Sepuluh tahun silam untuk pertama kalinya aku bertemu gadis sederhana bernama Adiva Dania Khanza. Gadis itu tidak cantik dan juga tidak jelek. Dia standar sesuai dengan tinggi badannya yang hanya mencapai dadaku saja. Angun dan lemah lembut tidak ada dalam dirinya. Dia tomboy, ceplas-ceplos jika berbicara, dan tidak peka. Tapi entah mengapa dan dengan alasan apa hatiku terpedaya olehnya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu masa MOS atau Masa Orientasi Siswa di SMA A. Dahlan. Parahnya dia tidak pernah sadar sama sekali jika dia telah menjadi pusat duniaku sejak saat itu. Satu setengah tahun aku memperhatikannya diam-diam. Hingga pada akhirnya aku memiliki tekad untuk menunjukkan jati diriku bahwa akulah yang selama ini sering meletakkan secarik puisi dan bunga di laci mejanya.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


