut?”
“Kau tidak menerobos keluar?” James menggodanya dengan membiarkan pintunya dia buka lebar-lebar. “Kita bisa bermain petak umpet setelah itu.”
“Dengar, aku ingin ikut, berhenti menggodaku—aku hanya ingin udara segar.”
“Kau bilang tadi takkan berusaha kabur lagi, jangan membohongiku, Sayang, hatiku ini rapuh, loh. Kau takkan ingin merasakan kemarahanku nanti.”
“Aku berjanji tidak akan kabur, setidaknya aku ingin tahu kita dimana,” dan aku akan kabur jika situasinya darurat, mungkin ayah menemukanku, lanjut Carrie dalam hati. Dia ingin berjaga-jaga jikalau keberadaan mereka diketahui dan ternyata dugaannya tentang rencana sang ayah benar terjadi.
“Berjanji?”
“Ya, aku akan berpura-pura seperti kemarin, menjadi kekasihmu, dan semua akan baik-baik saja. Aku ingin tahu kita dimana.”
“Dan tidak ada rencana busuk melarikan diri?”
“Tidak, tapi kau harus melindungiku.”
James tertawa pelan, mengira kalau Carrie sedang bercanda. “Kau minta tolong pada penculikmu untuk melindungimu, entah kenapa seolah-olah orang jahatnya itu bukan aku.”
Memang, sahut Carrie yang tak mau membahasnya karena James juga tidak percaya padanya. “Maksudku aku tawananmu, jadi kau harus bertanggungjawab, mungkin aku tersesat, itu tanggungjawabmu untuk melindungiku.”
“Oke, aku lebih takut kau diajak kencan oleh pria di bar ketimbang tersesat, sungguh para pria di sana sangat kesepian, mereka bisa berubah menjadi werewolf kelaparan kalau melihat ada wanita pirang dari kota.” James mempersilakan Carrie untuk keluar. “Dan sebagai penculikmu, aku juga merasa sejak kemarin kau terlalu murung, aku tak mau kondisi psikologis tawananku menurun—dan menjadi tidak waras karena terkurung di rumah hamster yang mungil.”
Carrie tidak tahu apakah itu sindiran atau hal lain. Namun, dia selalu merasa kalau James selalu saja melontarkan kata berbau sindiran dan sarkasme. “Wah, entah kenapa kau memang lebih cocok jadi komedian ketimbang penculik.”
“Oh, lucu?”
“Saking lucunya, aku sampai ingin menjotos wajahmu.”
Mereka keluar rumah. James mengunci pintu, lalu berjalan menuju truk tuanya. Carrie sedikit bingung, tadinya dia pikir akan diseret-seret seperti kerbau, nyatanya dia benar-beanr bebas—bahkan bisa saja melarikan diri. Ya, ujung-ujungnya dia takkan selamat jika hanya mengandalkan kaki untuk pergi dari kawasan ini.
Mereka menaiki truk itu berdua, kemudian melaju ke lokasi toko kelontong Mrs. Fenroy yang ada jauh di pelosok, skeitar ratusan meter dari situ.
Carrie memandangi keluar jendela. Segalanya tampak begitu hijau. Pepohonan pinus dan batang besar selang-seling di pinggiran jalan. Dia tidak pernah sekalipun pergi ke pedesaan di daerah Texas ini. Sejak kecil hidupnya terpenjara di rumah mewah Wilson, dan ketika ingin keluar demi bisa mandiri pun—malah kembali berada dalam penjara.
“Kau tidak takut aku melarikan diri?” tanyanya kemudian.
James menggeleng, pandangannya sekilas menoleh, tapi lantas kembali ke depan. “Tidak sama sekali, aku hanya takut kau diseret pria mabuk, itu saja. Makanya, lebih baik jangan jauh-jauh dariku.”
“Ini sore hari.”
“Sayang, mabuk itu tidak ada waktunya, kau ini tinggal dimana selama ini?”
“Aku—” Carrie selalu mengira ritual mabuk para pria hanya dilakukan di malam hari seperti halnya Carlos dan sang ayah. Dia benar-benar kurang pergaulan, jam hidupnya selama ini sudah diatur dalam peraturan oleh ayahnya. Bahkan, pria yang boleh bersama dirinya hanyalah Carlos—sebelum semuanya menjadi berantakan.
“Ah, menjadi Tuan Putri memang menyenangkan, enak sekali hidupmu selama ini pasti, aku paham, kau pasti tidak mengenal jenis-jenis alkohol? Ayahmu baik sekali sampai membuatmu suci begini, tapi memang—kau sendiri yang berbuat kotor, biasanya memang begitu, Carrie, tak perlu malu.”
“Apa maksudmu?”
“Biasanya wanita yang terlalu dikekang, akan tumbuh liar—kau diberikan pendidikan layaknya suster gereja, tapi mau bagaimana lagi jika memang berhasrat ingin menjadi pelacur.”
“Kau—”
“Jangan tersinggung, oke, semua wanita kebanyakan begitu, dan jujur—hingga sekarang pun aku tak pernah melihat ada wanita yang benar-benar, eh, suci? entahlah apa namanya, intinya kebanyakan memang tukang selingkuh, aku juga pernah tidur dengan istri bosku, jadi kurasa memang terkadang ada yang salah dengan pikiran wanita.”
“Aku tak mau mendengar curahan hatimu.”
“Oh, iya, oh iya—maaf, lagi-lagi aku tak sadar kalau sedang terbuka denganmu, entahlah, aku merasa aku bisa mendapatkan jawabannya jika bercerita denganmu.”
“Kenapa?”
“Kenapa?” ulang James memandangi Carrie dengan tatapan berbeda kembali, ya—penuh rasa cemburu dan amarah, “karena kau berpengalaman, Sayang, katakan padaku, kenapa kau mempermainkan tunanganmu? Apa dia tidak memuaskan di ranjang? Apa miliknya—kau tahu, kurang eh—enak dilihat? Atau dia terlalu kaku, aku paham orang-orang seperti Carlos, si tampan yang terlalu kaku di depan orang, biasanya juga demikian di ranjang. Apa mungkin kau benci padanya dan merasa jika kau tidur dengan seluruh temannya maka itu akan membuatnya sakit hati? Katakan padaku, kenapa wanita itu gampang sekali berpindah pasangan kalau masalah ranjang?”
Carrie tidak mau menjawabnya. Lagipula dia juga tidak punya keinginan untuk mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan oleh James. “Sekarang aku tahu, kau pasti pernah dilukai wanita habis-habisan, dan kebetulan aku diberitakan seperti wanita yang penah menyakitimu, sehingga kau membenciku amat sangat padahal kita tak pernah bertemu.”
“Aku pernah bilang ‘kan? Aku tinggal tak jauh dari rumahmu.”
“Well, tetap saja, kita tak pernah kenal ‘kan?”
“Oke, kalau begitu perkenalkan, namaku James Woodruff, terkadang dikenal sebagai Jordan Wright, pernah bekerja sebagai ahli IT, tapi memutuskan untuk menjadi penculik. Sialnya, orang kuculik adalah jenis wanita yang sanat kubenci.”
“Dengar, jika kau tidak berhenti membenciku karena kau pernah disakiti wanita, aku benar-benar akan menusukmu saat kau tidur nanti malam.”
“Oh, benar juga, ide bagus, lakukan saja jika bisa. Kau tak perlu merabaku lagi seperti semalam, kau langsung saja hujamkan pisau ke dadaku.” James menuding letak jantungnya. “Jangan sampai salah, Nona, ini jantungku. Tusuk saja yang keras agar aku mati seketika.”
“Aku benar-benar akan melakukannya.”
“Tentu, ada banyak pisau di dapur.”
“James, aku membencimu.”
“Aku juga, Sayang, sangat, dua kali lipat dari kebencianmu.”
“Kau membenciku karena hal yang tidak kulakukan, kebencianmu ini tidak beralasan. Kalau kau benci aku karena ayahku, aku bisa memahaminya, tapi kau membenciku—karena wanita lain pernah menyakitimu, dan ternyata aku diberitakan buruk.”
“Kau tidak diberitakan buruk, kau memang buruk.”
“Kau tak tahu apapun tentangku.”
“Aku tahu segalanya tentangmu.”
“Oh iya, bukan berarti kau menculikku dari tempat tidur, maka kau jadi tahu segalanya tentangku. Kau tidak tahu tahu apapun.”
“Tahu, aku tahu apapun.”
“Tidak!”
“Aku tahu kalau kau punya tanda lahir di sekitar paha kanan—sangat dekat dengan, kau tahu—”
Carrie terbelalak, tak percaya kalau ada rahasia yang belum ketahui setelah bangun dari penculikannya. “Kau! apa yang kau lakukan saat aku pingsan!”
“Tidak ada, aku tak sengaja melihatnya—piama yang kau pakai sangat seksi, jangan salahkan aku kalau itu tersingkap ketik aku menggendongmu. Kau beruntung, aku ini kriminal yang baik hati.”
“Aku sungguh akan menusukmu.”
“Silakan.”
“Kau menyebalkan, kau tahu itu?” Carrie kesal karena terus diremehkan, walaupun dia snediri juga sadar kalau takkan bisa melakukan hal seperti itu. Lagipula, dia memiliki fobia terhadap darah, melihatnya saja langsung membuatnya mual dan muntah.
“Aku tampan dan aku bangga.”
***