Bagian 10 - Kandung

1027 Kata
Happy Reading Dengan perlahan, Mama Pari memindahkan kepala Teja dari pangkuan ke bantal. Ya, Teja baru saja tertidur di pangkuannya. Mama Pari menarik selimut dan menutupi tubuh Teja sampaidadaa. Dikecupnya dalam dahi Teja yang ternyata adalah putri kandungnya. Ketika ingin melangkah, tangan Mama Pari ditahan Teja. "Jangan pergi." ucap Teja lirih dan mulai membuka matanya. Mama Pari membiarkan dirinya duduk di samping Teja yang terbaring. Ia mengusap rambut depan Teja. "Saya disini. Kamu tidur lagi, ya?" "Boleh peluk?" tanya Teja balik sambil menyodorkan kedua tangannya. "Dengan senang hati." balas Mama Pari tersenyum kecil, lalu membawa Teja ke pelukannya. Keduanya hening dan saling merasakan kehangatan yang menjalar ditubuh masing-masing. "Maaf." ucap Teja sesaat menghilangkan kesunyian. "Untuk apa, hem?" "Segalanya." "Kamu nggak pernah salah." "Mama-" "Mama?" beo Mama Pari merasa bingung. "Teja sayang Mama." ucapnya makin mengeratkan pelukannya. "Mama kamu akan tenang di alam sana. Kamu nggak perlu mengingatnya lagi." ucap Mama Pari membuat Teja langsung meneteskan air mata. "Bukan." Teja melepaskan pelukannya dan menatap sayu Mama Pari. "Terus?" "Kamu adalah Mamaku, Mamanya Teja." "Ada apa dengan kamu, hem? Apakah ada sesuatu yang-" "Teja mimpi." ucap Teja mulai menceritakan semuanya tanpa ditutupin sedikit pun. "Itu hanya mimpi. Gimana mungkin kamu bisa menyimpulkan semuanya dengan mudah? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau saya menculik kamu?" ucap Mama Pari merasa sedih, walaupun di hatinya merasa senang karena Teja pertama kali memanggilnya dengan sebutan Mama tanpa embel-embel Tante. Teja menggeleng lirih. Ia sedih ketika tahu cara bicara Mama Pari yang berubah menjadi formal. "Gimana dengan pesan yang dikirimnya? Pesan itu sama seperti di dalam mimpi Teja." Mama Pari memalingkan wajahnya. Ia tidak boleh lemah di hadapan Teja. Ia juga sedih ketika mendengar semua perkataan Teja tentang mimpinya yang begitu panjang. "Teja tau sudah melakukan kesalahan. Teja tau sudah menyakiti hati Mama. Apakah Mama nggak bisa maafkan Teja dan memanggap Teja sebagai anak Mama?" Mama Pari terdiam paku. Ia menurunkan pandangannya ke bawah dan melihat tangannya yang digenggam Teja. "Kalau Mama ragu, kita bisa melakukan tes DNA." "Jadi Teja adalah adik aku? Saudara kandung aku?" tanya Helshah belum percaya setelah membaca sebuah surat pernyataan. Papa Sachin tersenyum tipis, sedangkan Mama Pari menggenggam erat tangan Teja. "Awalnya Mama dan Papa sudah merasakan ikatan antara orang tua dan putrinya. Kami berdua merasakan ikatan itu hanya pada Teja." ucap Mama Pari menatap Teja lekat. "Beberapa hari yang lalu ketika Teja tidur disini, Mama tidak sengaja mendapatkan tangan Teja yang terluka. Mama mengambil sedikit darah Teja begitu juga dengan darah Mama dan Papa. Kami pergi ke rumah sakit dan melakukan tes DNA itu tanpa sepengetahuan kalian berdua." ucap Papa Sachin mengambil alih ucapan Mama Pari. "Tes DNA itu baru saja keluar tadi pagi. Kami ingin mengatakan semuanya pada Teja, tapi hal yang nggak terduga sudah terjadi." lanjut Papa Sachin menatap sayu Teja. "Maaf kalau Teja sudah membuat kalian khawatir, sedih, kecewa dan-," Teja langsung menutup matanya ketika Mama Pari membawanya ke dalam pelukan. Saat itu juga tangisan keduanya pecah. "Maaf, Ma. Teja sudah menyakiti Mama, hiks!" ucap Teja begitu pilu. "Mama sudah maafkan kamu." balas Mama lirih sambil mengelus punggung Teja. "Mulai sekarang kamu akan tinggal bersama kami. Jangan pernah jauh dari jangkauan kami. Kami nggak mau wanita ular itu mempengaruhi kamu untuk membenci kami." ucap Papa Sachin begitu lembut mengusap rambut Teja. Teja hanya mengangguk. Ia memang sudah tahu penyebab Sonia membenci keluarga ini. "Teja sayang Mama dan Papa." ucap Teja dengan tulus memeluk keduanya. "Lo nggak sayang sama gue? Gue kan Kakak lo sekarang." ucap Helshah merasa tersisihkan. "Lo bau. Mandi dulu sana!" balas Teja begitu ngeselin. "Lo mah gitu sama gue sekarang. Dulu aja nangis-nangis minta gue jadi Kakak lo." ucap Helshah mengungaib aib Teja. "Lo jangan ngadi-ngadi deh! Gue nggak pernah nangis-nangis minta lo jadi Kakak gue. Yang ada lo kali." ucap Teja membalikkan fakta. Helshah yang tak terima pun ingin membalas, tapi Mama dan Papa langsung mencegahnya. "Jangan bertengkar dong. Kan baru aja bersatu." ucap keduanya mulai pusing melihat pertengkaran saudara kandung itu. "Dari dulu kita memang udah bersatu ya kan Ja." ucap Helshah dengan senyuman lebarnya. "Benar banget. Makanya itu kita bosen kalau damai terus, maunya ada bertengkarnya gitu." balas Teja terkekeh geli. "Bisa aja, sih!" ucap Papa Sachin gemas pada keduanya. Pagi harinya... Seperti biasa tepat jam 7 Helshah sudah ada di sekolah. Hari ini ia pergi sendiri karena ponsel Varka tidak aktif ketika di telepon. "Hai, Sya! Lo pergi sendiri?" ucap Nikita bersamaan Helshah keluar dari mobil. Helshah mengangguk lesu dengan pandangan kosong menatap mobil Nikita yang terparkir di sebelah mobilnya. "Ada apa, hem? Semuanya lancar kan? Keluarga lo udah tau kan kalau Teja anak mereka?" Mendengar itu, Helshah mengangguk lagi tanpa mengalihkan pandangannya. "Terus? Kenapa lo nggak pergi sama Teja? Tejanya mana?" Helshah membuang napasnya kasar, ia menatap Nikita lekat. "Gue bingung dengan Varka. Sejak dia pulang dari rumah gue ponselnya mati. Lo tau nggak Varka di mana sekarang?" Nikita menggeleng. Mereka mulai melangkahkan kakinya menuju kampus. "Coba lo tanya sama sahabatnya Varka. Mana tau mereka bisa menjawab semua kegundahan lo." "Nanti deh gue coba nanya sama mereka." Setelah jam istirahat, ketiga gadis cantik itu langsung pergi ke kantin. Niatnya mau makan, namun bertemu dengan sahabatnya Varka. Tapi anehnya mereka berdua dan tidak seperti biasanya bertiga. "Kita samperin mereka." ujar Teja langsung menarik tangan keduanya. "Eh, cantik. Tumben gabung sama kita." ucap Namish dengan manisnya bicara sama Helshah. Teja yang mendengarnya hanya bisa mencibir. "Dasar buaya!" "Berdua?" tanya Helshah. "Berlima kok." balas Namish dengan tenang. "Kami tau kali kalau lagi berlima. Maksudnya Helshah itu kalian cuma berdua tadi? Biasanya kan bertiga sama Varka ke kantin. Gitu!" balas Teja dengan sewot. "Sjelekdong jelek. Ngegas banget. Gue dengar kali lo bilang apa." ucap Namish tak kalah sewotnya. Teja yang mendengar Namish mejelektnya jelek pun tak terima. Ia ingin membalasnya, namun Nikita langsung menggenggam tangannya. "Udah, tenang." bisik Nikita pada Teja. "Sejak tadi kami memang berdua. Ada apa Sya?" ucap Zain setelah menyeruput minumannya. "Kalian tau nggak kenapa ponsel Varka mati?" tanya Helshah membuat kedua cowok itu saling menatap. To Be Continued... 1044 kata Udah lama rasanya gak buka nih lapak Gimana? Ada yg kangen gak? Kalian kangennya sama author atau mereka? Cus dikomen Say next sebanyak2 nya! Kiss Jauh linar_jha2
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN