7. Cinta Pandangan Pertama

2074 Kata
Sambil bersungut-sungut, Emily mengikuti langkah kaki mantap Jake menuju ke kandang kuda. Dari kejauhan, tempat itu terlihat begitu besar dan menakutkan meskipun Gram tampak ingin membuat tempat itu lebih ceria dengan cat warna abu-abu dan putih di kayunya. Namun, bagi Emily, tetap saja tempat itu terasa seperti sebuah penjara yang akan membuat hidupnya sengsara selama tiga bulan ke depan. Oh, adakah satu keajaiban saja yang bisa membawanya menghilang ke Ohio dan tidak pernah kembali lagi ke tempat ini? Sejak dirinya kecil, Emily tidak pernah menyukai peternakan ini walaupun kedua orangtuanya sering membawanya kemari saat liburan. Dulu, seperti anak-anak kecil lainnya, Emily juga selalu ingin memiliki kuda poninya sendiri. Hal itu terwujud ketika di ulang tahunnya yang ke tujuh, Devandra membelikannya sebuah kuda poni berwarna putih yang sangat cantik. Sayangnya, kebahagiaan Emily tidak berlangsung lama. Selang satu tahun kemudian, tepat di hari ulang tahunnya yang ke delapan, kuda itu mati karena terserang suatu penyakit. Saat itu Emily begitu sedih karena kehilangan kuda pertamanya. Kemudian, ayah dan ibunya membawa Emily ke tempat ini. Westfield Ranch memiliki begitu banyak kuda yang mereka harapkan bisa mengobati kesedihan Emily. Sayangnya, meskipun Emily memang menemukan begitu banyak kuda di sini, ia tidak menyukai Kate Westfield yang ketus dan tidak ramah itu. Wanita itu menetapkan banyak aturan ketika Emily berkunjung, melarangnya melakukan berbagai hal yang ingin Emily lakukan dengan kuda-kuda yang ditemuinya, dan yang paling menyebalkan, melarang Emily menaiki kuda pertama yang membuatnya jatuh cinta setelah kematian kuda poninya. Itu adalah kuda tercantik kedua yang pernah Emily lihat setelah kuda poninya. Kuda itu berusia delapan belas bulan, menurut Granpa, dan memiliki warna kulit coklat kemerahan dengan surai hitam yang tebal dan halus. Emily begitu menyukainya hingga ingin membawa kuda itu pulang bersamanya ke Cleveland. Namun, tentu saja keinginan itu tidak pernah terpenuhi. Jangankan membawanya pulang, menaikinya saja Emily tidak boleh. Sejak itu Emily menolak setiap kali orangtuanya mengajaknya kemari. Ia tidak menyukai Kate yang cerewet dan terlebih, Emily tidak ingin melihat kuda Morgan itu lagi. Emily tidak pernah lagi menginginkan seekor kuda setelah itu. Atau keinginan untuk menaikinya meskipun ayahnya pernah mendaftarkan Emily les naik kuda di usianya yang ke Sembilan. Emily menjalankan les itu dengan setengah hati dan menolak datang lagi setelah bulan ke dua. Lama kelamaan, Emily melupakan kesukaannya pada kuda dan sibuk dengan berbagai kegiatan baru. Ia sadar mungkin kuda dan kehidupan peternakan memang tidak pernah cocok dengan dirinya. Jika ia tidak sedang dihukum, Emily pasti akan kabur dari sini dengan mencuri truk milik pamannya. Akan tetapi, ia tidak bisa melakukannya sekarang karena Dad pasti akan semakin marah padanya jika ia sampai kabur. Emily tidak ingin membuat hubungan dengan orang tuanya renggang, apalagi hancur, hanya karena masalah ini. Ketika akhirnya Emily memasuki kandang besar dan terang itu, matanya langsung menangkap sosok yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta. Itu kuda yang sama dengan yang dulu. Emily ingat betul warna putih di bagian kepalanya. Ia melangkah tanpa berpikir ke kandang yang berada di paling ujung itu. Seolah mengenalinya, kuda itu meringkik pelan saat Emily mendekat dan tersenyum padanya. “Hei, kau masih di sini.” Dengan sedikit takut, Emily membelai kepala kuda itu yang kembali meringkik dan menggerakkan wajahnya lebih dekat lagi pada Emily. Dulu, kuda itu sudah besar di usianya yang sepuluh tahun. Sekarang ia terlihat lebih besar lagi, dan jauh lebih cantik dengan kulitnya yang terang itu. “Tampaknya Sunshine masih mengenalimu.” Suara Jake terdengar di sebelahnya, tetapi Emily tidak mengalihkan matanya dari kuda itu. Ia tersenyum. Dulu, nama kuda itu bukan Sunshine tetapi Dusty. Emily protes kepada kakeknya karena ia jauh lebih keren bagi kuda secantik itu jika diberi nama Sunshine alih-alih Dusty. Saat itu kakeknya hanya tertawa, tetapi Emily tidak menyangka jika Granpa benar-benar mengganti namanya. “Kate yang akhirnya mengganti namanya menjadi Sunshine seperti keinginanmu.” Kali ini, Emily menoleh pada pamannya dengan heran. “Gram? Aku hanya pernah memintanya pada Granpa seingatku.” Jake mengangguk. “Pop menceritakannya pada Mama dan ia berkeras agar Pop mengganti namanya karena kau yang memintanya. Yah, sejak itu kami memanggilnya Sunshine. Dan ia seolah tahu jika namanya memang Sunshine karena sejak hari pertama kami memanggilnya dengan nama itu, Sunshine langsung menoleh.” Kenapa Gram melakukannya? Bukankah wanita itu yang menolak mentah-mentah keinginan Emily saat itu untuk menaiki Sunshine dan membawanya pulang? Bukankah Gram yang jelas-jelas berkata jika kuda itu tidak cocok untuk Emily? “Kenapa Gram melakukannya?” Akhirnya Emily menyuarakan pertanyaan itu karena ia sama sekali tidak menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul di kepalanya. Jake hanya mengangkat bahu. “Jika kau sudah tidak marah lagi, Paman sarankan kau bicara berdua dengan nenekmu agar kau tahu alasan apa yang membuatnya menjadi seperti wanita yang selama ini kau benci.” “Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak menyukainya.” Jake terkekeh. “Yah, tidak suka masih jauh lebih baik daripada benci. Sekarang ayo ikut Paman. Kau benar-benar harus berhenti mengulur waktu dan mulai bekerja.” “Apa aku tidak akan memandikan Sunshine?” tanya Emily dengan penuh harap. Mungkin jika ia memandikan kuda yang disukainya, ia tidak akan terlalu tidak menyukai pekerjaannya. Sayangnya, impian Emily hancur lebur saat pamannya menggeleng. “Sunshine akan di bawa ke Duncan’s untuk pelatihan. Apa kau tahu jika dia adalah kuda tunggangan yang hebat? Kadang kami menyewakannya di liburan musim panas. Banyak yang menyukainya dan ingin membelinya dengan harga tinggi, tetapi Mama menolak untuk menjualnya.” Emily menggeleng lesu dan kembali menatap Sunshine. Kuda itu menyundulkan kepala seakan ingin Emily kembali menyentuhnya. Namun, Emily memilih untuk mundur dan tidak menyentuh Sunshine lagi. Ia hanya akan berada di sini selama tiga bulan dan Emily tidak boleh terlalu dekat dengan kuda itu. “Jadi kuda mana yang harus kumandikan?” tanya Emily dengan tidak bersemangat. Jake berbalik dan berjalan menjauh dari kandang Sunshine sementara Emily mengikutinya tanpa semangat. “Kau tahu apa saja tentang kuda?” tanya Jake saat mereka terus melangkah di antara kuda-kuda itu. “Aku tahu kaki mana yang bisa menendang,” jawab Emily pelan. “Aku tahu mereka harus diajak berbicara saat kita memandikan atau memberinya makan.” Jake terkekeh. “Kau pernah menaiki kuda lagi setelah usiamu sepuluh tahun?” Emily menggeleng meskipun Jake sedang memunggunginya dan memutuskan untuk tidak menyuarakan itu. Jake pasti tahu jawabannya karena semua orang tahu jika ia tidak naik kuda lagi setelah menolak untuk datang les. Jake membuka pintu besar yang mengarah ke tempat yang sepertinya untuk memandikan kuda itu. Mereka berhenti di depan lemari besar yang Emily tebak adalah tempat menyimpan peralatan kerjanya. Jake membuka lemari itu dan menemukan semua yang ia butuhkan untuk memandikan kuda. “Semua bisa kau temukan di sini. Sabun, shampoo, selang, ember, dan sikat.” Jake menunjukkan barang tersebut satu persatu seakan Emily tidak pernah melihat benda-benda seperti itu satu persatu. “Kau bisa memakai selang ini dengan memasangkannya pada kran air di situ.” Tangan Jake menunjuk bergantian. “Pencongkel kerikil tapal dan sikat kuku ada di rak paling atas.” “Aku harus membersihkan kaki dan kukunya juga??” tanya Emily sambil melotot. Biasanya, ia yang mendapatkan perawatan seperti itu di salon. Kenapa sekarang harus dirinya yang melakukan itu? Dan lebih buruknya, pada seekor kuda?? Sialan! Ini adalah sebuah penghinaan besar! “Aku tidak mau membersihkan kakinya!” ujar Emily dengan angkuh. “Kau tidak harus melakukan seperti yang kau terima di salon!” Jake meninggikan suaranya. Tampak kehilangan kesabaran pada Emily, tetapi beberapa saat kemudian, pria itu menarik napas dan kembali bersuara dengan wajar. “Dimandikan dan disikat saja mereka sudah senang. Kuda-kuda di sini sangat sabar, kau tidak akan mendengar mereka meringkik marah meskipun kau benar-benar tidak tahu cara memandikan kuda dengan benar.” Emily semakin cemberut. “Yang paling penting, mereka benar-benar harus dimandikan dengan bersih agar tidak terkena masalah kulit. Untuk yang lain-lainnya, kau bisa melakukannya pelan-pelan. Ayo, kita jemput kuda pertama yang harus kaumandikan.” Kuda pertama? Apa itu berarti akan ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya? “Nah ini Charlie, pelanggan pertamamu.” Jake berhenti di depan kandang kuda hitam yang sangat besar dan terlihat menyeramkan. “Halo, Tampan,” sapa Jake sambil membelai leher kuda hitam itu. “Hari ini kau akan dimandikan gadis cantik. Apa kau senang?” Sebagai jawaban, kuda itu meringkik dan menatap Emily. Emily menghela napas. Pamannya benar, meskipun tampak menyeramkan karena warnanya yang hitam kelam, Charlie memang tampan. Satu-satunya warna terang di tubuhnya hanyalah bercak putih di tulang hidungnya seperti miliki Sunshine, tetapi Charlie memang memiliki ketampanan yang luar biasa. Sulit rasanya untuk tidak menyukai kuda seperti Charlie dan juga Sunshine. Terlebih, Emily tahu jika di dalam sudut hatinya, ia selalu mencintai hewan-hewan besar itu. Jake membuka pintu kandang kemudian menyerahkan tali pengikatnya pada Emily. “Dia milikmu sekarang. Ingat, sikat dia dengan lembut dan pastikan kulitnya benar-benar bersih.” Selesai mengatakan itu, tanpa menunggu Emily membuka mulut, Jake meninggalkannya seorang diri dan pergi tanpa menoleh lagi. Emily mendesah. “Hai, Charlie. Aku Em. Hari ini tolong bersikap baik, okey? Aku tidak pernah memandikan seekor kudapun seumur hidupku.” Emily menuntun Charlie keluar kandang. Kuda itu berjalan dengan pelan di sampingnya, tidak terlihat melawan, dan tetap tenang saat Emily mengikat talinya di sebuah tiang. Setelah itu, Emily mengambil peralatan yang ia perlukan, kemudian mencari selang. Ia menatap keran di samping Charlie berdiri dan mulai memasang selang di mulut keran dengan tenaga penuh. Ini adalah pekerjaan fisik yang sama sekali baru baginya. Pekerjaan yang sama sekali tidak pernah Emily bayangkan akan pernah ia alami. Ia justru membayangkan berlibur di peternakan dengan menaiki kuda-kuda itu seperti seorang putri kerajaan dan bukannya pesuruh seperti ini. Emily menyalakan keran air dan mulai bekerja. Kuda adalah hewan yang sangat besar, dan memandikan mereka jelas membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum lagi kerikil yang harus ia cungkil dari tapalnya, juga kuku-kuku tebal yang mesti disikatnya itu. “Kau suka mandi? Kau tenang sekali,” kata Emily saat menyemprotkan sabun ke tubuh Charlie dan menggosoknya dengan pelan. “Ternyata sabunmu harum juga. Apa kau juga memakai krim kaki setelah kukumu di sikat?” Ia terus bicara sambil bekerja sambil sesekali ditimpali dengusan Charlie. Jika tidak ada manusia yang benar-benar bisa diajaknya bicara, mungkin kuda adalah pilihan yang jauh lebih tepat untuk menjadi temannya. Mereka tidak akan mencibir, atau mengucapkan kata-kata yang akan membuat Emily sakit hati saat mendengarnya. “Sebenarnya aku benci berada di sini,” kata Emily lagi saat ia menyikat sisi tubuh Charlie yang lain. Emily sengaja berlama-lama agar ia hanya perlu memandikan satu kuda saja. “Bagaimana Dad bisa sekejam itu terhadapku? Aku bukan lagi anak enam tahun. Aku sudah bebas pergi ke klub dan minum. Iya kan?” Lagi-lagi hanya dengusan pelan yang Emily terima dari Charlie. “Dan mereka meninggalkanku di sini seakan aku melakukan kejahatan besar. Tanpa ponsel, kartu kredit, dan bahkan uang! Astaga! Apa kau percaya itu, Charlie? Aku tidak memiliki uang sepeser pun di dompetku sekarang!” Dengan kesal, Emily menggosok kulit Charlie begitu keras hingga kuda itu meringkik dan sedikit bergeser dari tempatnya berdiri. “Maafkan aku. Aku terbawa emosiku.” Emily menepuk perut Charlie untuk meminta maaf dan kembali menyikatnya dengan lembut. “Kau tidak suka diperlakukan dengan kasar ya? Padahal kau kuda yang tampak menyeramkan awalnya.” “Apa Charlie masih lama?” Ia baru saja akan kembali menyalakan air saat suara maskulin itu membuat Emily terlonjak. Ia menoleh dan mendapati malaikat luar biasa tampan dalam balutan pakaian koboi sedang berdiri tidak jauh dari pintu kandang yang terbuka. Pria itu luar biasa tampan dengan kulit kecoklatan yang terbakar matahari. Kakinya yang jenjang terbalut celana denim warna biru pudar yang menempel ketat di kulitnya, hingga Emily bisa merasakan otot kuat pria itu meski hanya dengan menatapnya dari tempatnya berdiri sekarang. Koboi tersebut mengenakan kemeja warna hitam yang lengannya digulung hingga siku, dan kulit lengannya yang berkilauan itu terlihat begitu menggoda untuk disentuh. Dua kancing teratasnya terbuka hingga Emily bisa melihat bulu halus di balik kain yang menutup dadanya itu. Sekarang, Emily beralih ke wajah koboi yang rupawan itu. Rahangnya keras dan tegas dengan janggut-janggut halus yang menggoda untuk dicium. Tulang hidungnya begitu tinggi di atas bibirnya yang berlekuk sempurna. Pria ini pasti pencium yang sangat andal. Lalu, ketika Emily menatap sepasang mata tajam yang dinaungi sepasang alis tebal dan bulu mata lebat itu, jantung Emily berdetak dengan begitu kuat hingga ia merasa jantungnya akan meloncat keluar dari rongga tubuhnya. Seluruh tubuhnya berdenyut dengan sesuatu yang tidak pernah Emily rasakan sebelumnya, kulitnya memanas, dan Emily tahu dengan sangat pasti jika ia jatuh cinta pada pandangannya yang pertama dengan koboi asing itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN