Ngambek

859 Kata
Pukul 2 siang. Artha dan Gladis sampai di apartemen setelah mengantarkan Windy dan Vian ke hotel tempat Bunda menginap. Mereka sudah makan siang bersama tadi di hotel. “Sini gue bantuin.” Gladis ingin membantu saat melihat Artha sendirian menenteng dua kresek besar belanjaan mereka. “Jangan yang ini, yang itu aja!” Artha menunjuk ke arah kresek sedang berisi beberapa sabun yang mereka butuhkan. Gladis mengambil kresek tersebut, lalu menutup bagasi mobil Artha. Langkah mereka memasuki lift menuju lantai tempat apartemen mereka. Selama di dalam lift mereka hanya diam, tak ada satu pun pembicaraan. Bahkan saat mereka sampai, Gladis yang berjalan duluan bertugas membuka pintu apartemen. Mereka langsung menuju dapur, berniat langsung menata bahan yang akan mereka susun di kulkas. “Kenapa yogurt nya banyak banget?” tanya Artha heran melihat Gladis menyusun banyak yogurt ke dalam kulkas. “Gue suka banget sih sama yogurt, tiap hari juga makannya itu." “Kayak gue yang suka sama cola?” Artha menyerahkan kaleng cola pada Gladis setelah perempuan itu selesai menyusun Yogurt ke ke dalam kulkas. “Yaa, bisa dibilang gitu.” Gladis menyusun semua bahan makanan yang sudah mereka beli, dibantu oleh Artha yang bertugas menyerahkan satu per satu bahan makanan tersebut. “Kenapa Lo suka banget sama roti?” Kali ini Artha bertanya lagi saat melihat dua bungkus roti tawar yang Gladis beli, “Gue tiap hari sarapannya ya pake roti, lebih ke kebiasaan sih. Jadi lo jangan protes kalo tiap hari bakal makan roti.” “Gue gak keberatan sih, gue gak biasa sarapan, jadi kalo pun harus sarapan apapun ya gak masalah apapun bisa masuk.” Gladis kembali sibuk dengan bahan – bahan lain yang tidak mereka taruh di kulkas. Sedangkan Artha sudah duduk di meja makan sambil meminum cola favoritnya. “Habis ini mau nyusun baju?” “Iya, sekalian lo kasih tau tempat buat baju gue.” “Iyaa.” Gladis selesai, kemudian ikut duduk dengan Artha. Ia lelah. Lantas menaruh kepalanya di atas meja sambil memejamkan mata, berharap penatnya dapat berkurang. Artha yang berada didepannya mengelus kecil kepala Gladis. “Capek?” “Dikit." “Mau gue pijitin?” “Boleh.” Gladis segera mengangkatnya wajahnya, “Nanti habis beresin baju ya.” “Ck, Iya!” Gladis kembali merebahkan kepalanya, kembali beristirahat setelah seharian ke sana – kemari berbelanja dan mengurusi kedua adiknya. Artha sebenarnya kasian, tapi dia masih sedikit kaku perihal memberi perhatian pada Gladis. Artha hanya takut salah, ia memang kenal Gladis sejak SMA, namun tak begitu memahami diri Gladis. “Jangan kecapekan, Dis.” “Kenapa?” “Nanti anak gue kenapa – napa.” “Ohh.” Itu Obrolan terakhir Gladis dan Artha, wanita hamil itu bahkan beberapa kali tak merespon panggilan dari suaminya. Dirinya benar-benar tampak sedang tak enak hati. Artha yang melihat perubahan Gladis itu hanya terdiam, tak ada hal berarti yang bisa dilakukan. Bahkan Gladis beberapa kali menolak bantuan yang Artha tawarkan. Hanya satu yang Gladis respon dengan baik, perihal janji Artha untuk memberikan pijitan untuk meredakan rasa pegal di kaki Gladis. Mood Gladis begitu jelek malam ini, bahkan pijitan yang Artha beri hanya dibalas dengan omelan dari wanita itu. Gladis hanya cemberut dan menatap layar laptopnya, mengecek email yang masuk. Apa yang Artha bisa lalukan kecuali hanya menatap Gladis dari atas ranjang, bahkan wanita itu tak mau menemani ia duduk di atas ranjang dan memilih menyendiri duduk di atas sofa. “Kenapa sih, Dis?” tanya Artha yang semakin frustasi melihat Gladis, “Kenapa apanya?” Gladis balas bertanya dengan nada sewot. “Mood lo jelek banget malem ini?” “Iya.” “Perkaranya apa?” “Gatau.” “Ck! Yaudah sini, udah malem ayok tidur.” Artha menepuk ranjang disebelahnya, mengisyaratkan Gladis untuk ikut berbaring di atas ranjang. Gladis kali ini tak membantah, dengan pelan Gladis menaiki ranjang setelah mematikan laptop. Artha sudah berbaring menghadap ke arahnya, tangannya memeluk guling sambil menatap gerakan Gladis. “Kenapa sih?” Artha memulai kembali pembicaraan mereka, “Gak papa.” “Lo marah sama gue?” “Enggak.” “Lo ada masalah sama orang?” “Enggak.” “Terus kenapa dong?” “Gatau.” Artha kembali diam, kini matanya menatap wajah Gladis yang sengaja memejamkan matanya meskipun tak sedang terlelap. Gladis itu cantik, manis, sedap dipandang, tak perlu banyak gaya juga sudah banyak yang melirik. Kelihatannya Artha harus sedikit berhati – hati agar tak kena tikung orang lain. “Perutnya kapan gedenya?” Pertanyaan Artha sukses membuat Gladis kembali membuka matanya, sedikit aneh mendengar Artha bertanya pertanyaan itu untuk pertama kalinya. “Emangnya kenapa?” “Biar semua orang tau kalo lo udah punya suami, gak rela dong gue elo dilirik cowo – cowo.” Mungkin kalo lampu di kamar mereka menyala terang Artha bakal bisa melihat batepa merahnya wajah Gladis, tapi keberuntung ada di pihak Gladis malam ini karena lampu kamar sudah Artha matikan sejak tadi. Hanya tersisa lampu tidur yang menyala temaram. Artha cemburu? “Lo cemburu?” tanya Gladis pelan, berusaha memastikan. “Ya iyalah, lo istri gue yaa. Cantik gini pasti banyak yang melirik, ngaku lo.” “Iya sih” Hahahaha >>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN