Part 11 Celomita

1037 Kata
Akhirnya dengan air wastafel yang berada di dekatnya, Kalfi mencuci wajah dan berkumur-kumur beberapa kali. Membasahi rambutnya dengan sedikit air agar terlihat rapi. Setelah itu, dirinya kembali ke kamarnya. Aktifitas tiap hari Minggu tidak banyak yang ia lakukan. Hari libur benar-benar ia manfaatkan untuk istirahat demi menjaga kesehatannya. Biasanya setelah sarapan pukul sembilan ia dan sang putri akan pergi ke gym yang berada di teras belakang rumah atau berenang. Setelah membersihkan diri, Kalfi mengganti bajunya menggunakan kaos dan celana training yang nyaman. Olahraga di akhir pekan menjadi menu wajib untuk pasangan ayah dan anak itu. Jika ingin jalan-jalan maka harus pergi setelah mereka selesai berolah raga. Minimal satu jam mereka melakukan aktifitas membakar kalori tersebut. Kalfi melirik jam yang berada di atas nakas. Pukul sembilan kurang. Waktunya sarapan. Dirinya jadi sedikit tidak bersemangat karena ada si wanita sombong itu. Tapi mengingat ada sang putri yang pasti sedang menunggunya, akhirnya ia pun melangkah turun ke bawah untuk makan pagi bersama. Dan benar saja, di meja makan sudah ada sang putri dan Tante tercintanya. Mereka sedang mengobrol sangat seru dan bercanda dengan riangnya. Kalfi terkejut karena sang putri bukannya memakai kaos untuk berolah raga ia malah memakai gaun santai yang biasa ia pakai di rumah. "Melodi? Kamu tidak memakai kaos untuk kita berolah raga bersama tiap hari Minggu?" tanya Kalfi ingin tahu. "Aku tidak mau olah raga hari ini, Papa. Aku ingin bersama Tante Celo," jawab Melodi tanpa melihat ke arah Kalfi. "Tapi, Sayang. Itu sudah menjadi kebiasaan kita selama bertahun-tahun." "Tidak mau, Papa. Setelah sarapan kami akan belajar musik di studio Papa. Benarkan, Tante?" Celo mengangguk meski tidak mau melihat ke arah Kalfi. Padahal yang terjadi, dirinya tengah gugup. Pasalnya dirinya tidak sengaja melihat pantulan Kalfi dari lemari kaca di hadapannya. Duda itu terlihat begitu menggoda iman. Dengan kaos berlengan pendek yang sangat fit di tubuhnya yang ternyata sangat atletis. Ditambah rambutnya yang masih basah karena habis keramas. Wajahnya makin terlihat segar meski dari kejauhan. Belum sampai di dekat merekapun, aroma sampo dan sabun yang Kalfi gunakan menguar masuk ke indera penciumannya. Untuk beberapa detik, Celo terpana dan tergoda imannya. Iman untuk meyakini jika Kalfi bukan orang yang ramah dan baik hati. Ok, Celo. Sadar, batin Celo berusaha kembali ke keyakinannya yang semula, jika Kalfi adalah CEO yang angkuh. Kalfi tidak menjawab lagi tapi dengan wajah yang cemberut dirinya duduk kemudian sarapan dalam diam. Celo dalam hati sebenarnya tidak enak hati, tapi dirinya tidak mau ambil pusing karena itu bukan urusannya. Lagipula ide untuk belajar musik dicetuskan oleh Melodi sendiri dan bukan idenya. “Karena Papa udah dateng, mari kita sarapan, Tante,” ajak Melodi yang mengabaikan Papanya secara terang-terangan. Usai sarapan Melodi dan Celo tidak jadi bermain musik di studio karena tiba-tiba Melodi ingin menonton film yang sangat ingin ia tonton. Sebelumnya Melodi sudah berjanji dengan Kalfi akan menonton film itu bersama hari Minggu nanti. Tapi sepertinya Kalfi dilupakan oleh Melodi yang saat ini tengah senang bersama DJ kesayangannya. Duda kaya itu merasa dicampakkan oleh putri satu-satunya itu. Dari teras belakang, Kalfi bisa melihat jika Celo dan Melodi sangat menyukai menonton film itu melalui kaca jendela yang luas. Makin Melodi bahagia dengan Celo makin membuat Kalfi merasa ia dibuang. Ia mengerjakan aktifitas olahraganya dengan wajah yang tertekuk sepanjang dirinya berolah raga. Dari ruang keluarga, Celo bisa melihat jika Kalfi murung. Ia sebenarnya bisa saja tidak peduli. Hanya saja wajahnya yang seperti dicampakkan oleh cintanya itu, membuat dirinya sedikit terganggu. Ah, bukan urusannya. Dirinya hanya akan berkonsentrasi dengan Melodi saja. Chemistry atau apapun itu dirinya tidak peduli. Tapi meski berpikir seperti itu, pada akhirnya ia tidak tega. “Melodi, sayang. Kita nontonnya lain kali saja, OK? Lihat wajah Papamu seperti pakaian kusut yang belum disetrika. Tante jadi merasa tidak enak,” kata Celo sambil melihat ke arah Kalfi. Dirinya gugup saat tidak sengaja Kalfi juga balas menatap dirinya dengan tajam dari arah luar. Buru-buru Celo membuang muka takut dirinya ketahuan jika ia selalu menatap ke arah otot-ototnya yang sayang jika tidak dinikmati. Astaga, pikiran Celo mulai kemana-mana. Dirinya rasa karena lama tidak memiliki pasangan dirinya jadi berpikir yang tidak-tidak kepada Kalfi yang tidak disukainya sejak pandangan pertama. “Lalu kita mau melakukan apa, Tante?” tanya Melodi kemudian mematikan laar besar di hadapannya. “Kita bikin makan siang kesukaanmu saja? Kebetulan Tante suka masak, bagaimana?” “Tapi aku dilarang pergi ke dapur oleh Papa,” jelas Melodi manyun. “Kenapa?” “takut nanti jika aku bisa masak, aku akan dibawa pergi sama seseorang dan jauh dari Papa. Makanya aku tidak boleh ke dapur apalagi belajar memasak,” jelas Melodi dengan nada sedih. “Dibawa seseorang?” Celo berpikir sedikit keras untuk mengerti bahasa anak usia delapan tahun. “Itu lho, Tante. Kayak malam Minggu Tante pergi dibawa sama seseorang terus pulangnya malam-malam.” “Oh, pacar maksud kamu?” “Pacar itu apa, Tante?” tanya Melodi pura-pura bertanya. Padahal dirinya sudah tahu apa arti pacar. Celo gelagapan mendapat pertanyaan yang masih jauh dari umur Melodi untuk bisa ia mengerti. “Pacar itu-.” Kalimat Celo tiba-tiba disela oleh seseorang. “Apa yang akan kau ajarkan pada anakku? Kamu mau anakku cepat dewasa karena mendengar ocehanmu yang tidak jelas. Aturan pertama untuk bisa tinggal di rumah ini adalah jaga sikap dan perilakumu jika berada di sekitar Melodi. Apa kau paham, Nona Celomita?” Kalfi ternyata sudah berada tidak jauh dari tempat mereka duduk menikmati film. Belum lama ia berolah raga, namun keringatnya sudah membuat basah kening hingga seluruh tubuhnya. Celomita sempat tergagap karena duda itu tiba-tiba sudah berada di sana. “Itu, aku aku-.” “Melodi, Papa mau mandi. Bilang sama Bibi Murni, tolong buatkan Papa salad campur. Papa lapar lagi,” pesan Kalfi yang kemudian langsung naik ke atas tanpa mellihat ke arah Celomita. “Ok, Papa,” jawab Melodi tanpa melihat ke arah Papanya lagi. Lagi-lagi Celo melihatnya menjadi terganggu. Setlah Kalfi pergi, Melodi pun langsung beranjak ke dapur mencari Bi Murni. “Melodi mau kemana?” tanya Celo saat Melodi berjalan beberapa langkah. “Melodi mau mencari Bibi Murni. Biasanya Bibi Murni yang menyiapkan makanan buat Papa. Karena hanya Bibi yang tahu apa saja makanan yang tidak bisa dimakan oleh Papa. Papa punya banyak alergi makanan,” jelas Melodi seraya menghela napas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN