***
"Kalau gitu, gue sama Emma pamit dulu ya, Zev. Semoga cepet sembuh dan cepet bisa balik kerja lagi."
Dehaman Gezra menghentikan niat Vranda dan Emma untuk melangkah keluar. "Mulai hari ini, Zevia berhenti kerja di tempat lo, Vran," celetuk Gezra tanpa persetujuan. Vranda dan Emma pun hanya terdiam menatal Gezra dan Zevia bergantian.
Keputusan sepihak itu membuat Zevia langsung menatap sang suami heran. "Gez? Kok kamu ambil keputusan tanpa ngomong ke aku dulu, sih?"
Gezra mendesah pelan sebelum akhirnya memberi alasan. "Sayang, kamu, tuh, kecapekan karena kerja. Mending aku aja yang kerja, kamu fokus pemulihan kesehatan, ya. Lagipula, kamu juga masih bisa jadi penulis di rumah. Kayak si Emma, tuh."
Terlihat Vranda dan Emma mengangguk paham dengan alasan Gezra. Mereka mengerti perasaan seorang suami yang khawatir dengan kesehatan sang istri.
Meski sedikit kesal karena Gezra mengambil keputusan sepihak, Zevia tetap tak mampu membantah. Apalagi setelah mengalami keguguran yang disebabkan ketatnya kegiatan hingga kelelahan, Zevia harus menuruti perintah sang suami.
"Nggak masalah, sih. Zevia emang butuh istirahat total. Karena itu yang terpenting."
Zevia tersenyum mengangguki ucapan Vranda. Sebelum akhirnya kedua gadis itu tenggelam di balik pintu. Meninggalkan Zevia dan Gezra yang masih saling terdiam.
"Aku tahu ini bukan salah kamu karena sibuk kerja, Zev. Tapi ... bakal lebih baik kalau kamu di rumah untuk sementara. Nggak masalah, kan?"
Sang istri hanya mengangguk. Gezra pun melangkah mendekat. Ia mencondongman tubuhnya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening sang istri. "Maaf, ya. Karena aku, kita jadi gagal menyambut kehadiran buah hati."
Tangan kekar yang selalu memberinya kehangatan itu diraih oleh Zevia. Sebuah genggaman erat dibalas oleh Gezra. "Nggak usah nyalahin diri sendiri lagi. Aku yakin, Tuhan pasti kasih kita kepercayaan lagi kelak."
Gezra tersenyum lalu mencium punggung tangan Zevia dengan lembut. "Yang penting tiap malam usaha terus, kan?"
Ucapan itu mencetak rona merah di pipi Zevia dan melayangkan pukulan kecil kw pipi Gezra. "Nggak usah mikir aneh-aneh!"
"Aneh-aneh gimana? Nggak apa-apa, dong. Kan emang harus gitu. Usaha tiap malem."
"Ih! Gezra!"
Sikap malu-malu Zevia memang selalu berhasil membuat sejuta kupu-kupu berterbangan di perut Gezra.
Menggemaskan!
"Udah, ah. Nggak usah sok gemesin gitu. Ntar aku khilaf. Kamu, kan, lagi sakit."
"Ih! Udah, deh, Gez. Jangan godain aku terus!"
***
Menjadi seorang editor bukanlah pekerjaan yang mudah. Meng-handle beberapa cerita yang masuk dan melakukan hal lain yang telah menjadi kewajiban adalah lelah berkepanjangan yang harus ia hadapi. Beberapa tahun ia lewati menjadi seorang editor dan ia berusaha untuk menikmatinya. Apalagi, pikiran tentang seseorang yang tak kunjung menghilang.
Kehadiran sosok itu tak pernah hilang dari benak. Selalu saja ada hal yang membuatnya teringat dengan masa lalu. Gagal move on? Ya, begitulah notabene-nya sekarang.
"Len, nggak usah galau mulu. Sini ikut gue."
Perintah sang kepala membuat lamunannya tersadar. Sebenarnya bukan kegalauan, ia hanya merindukan seseorang.
Tanpa banyaK bertanya, ia membawa sebuah laptop yang berisi data-data penting dan mengikuti langkah seorang lelaki bertubuh tinggi tegap dengan porsi yang sewajarnya.
"Bos, kita mau ngapain?" Alhasil pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Saat sang kepala mengajaknya keluar perusahaan. Bukan ke ruang meeting atau ruang kepala editor.
"Mau ngopi santai. Emangnya lo nggak bosen kerja terus?"
Sontak ia pun menghentikan langkah. Seolah paham jika sinyal keberadaan sang anak buah terhenti mengikutinya, sang kepala pun ikut berhenti dan memitar balik tubuhnya. Menatap seorang gadis yang memeluk laptop.
"Kenapa berhenti? Ikut, nggak?"
"Lah? Saya pikir kita mau meeting. Hari ini banyak naskah masuk, Bos. Jangan santai-santai."
Sosok yang dipanggil 'Bos' hanya terkekeh pelan dan memijit tulang hidungnya. Seolah sudah menyangka jika jawaban itu akan terlontar dari mulutnya.
"Valen ... Valen ... gue tau kalau lo kerja cuma buat pelarian, kan?"
Ia—Valen—hanya diam membisu. Tebakan sang kepala memang tepat sasaran. Namun, bukan Valen namanya kalau gengsinya tidak setinggi gedung pencakar langit.
"Sok tahu, deh. Udah, ah. Saya mau balik kerja aja. Daripada ngikutin Bos yang nggak ada kerjaan."
Setelah melempar kalimat singgungan penuh penekanan, Valen pun berniat kembali masuk. Meski hal itu gagal karena lengannya diraih oleh sang kepala hingga mengikuti si Bos masuk ke sebuah mobil.
"Bos! Lepasin saya!"
"Ikut aja. Nggak usah bantah."
***
Seperti biasa, bosnya pasti akan berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari perusahaan. Kemudian memesan Americano yang pahit seperti kisah cinta sang bos. Menyedihkan.
"Bos, kenapa selalu pesen Americano, sih? Udah tau hidup Bos udah pahit. Masih aja suka konsumsi yang pahit-pahit."
Ucapan Valen berhasil membuat sosok yang dipanggil Bos itu melayangkan jitakan kecil di pucuk kepala Valen. Membuat gadis itu merintih pelan.
"Pertama, kita lagi di luar tempat kerja. Jadi, jangan panggil gue dengan sebutan Bos. Kedua, hidup gue nggak sepahit kenangan lo sama mantan. Jadi, wajar aja kalau gue masih suka konsumsi yang pahit-pahit."
"Cih," decih Valen mendengar pernyataan kedua dari Dileon—Bosnya. "Kenangan gue sama mantan nggak sepahit yang lo sangka tau."
Dileon menarik sebelah sudut bibirnya—mengejek. "Yakin?"
"Yakin."
"Gue nggak yakin."
"Ya udah, gue nggak peduli juga."
Dileon terkekeh melihat gadis yang duduk di depannya itu memasang wajah jengkel. "Gue yakinnya itu, lo masih suka tapi lo munafik."
"Stop it. Nggak usah ikut campur masalah hati gue, please."
"Gue cuma kasih saran. Kalau masih sayang, kenapa nggak dilanjutin?"
Valen mendengus pelan. Belum sampai ia kembali membantah, sang waiter datang membawa pesanan. Americano dan Vanilla Latte.
"Americano dan Vanilla latte. Selamat menikmati."
***
Mentari telah beristirahat. Tugasnya tergantikan oleh sang rembulan. Bersama ribuan bintang, rembulan menunjukkan kewibaannya lewat sinar yang terang.
Bak di rumah sendiri, Gezra membawa proyektor dan membuat bioskop kecil di ruang VVIP untuk sang istri. Seperti biasa, mereka menonton berbagai macam film. Dengan berbagai genre hingga atmosfer. Hal itu mampu membuat kebosanan seorang Zevia sedikit demi sedikit terlupakan.
Sudah film ketiga yang merwka putar dan hampir mencapai titik akhir cerita, Gezra merasa bahwa Zevia terlelap dalam dekapannya. Untung saja ukuran katil ruang VVIP bisa dimuati dua orang. Sehingga ia bisa menjadi guling Zevia agar merasa lebih nyaman. Sebab, ia paham. Tidur sendirian di katil rumah sakit akan membawa sugesti buruk hingga membuat kesehatan sulit memulih.
Gezra menekan tombol pause. Ia menarik Zevia agar lebih dekat dan menghapus jarak yang memberi ruang hawa dingin untuk masuk. Sesekali ia mengecup kening sang istri yang sudah terlelap dengan sempurna. Berharap bahwa ia takkan lagi mengecewakan sosok yang berada dalam dekapan.
"Percaya sama gue, Zev. Lo segalanya buat gue. Lo kebahagiaan yang nggak akan pernah gue lepasin lagi."
Drrttt
Getar ponsel yang tersimpan di atas meja sebelah katil Zevia membuat Gezra bersusah payah meraihnya. Namun, setelah berhasil mendapatkan ponsel dan melihat sang pengirim pesan, Gezra kembali muram.
*+62 831-xxxx-xxxx : Gez, coba lihat keluar*
*+62 831-xxxx-xxxx : Bulannya indah. Aku jadi keinget malam di Fun Fair dulu*
Tanpa ada niat membalas, Gezra mematikan ponsel dan berusaha menyingkirkan kenangan yang sedang berusaha untuk digali kembali.
"Sampai kapan lo kayak gini, Ra? Empat tahun berlalu, tapi lo masih menyimpan rasa itu?" monolognya pelan. Ia makin mengeratkan dekapannya pada Zevia. Seolah takut jika takdir kembali mempermainkan hubungan mereka dalam jerat salah paham.
***
"Dil, udah malem, nih. Balik ke kantor, yuk."
Dileon menyeruput Americano yang mulai menipis. Kemudian mengangguk sekilas dan bangkit dari kursi. "Gue ke toilet dulu. Kalau lo mau duluan ke mobil, duluan aja. Kuncinya udah gue buka."
Anggukan menjadi jawaban Valen. Setelah Dileon bergegas ke toilet, seorang pengunjung baru saja masuk ke dalam kafe.
GREP
Tanpa Valen sangka, seseorang memeluknya dari belakang. Posisinya yang baru saja bangkit sambil memelum laptop pun terkejut bukan main. Matanya membulat total. Bukan ketakutan yang menjalar, melainkan rasa sakit yang tercipta dari masa lalu kembali menggelantung.
Kafe yang tak terlalu ramai pengunjung seolah tak ada arti apa-apa bagi Valen. Karena kehampaan mendadak memenuhi otaknya dan semua sendinya linu pilu tak mampu digerakkan.
"Gue nggak akan pernah berhenti buat dapetin lo lagi, Val."
Valen menahan setiap air mata yang berusaha untuk lolos. Saat semua kesadaran kembali memusat, Valen menghentakkan pelukan itu dan menunduk.
"Usaha lo hanya berbuah sia-sia. Mulai sekarang, jangan pernah ganggu gue lagi."
Valen berbalik dan langsung berjalan cepat keluar kafe. Meski begitu, ia merasa bahwa sosok itu tak pernah berhenti mengejarnya. Walau sudah ribuan kali ia menolak dan empat tahun telah berlalu, sosok itu tetal setia berusaha meraih kembali hatinya.
"Val, please."
Sebuah tangan kekar kembali menahan lengan Valen. Menghentikan langkah gadis itu dan menahannya untuk sesaat. Meski setelah itu, Valen kembali menyeka dengan kasar.
"Ansel, mau sampai kapan? Mau sampai kapan lo buang-buang waktu buat ngejar cewek yang nggak akan pernah buka hati lagi buat lo?"
Sosok itu—Ansel—hanya membisu. Kedua matanya memancarkan keputusasaan setelah mendengar kalimat yang terlontar. Selama empat tahun ia berjuang, baru kali ini gadis yang ia perjuangkan menyatakan bahwa usahanya akan sia-sia. Namun, meski putus asa melayang-layang menghantui, ia tetap tak berhenti melanjutkan usahanya.
"Len?"
Suara seseorang yang menggema dari belakang, membuat Ansel dan Valen menoleh bersamaan.
"Ini siapa?"
Valen terdiam sejenak sambil menatap Ansel sekilas. "Bukan siapa-siapa. Ayo kita pulang. Aku udah capek."
Niat hati ingin segera masuk ke mobil, Ansel kembali mencegahnya. Menahan lengan Valen dengan sedikit unsur pemaksaan. Membuat sang empu merintih pelan. "Dia siapa, Val? Apa lo bener-bener udah lupain semua kenangan kita?"
Valen berusaha melepas genggaman tangan Ansel yang mulai menyakitkan. Namun, aksi pemberontakan Valen tak diindahkan oleh Ansel. Hal itu menyulut keterlibatan orang lain di antara keduanya.
"Lepasin Valen. Cowok nggak akan pernah tega nyakitin cewek yang dia cinta."
Dileon menepis tangan Ansel dengan sedikit kasar hingga terlepas dari lengan Valen. Hal itu jelas memicu percikan sengit antar keduanya. Tatapan yang saling beradu kesal tertaut intens. Seolah ada gertakan yang akan terjadi setelah itu.
Valen menyadari adanya suasana yang menegang, ia pun segera mengambil langkah aman dan memisahkan keduanya. "Dil, kita pulang. Nggak usah tanggepin dia." Ia pun menarik lengan Dileon dan menghapus atmosfer menegang yang tercipta.
Setelah mobil yang mereka tumpangi melaju pergi, Ansel mengeraskan rahang dan mengepal erat. "Apa dia yang bikin lo lupain kenangan kita, Val?"
"Pak, kita harus segera kembali ke kantor." Kehadiran seorang wanita berstatus senagai sekretaris barunya itu membuat kekesalannya mereda. Bagaimanapun juga, wibawanya sebagai seorang CEO perusahaan ternama harus tetap terjaga.
"Klien sudah pulang?"
"Sudah, Pak. Saya sudah mengakhiri meeting kita hari ini," balas sang sekretaris dengan terus menatap lurus ke arah bos yang masih memaku diam di tempat. Sebuah mobil yang telah tertelan fatamorgana adalah hal yang telah menjadi pusat perhatian sang bos. "Apa dia datang lagi, Pak?"
Ansel melempar tatapan ke arah sang sekretaris. Membuat sekretaris itu menunduk seketika.
"Ma—maaf, kalau saya ingin tahu, Pak."
"Iya, dia datang lagi. Kali ini membawa luka yang terdalam."
***