Tetua keluarga Padma sesungguhnya tidak terdiri dari banyak sekali orang. Hanya terdiri dari 4 orang saja. Endang Padmasari, putri bungsu dari pemimpin pertama keluarga sekaligus pemangku dudukan tertinggi sebagai yang paling ‘tua’ dan ditakuti. Diana Maya Padmasari, anak paling tua di generasi ketiga keluarga Padma dimana dia merupakan anak dari kakak tertua ayah seorang Heri Padmana. Bagas Jaya Padmana, adik dari Diana. Dan yang terakhir Triansyah Padmana, kakak Heri Padmana yang notabene pemimpin keluarga saat ini.
Meski dua diantara tetua, memiliki hubungan kekeluargaan yang bisa dibilang sudah terlalu jauh dari garis keluarga yang memimpin saat ini. Tetap saja tidak satu pun orang yang duduk di kursi tertua diabaikan pendapatnya. Mereka adalah pilar yang memastikan bahwa Padma tetap menganut nilai-nilai yang telah diwariskan secara turun temurun. Namun, mengingat bahwa para tetua ini diisi oleh mereka yang memang sudah sangat berumur. Mereka semua memegang erat pemikiran-pemikiran kolot yang jelas bertabrakan dengan pemikiran yang dimiliki generasi keempat Padma saat ini. Generasi yang akan menjadi akar baru untuk memperkuat kerajaan bisnis mereka.
Alex tidak pernah suka ini. Fakta bahwa dia adalah satu dari beberapa nama yang santer terdengar sebagai pewaris kerajaan bisnis keluarganya, membuat dia jelas acap kali terjebak di tengah situasi menegangkan dengan para tetua ini. Tetap saja meski sudah sering terjebak di situasi seperti ini, perasaan tegang yang menerpanya itu pasti akan muncul. Terlebih ketika dirinya bisa menerka-nerka apa topik utama dari pembicaraan kali ini.
“Bagaimana keadaan ayahmu, Nak?” Pertanyaan itu datang dari Bagas yang melayangkan senyuman tipis pada Alex. Pria yang memimpin bisnis keluarga Padma di bidang konsultan hukum dan akuntansi itu, masih mengenakan jas resmi. Jelas sekali baru kembali dari kantor.
“Untungnya bukan serangan jantung kedua Om, cuman ada penebalan saraf di dinding-dinding jantung. Jadi dokter nyaranin buat Papa istirahat sepenuhnya.”
“Ya, Tante waktu rapat tadi sempat nanyain dia sempat istirahat atau nggak. Soalnya kantung matanya tuh mengkhawatirkan banget loh,” sahut Diana menyandarkan punggung sepenuhnya ke sandaran kursi. “Nggak dulu, nggak sekarang. Papamu itu kalau lagi keadaan gini pasti selalu maksain dirinya sendiri di luar kemampuan dia. Seolah lupa kalau dia udah gak sekuat dulu.”
Sudut bibir Alex terangkat, membentuk seulas senyum tipis. Lantas sedikit melirik ke arah sang Oma yang duduk tenang di ujung meja panjang tersebut. Tangannya yang sudah berkeriput, menangkup sekeliling cangkir teh pahit hangat di atas meja. Sesekali membenarkan letak kacamatanya. Perempuan itu jelas sudah terlalu tua untuk tetap ikut campur dalam mengurusi masalah di dalam keluarga Padma, namun dedikasinya pada keluarga membuat dia enggan untuk abai akan permasalahan yang ada.
“Rumor-rumor terkait keluarga kita semakin banyak saja yang terdengar.” Endang memulai diskusi. “Rasanya sudah lama sekali sejak Padma berada di posisi sebagai topik pembicaraan murahan bagi orang-orang di lingkungan sosial itu. Ibu pasti kena serangan jantung lagi di dalam kuburnya, melihat keluarga kita jadi seperti ini.”
Siapa pun tau, Ibu yang dimaksudkan oleh Endang adalah Wijianti Leksmana. Ibunya sendiri, sekaligus istri dari pemimpin pertama keluarga Padma di masa lalu. Orang yang berhasil memegang kendali akan para sosialita di jamannya. Sekaligus orang yang memainkan peran terpenting dalam membuat nama Padma bukan hanya disegani di dunia bisnis namun juga lingkungan sosialita kelas atas. Perempuan yang tidak memiliki latar belakang mentereng, namun berhasil membangun pondasi kokoh agar keturunan-keturunannya tidak dipandang sebelah mata oleh siapa pun hingga saat ini.
“Maaf Oma,” gumam Fedri tau betul maksud dari ucapan sang Oma jelas menyasar kepadanya. “Saat ini fokus kami adalah memastikan bahwa rahasia-rahasia busuk keluarga kita tidak semakin banyak terdengar di luar sana. Devina sudah bekerja keras setiap harinya datang ke setiap acara perjamuan, untuk membantah rumor-rumor buruk terkait keluarga kita. Namun, seperti yang Oma tau Devina sendiri tidak akan cukup untuk menangani itu semua ketika kita sedang menjadi sasaran banyak sekali keluarga.”
Endang mendengkus, jelas tidak puas akan penjelasan Fedri. Lidahnya kelu, ingin sekali berkata bahwa mau Devina bekerja sekeras apa pun perempuan itu tidak akan memberikan pengaruh banyak. Secara sejak awal istri dari cucunya itu bukan berasal dari lingkungan rumit yang menjadi tempat mereka tinggal sejak terlahir ke dunia. Namun, menyinggung Fedri di saat seperti ini bukan hal yang tepat. Endang butuh Fedri untuk tetap berada di dalam keluarga Padma ini, dan untuk itu dia harus memastikan bahwa dirinya tidak menyinggung latar belakang istri sang cucu yang sampai kapanpun akan selalu menjadi hal yang disesalkannya.
“Ada orang yang bisa memutar balikkan keadaan kita di publik saat ini.”
Ucapan itu datang dari Alex yang memandang lurus cairan pekat berwarna kehitaman di dalam gelas di hadapannya. Begitu pekat, hingga dia seolah bisa melihat pantulan dirinya sendiri yang tampak begitu lemah dan tidak bisa diandalkan. Alex mencengkram celananya dari bawah meja, lantas memandang lurus sang Nenek. “Adelia. Kita bawa dia kembali.”
Tak ada yang meragukan kemampuan si bungsu dalam mengendalikan opini publik. Setiap rumor dan celah yang ada bisa Adelia manfaatkan untuk memutar balikkan posisi keluarga mereka yang sedang dihakimi menjadi yang menghakimi. Permainan yang berkaitan dengan opini publik tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasaan seseorang, namun seberapa licik ia. Saat ini Alex tau benar orang yang memegang kendali opini publik masyarakat para konglomerat adalah Emi dan Januar. Itulah kenapa fokus komentar-komentar pedas yang bermunculan selalu berkaitan dengan keluarga Padma. Mereka jelas memanfaatkan opini-opini buruk ini, untuk membuat Padma lengah dan fokus memperbaiki nama baik sendiri. Sebelum akhirnya menyerang ke titik-titik vital yang bisa menggoyahkan bisnis keluarga mereka.
Dan Alex yakin sekali bahwa tidak ada satu pun yang cocok untuk menyelesaikan masalah ini. Selain Adelia.
“Memangnya Adelia sudah pulih total?” tanya Bagas memandangi sang keponakan. “Nak, Om tidak meragukan kepandaian adikmu dalam mengendalikan opini publik. Hanya saja, kita semua sepakat mengirimnya ke luar negeri agar dia bisa sepenuh fokus pada pemulihan—“
“Apa Om tau kalau apa yang tersebar sekarang adalah, Adelia sengaja dikirim ke luar negeri karena kita yaitu Padma sudah membuangnya karena tidak lagi dianggap berguna?”
Bagas terdiam. Dahinya mengernyit, jelas tidak tau akan hal itu. Wajar saja pria itu sebelas dua belas seperti Arkana. Dia hanya fokus akan segala tuntutan-tuntutan hukum yang bermunculan menyerang beberapa bisnis keluarga mereka. Jadi hal-hal seremeh opini publik seperti ini mana dia tau.
“Aku udah tau alasan, Oma, Om dan Tante memanggil aku dan Fedri ke sini. Jadi aku datang ke sini dengan sebuah rencana yang bisa menuntaskan kegelisahan kita semua. Mengurangi faktor-faktor yang memecah fokus kita akan masalah-masalah utama.” Alex melirik ke arah sang sepupu yang mengangguk. Setuju mengatakan rencana yang sudah mereka susun sebelum datang ke sini. “Namun, rencana ini hanya bisa berjalan kalau kalian setuju.”
Semua orang terdiam, ketiga tetua melirik ke arah Endang. Mengingat kalau perempuan itu sudah enggan duluan mendengar apa rencana yang diusulkan oleh dua pemegang kendali kepemimpinan Padma saat ini. Endang menurunkan tangannya yang sedari tadi menangkup cangkir, lantas menatap kedua cucunya tenang. “Apa itu?”
“Pertama, aku mau Adelia kembali dan meletakkan dia di posisi yang lebih strategis.”
***
Sudut bibir Andri terangkat, tak kuasa menahan diri mendengar perintah dari para tetua yang baru saja disampaikan oleh kakak sulungnya. Andri menatap tumpukan berkas berisi persiapan ia dan sang adik ke tanah air. “Kakak tenang aja, sebelum kamu kepikiran soal ini. Adelia sudah lebih dulu memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia jauh lebih siap dari apa yang kamu dan lain kira, untuk kembali bergabung ke permainan ini.”
Balasan dari sang kakak di ujung telpon sana, membuat Andri terkekeh. Lantas memutuskan panggilan. Menatap pemandangan kota Zurich yang tampak dari jendelanya. Dahinya lantas mengernyit kala menyadari ada seseorang yang sedang mengendap-endap menuju pintu utama. Tidak sadar bahwa gaya berjalannya itu, membuat dia begitu mencolok di tengah mansion besar tersebut.
Mansion keluarga Padma di Zurich, bisa dibilang adalah satu dari beberapa properti tertua yang mereka miliki. Tempat itu dibeli oleh Tyaga Padmana, pendiri sekaligus pemimpin pertama keluarga sebagai tempat untuk berbulan madu. Bangunan megah itu, dibelinya dari salah seorang bangsawan Inggris yang sedang mengalami kebangkrutan. Membelinya dalam harga yang cukup murah, namun kini bernilai milyaran dolar. Satu dari sekian banyak properti keluarga yang harganya selangit.
Dulu Adelia hanya pernah mendengar kemegahan mansion ini dari cerita-cerita para tetua saja. Secara tempat ini biasanya dihuni untuk keluarganya yang berniat berbulan madu di Eropa sebagai tempat untuk tinggal sementara. Namun, seiring semakin banyak properti keluarga yang dimiliki. Tidak banyak keluarganya yang berminat untuk tinggal di sana lagi. Bahkan Fedri lebih memilih pergi ke Harbin untuk berbulan madu, membuat tidak ada satu pun generasi ke-4 Padma yang pernah menginjakkan kaki di mansion ini. Sampai Adelia dan Andri datang ke tempat ini.
Siapa sangka Adelia justru tinggal di mansion megah ini selama hampir satu tahun penuh.
"Kamu mau kemana?"
Adelia tersentak, tertangkap basah mengendap-ngendap untuk keluar dari mansion. Ia menelah ludah, lantas berbalik menemukan Andri sudah menatapnya lurus dengan tangan menyilang. Matanya mulai memperhatikan penampilan sang adik dari atas hingga bawah. Sweater berwarna merah dengan rok panjang kotak-kotak, serta topi baret berwarna senada. Pakaian yang terlalu rapi untuk digunakan oleh seseorang yang hanya menghabiskan hari di rumah.
"Ada pasar rakyat 10 menit dari mansion. Saya mau ajak Adelia untuk ke sana Mas." Jawaban itu justru datang dari Rafi yang memasang ekspresi datar. Muncul entah dari mana, mengenakan pakaian hitam berpadu abu-abu. Pakaiannya jelas jauh lebih tebal dari apa yang dikenakan Adelia, mengingat laki-laki itu lebih tidak terbiasa akan cuaca Zurich yang jauh dari kata hangat jika dibandingkan dengan para penghuni mansion lainnya.
"Setahun aku tinggal di sini Mas, tapi nggak pernah keliling-"
"Kamu pergi ke Budapest beberapa bulan lalu."
Helaan napas berat keluar dari celah bibir Adelia. "Ya tapi itu waktu aku masih di kursi roda kan? Sekarang aku udah bisa jalan lagi Mas. Aku mau keliling."
Tau kalau Adelia sedang berperilaku keras kepala, Andri memijat dahinya. Melirik jam di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul 6 sore, tapi di luar sana masih terang benderang. Ia terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangguk. "Kalau kamu berniat pergi dengan berjalan kaki, hanya ke sekitaran pasar itu saja. Tapi kalau kamu mau pergi lebih jauh, bawa mobil. Jangan paksain kaki kamu."
"Oke, kalau gitu aku pergi ya Mas."
Tanpa menunggu lagi, Adelia bergegas keluar. Diikuti oleh Rafi yang setia menemani perempuan itu kemanapun. Tak ingin kecolongan untuk kali ke sekian. Namun, apa yang menjadi keresahan Andri bukanlah keamanan Adelia saja. Pesan yang diberikan Alex beberapa saat lalu lah yang menjadi kekhawatirannya. Alasan terbesar ia memilih Swiss sebagai negara pelarian sementara sang adik untuk memulihkan diri adalah tak banyak orang tau bahwa Padma memiliki properti disini. Ukurannya yang luas dan diisi oleh pekerja yang berdedikasi penuh pada keluarga, membuat tempat ini bisa menutup rapat perkembangan kesehatan Adelia. Informasi yang jelas sangat dinantikan oleh para keluarga kalangan atas di tanah airnya saat ini.
Masalahnya persiapan menjelang kembalinya sang adik sudah mulai dilakukan. Itu berarti kabar tersebut juga sudah mulai sayup-sayup terdengar di kalangan sosialita. Di luar sana, pasti banyak 'mata' yang mencari dan menunggu hingga Adelia muncul di ruang publik. Hendak menyaksikan sebesar apa perubahan Adelia hingga sudah siap kembali hanya setelah satu tahun lebih berlalu. Andri menghela napas, lantas memutuskan kembali ke ruang kerja. Berharap keputusannya barusan tidak akan berakibat fatal akan rencana keluarga mereka.