Saat hendak naik ke kamarnya yang berada di lantai atas, Kalfi tidak sengaja melihat sang putri, Melodi tengah termenung sendiri di depan kaca jendela. Karena penasaran, ia pun menghampiri putrinya yang sepertinya sedang murung.
“Hei, putri Papa, apa yang sedang kau pikirkan? Kita ke Singapura bukankah untuk bersenang-senang, lantas mengapa putri Papa malah murung seperti ini?” tanya Kalfi dengan lembut sambil mengusap ujung kepala Melodi.
“Papa, bisakah Melodi mengajukan satu permintaan pada Papa? Tapi sepertinya Papa tidak akan mengabulkanya,” jawab Melodi dengan wajah yang kian sedih.
“Melodi,” panggil Kalfi yang kemudian menuntun sang putri untuk duduk di pangkuannya. Dengan hangat Kalfi memeluk putri satu-satunya itu dari belakang.
“Papa akan mengabulkan apapun yang kau minta, sayangku. Bukankah Papa sudah pernah berjanji akan hal itu? Katakan pada Papa, apa yang kau inginkan, My Princess?”
“Melodi ingin, di hari ulang tahunku nanti Papa mengundang DJ Celo. Papa bisa mengabulkannya bukan?”
Sekarang gantian Kalfi yang termenung. Dirinya tidak bisa membayangkan akan berada satu ruangan dengan wanita galak dan bermulut pedas itu hingga berjam-jam lamanya. Bisa-bisa dirinya mati lebih cepat dari jadwal.
“Papa! Papa akan mengabulkan permintaanku bukan?” tanya Melodi memastikan papanya bisa memenuhi keinginannya.
“Tentu saja, princess. Papa akan menghubunginya untuk menjadi tamu undangan sekaligus menjadi tamu yang paling istimewa di acara pesta ulang tahunmu,” jawab Kalfi yang terpaksa, karena dirinya tidak mungkin mengecewakan putri semata wayangnya.
“Syukurlah. Terima kasih, Papa. Papa memang papa terbaik di dunia. I love you, Papa,” papar Melodi seraya mencium pipi Kalfi dengan riang.
“Apa kau senang?”
“Tentu saja, Papa. Padahal Melodi tidak yakin Papa mau mengabulkannya karena sepertinya Papa tidak begitu menyukai DJ Celo,” jujur Melodi yang kembali sedikit murung.
“Papa akan selalu menyukai apa yang kau sukai, putriku,” balas Kalfi yang ingin selalu menyenangkan hati putri kecilnya.
“Kalau begitu, sebelum DJ Celo kembali ke Indonesia, bagaimana kalau Papa mengajaknya makan malam sekaligus mengundangnya ke acara ulang tahunku?”
“Memang kau tahu kapan DJ itu akan pulang ke Indonesia? Sedekat apa kalian?”
“Kami dekat, Papa. Sedekat Papa dan aku. Papa tunggu di sini ya, Melodi akan mengambil ponsel Papa di kamar. Setelah itu, Papa hubungi DJ Celo. Jangan ke nomor manajernya, tapi langsung ke orangnya. Karena Melodi tidak begitu menyukai manajernya,” cebik Melodi kemudian berlari ke arah kamar Papanya untuk mengambil ponselnya.
Setelah itu dirinya pergi ke kamarnya sendiri untuk mengambil kartu nama yang DJ itu berikan beberapa hari yang lalu.
“Ini, Papa,” kata Melodi seraya menyerahkan ponsel dan kartu nama DJ Celo. Kalfi menghela napas melihat sang putri begitu antusiasnya.
“Baiklah. Papa akan menghubunginya sekarang.” Kalfi menerima ponsel dan juga kartu yang berisikan nama dan juga nomor ponselnya. Menekan beberapa angka kemudian menunggu panggilan itu terhubung. Beberapa kali dirinya mencoba menghubungi, tapi tidak jua tersambung.
Hingga akhirnya setelah mencoba untuk kelima kalinya, akhirnya panggilan itu diangkat oleh sang DJ.
“Halo, siapa ini? Tidak bisakah kau bersabar? Aku sedang mandi tadi,” cecar suara wanita dari seberang. Kalfi tidak begitu terkejut karena memang seperti itu sifat asli seorang Celomita.
“Ekhem. Ini aku, Papanya Melodi. Apa kau ada waktu sebentar malam ini? Aku ingin mengundangmu makan malam bersama Melodi, jika kau tidak keberatan, Nona Celo,” ujar Kalfi yang berusaha ramah di depan sang putri.
“Aku tidak ada waktu. Aku harus mengejar pesawat nanti malam.”
“Aku akan mengganti tiket pesawatmu jika aku boleh memaksa. Ini demi Melodi. Karena aku akan sedih jika Melodi kecewa tidak bisa makan malam bersama dirimu.” Kalfi masih berpura-pura baik kepada Celo di depan putrinya.
“Tapi aku tidak suka makan malam denganmu,” balas suara wanita itu.
“Kau pikir aku suka?” bisik Kalfi takut putrinya mendengar.
“Dengar, jika kau tidak bisa datang makan malam bersama kami tidak mengapa, tapi Melodi akan sangat sedih jika tidak bisa makan malam denganmu. Dia terlalu menyukai dirimu. Jadi bisakah kau mengabulkan permintaan gadis kecil itu? Semua akan aku lakukan demi kebahagiaan putriku,”papar Kalfi panjang lebar.
“Baiklah, aku setuju. Kapan dan di mana?”
“Aku akan menjemputmu. Kirimkan saja alamat hotelmu ke nomor ponsel ini,” jelas Kalfi sedikit lega. Akhirnya dirinya bisa membuat putrinya senang.
Tanpa permisi, Celo mematikan panggilan itu. Sedikit kesal, tapi Kalfi mencoba bersikap tenang di depan putrinya.
“Bagaimana, Papa? DJ Celo setuju bukan?” tanya Melodi penuh harap.
“Seperti yang kau dengar,” kata Kalfi yang tentu saja mengembangkan senyuman di wajah cantik Melodi. “Sekarang ganti bajumu, kita makan malam bersama DJ kesayanganmu itu,” ajak Kalfi yang langsung membuat Melodi kegirangan.
“Terima kasih, Papa. Kau yang terbaik,” bangga Melodi kepada papanya. Gadis kecil itu segera berlari ke kamarnya kemudian memilih gaun terbaik untuk dipakainya makan malam bersama DJ Celo.
Pilihannya jatuh kepada gaun selutut dengan motif bunga yang sederhana tapi sangat cantik saat dipakai Melodi. Gaun berwarna kuning terang sangat cocok dengan warna kulitnya yang cerah.
“Apa kau sudah siap, princess?” Kalfi membuka pintu kamar putrinya dan terkejut sang putri terlihat begitu cantik dengan gaun sederhana itu.
“Sudah, Papa. Papa, Papa!” seru Melodi yang mendapati sang ayah malah melamun.
“Ah maafkan Papa, sayang. Kau menjadi sangat mirip Mama mu jika memakai gaun kuning itu. Mama mu juga sangat menyukai warna kuning,” cerita Kalfi yang kini merindukan mendiang sang istri.
“Apa aku membuatmu sedih, Papa?”
Kalfi menggeleng. Dirinya tentu tidak ingin membuat putrinya sedih jika melihat ia masih saja merindukan istrinya.
“Tentu saja tidak, sayang. Apa kau sudah selesai berdandan?”
“Ya, Papa,’ jawab Melodi mantap.
“Kalau begitu, mari kita menjemput DJ kesayanganmu itu,” seru Kalfi senang melihat putrinya juga nampak senang.
Sekitar setengah jam, akhirnya Kalfi menemukan hotel tempat Celomita menginap. Dirinya memarkirkan mobil di parkiran depan agar ia bisa melihat kedatangan wanita galak itu dari posisinya. Ia juga sudah mengiriminya pesan jika ia dan Melodi sudah sampai dan menunggunya di parkiran depan.
Tidak berapa lama, seorang wanita cantik itu muncul di pintu depan hotel menggunakan kacamata hitam dengan gaun yang juga berwarna kuning muda.
“Papa itu DJ Celo,” seru Melodi saat menyadari wanita itu ternyata adalah wanita yang mereka tunggu. “Cepat, Papa. Kita jemput dia,” pinta Melodi kepada papanya.
“Baiklah, baiklah,” jawab Kalfi yang sedikit ogah-ogahan sebenarnya. Dengan terpaksa akhirnya ia menyalakan mesin kemudian menuju tempat DJ itu menunggu.
Saat mobil berhenti, Melodi buru-buru membuka pintu mobil penumpang depan, kemudian turun. Dirinya bermaksud meminta agar DJ itu masuk dan duduk di kursi di dekat Papanya, tapi karena Celo tidak menyukai Kalfi, dengan santainya ia menutup pintu mobil depan dan masuk mengikuti Melodi yang duduk di bangku penumpang di belakang.
“Tante Celo, mengapa duduk di sini? Kau seharusnya duduk di depan,” tanya Melodi yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Tapi aku ingin duduk denganmu, cantik,” puji Celomita yang membuat Melodi senang. Setelah itu, Celomita melepas kacamata yang berguna untuk menyamarkan diri. Ia tidak ingin ada fans yang memotret mereka sedang makan malam karena tidak akan baik jika ada rumor yang tidak-tidak tentangnya.
Sedangkan Kalfi yang duduk di depan dan tidak sengaja melihat Celomita melepas kacamatanya, dibuat tidak percaya jika wanita itu benar-benar DJ Celo atau CEO Celo yang galak. Malah sekarang wajah wanita itu terlihat begitu cantik bahkan dengan balutan gaun kuning, membuatnya semakin mirip dengan mendiang istrinya.
“Papa! Ayo, jalankan mobilnya,” seru Melodi yang membuyarkan pikiran Kalfi.