“Jadi gimana, Dis, Papa sendiri yang nawarin langsung.” Gladis terdiam, dirinya baru saja siuman beberapa jam yang lalu. “Tapi Lula–“ “Gausah khawatir kan ada Mama, Artha nyerahin semua keputusan di tangan kamu kok.” Kembali Mamanya bersuara. Mereka sedang berhadapan, Gladis yang bersandar pada kepala ranjang rumah sakit, sedangkan Mamanya duduk di kursi samping ranjang. Kedua wanita itu kembali diam, menunggu ucapan yang keluar dari mulut Gladis. “Kamu juga bisa punya kesempatan buat memperbaiki rumah tangga kalian, Mama tau satu tahun ini gak ada yang membaik.” Mamanya mengelus tangan Gladis, mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu. “Ini keputusan kamu Dis, kamu nolak juga gapapa.” “Enggak kok! Aku setuju, mungkin emang bener kata Ayah.” Gladis menjawab. “Tapi kamu

