Merekapun tiba di sebuah Cafe sederhana.
Emma dan Nyonya Green berjalan beriringan disusul dengan yang lainnya.
Emma duduk di sebelah sarah. Dan berhadapan langsung dengan Violet dan Jason yang duduk beriringan.
Ia bisa melihat tatapan mesra yang keluar dari sorot mata keduanya. Bahkan Violet tersenyum sangat manis saat Jason menjahilinya. Emma merasa sangat tidak senang.
"Semuanya, malam ini adalah malah terahir Evan bersama dengan kita, esok ia akan mengundurkan diri dan tidak lagi bekerja bersama kita. Aku harap kalian bersenang senang untuknya malam ini." Interupsi Nyonya Green.
Semua mata memandang dan fokus ke arah Nyonya Green. Tak terkecuali Emma dan Juga Sarah.
Pria yang berada di sebelahnya tampak tersenyum sambil memandang ke arah semua orang.
Ia adalah Evan yang dikatakan oleh Nyonya Green tadi.
"Semuanya, aku harap kalian menikmati makanannya. Ini akan menjadi malam terakhirku berada di asrama," ucap Evan.
"Meskipun aku tidak mengenalmu, tapi aku harap kau mendapat pekerjaan yang lebih baik nantinya," ucap Emma.
"Trimakasih, maaf aku tidak menyapamu saat kau baru bekerja, aku sangat pusing karena beberapa masalah," ucap Evan.
"Tidak masalah, untungnya aku datang malam ini, aku tidak tau jika kau akan mengundurkan diri besok," lanjut Emma.
"Kau bahkan tidak memberi tahuku," ucap Sarah, ia sendiri juga agak terkejut dengan keputusan Evan.
"Aku memang tidak ingin memberitahukan pada banyak orang, berhubung kalian datang pada saat yang kebetulan, aku tidak punya pilihan selain mengajak kalian," ucap Evan.
"Ayo kita pesan, jangan hanya berbicara saja," interupsi Jason. Ia sudah lebih dulu melihat lihat buku menu bersama Violet.
"Kau mau makan apa?" tanya Emma pada sarah.
"Terserah saja, aku tidak ingin makan sebetulnya," jawab sarah sedikit merendahkan suaranya.
"Baiklah kalau begitu," Emma kemudian memesan dua makanan ringan untuk mereka. Ia tidak enak jika harus menghabiskan beberapa dolar milik Evan, apalagi mereka tidak terlalu akrab.
Jason dan Violet masing masing memesan hidangan yang mereka sukai, sementara Nyonya Green lebih memilih memesan minuman dan makanan hijau.
Evan sendiri memilih menu sederhana.
Setelah memesan, Evan berbincang dengan Jason karena mereka berasal dari kota yang sama. Sementara Violet berbicara dengan Sarah, sambil menunggu hidangan mereka datang.
"Kak Sarah, kenapa kau ingin menginap hari ini?" tanya Violet penasaran.
"Aku mendengar cerita hantu dari kak daniel jadi aku hanya penasaran." Ucap Emma jujur.
Ia memang hanya berniat melihat penampakan supranatural, meskipun alasannya sedikit konyol, namun memang itulah kenyataannya.
"Ya ampun, memang benar ada hal hal seperti itu, namun aku sendiri belum pernah melihat secara langsung, hanya saja aku mendengar suara kursi bergeser setiap jam tiga atau jam empat pagi," jawab Violet menanggapi.
"Aku sangat penasaran," jawab Emma.
Mereka pun mulai larut dengan pembicaraan masing-masing, hingga makanan yang mereka tunggu tiba.
Mereka pun mulai menikmati makanan mereka.
Jason dan Violet tampak saling menyuapi satu sama lain, membuat Emma sedikit risih. Pasangan itu benar benar membuatnya muak.
Namun ia tidak langsung mengeluarkan isi hatinya begitu saja. Dan hanya menyindir secara verbal.
"Jason, jangan menggoda Violet terus. Kau bisa makan sendiri," ucap Emma dengan nada bercanda.
"Dia yang menyuapiku, aku bisa apa," ucap Jason membela diri.
Emma benar benar kehabisan kata-kata. Ia benar-benar merasa jika Jason tidak tau malu.
Emma mengabaikan mereka dan memilih makan makanan miliknya sendiri.
Setelah makan, mereka pergi ke sebuah taman dan berfoto bersama. Disana Violet juga masih menempel pada Jason.
Sampai akhirnya mereka kembali ke asrama. Emma masih merasa sedikit jengkel, jadi ia tidur di ruangan pria karena lebih luas dan lebih terang. Lagi pula hanya Jason dan Evan yang tidur disana. Tidak masalah jika ia mengambil satu kasur lantai untuk dirinya sendiri.
"Emma kenapa kau tidur diluar?" tanya Nyonya Green saat melihat Emma memasang tempat tidur di luar pintu kamar perempuan.
"Tidak apa apa Nyonya Green, aku hanya tidak suka tidur dengan kipas angin yang menyala, aku gampang masuk angin," ucap Emma. Ia tidak berbohong, ia memang tidak suka tidur dengan kipas angin yang menyala.
Nyonya Green akhirnya membiarkannya saja, sementara Sarah,Violet dan Nyonya Green tidur di dalam asrama perempuan, Emma sendirian tidur diluar pintu asrama. Ia tidak keberatan sama sekali.
Emma sangat lelah, dan memutuskan mematikan lampu kemudian segera tidur, baru beberapa menit Emma memejamkan mata. Ia dikejutkan dengan Jason yang sudah tidur di sebelahnya tanpa rasa bersalah.
"Sedang apa kau disini?" tanya Emma jengkel. Ia sangat tidak senang dengan kehadiran pria menjijikan itu.
"Tentu saja tidur," jawab Jason agak pelan, ia tidak ingin membangunkan orang orang di asrama perempuan.
Emma justru sebaliknya, ia malah mengeraskan suaranya dan pergi ke tempat lain.
"Terserah, kalau kau tidak mau menyingkir, maka aku yang pergi!" ucap Emma jengah. Ia kira Jason tidak akan mengikutinya karena disana juga terdapat Evan yang sudah tertidur pulas.
Tak disangka Jason kembali mengikutinya dan tidur lagi di sebelahnya.
Emma kehabisan kata kata. Ia ingin menendang Jason tapi ia bukan tandingan Jason, pria itu pandai bela diri, dan Emma bukan siapa siapa hanya seorang gadis biasa.
Karna kesal Emma menarik kasurnya ke arah balkon yang sangat luas, ia membentangkan kasur lantainya dan memilih tidur di luar ruangan sambil menatap langit yang penuh dengan bintang.
Baru saja ia akan memejamkan mata, Jason sudah datang mengganggunya lagi, bahkan ia juga membawa kasur lantainya keluar dan membentangkannya disebelah kasur Emma.
Emma benar benar sangat jengkel, betapa tidak tau malunya pria itu. Tadi ia bermesraan dan bercanda dengan Violet seperti sepasang kekasih, namun sekarang ia malah seperti lintah yang menempel kemanapun ia pergi.
Emma sudah lelah, dan membiarkan Jason tidur di sebelahnya. Lagipula Jason menggunakan kasur lain dan tidak tidur di kasur yang sama dengan dirinya.
Ke esokan harinya Emma terbangun dan mendapati Jason yang masih tidur di sebelahnya.
Emma memilih mengabaikan pria itu dan segera turun untuk mandi. Sebelum bersiap siap untuk langsung bekerja.
Emma merasa jika ia tinggal di asrama itu sangat meringankan pekerjaannya. Ia tidak perlu berjalan untuk sampai ke tempat kerja, ia juga tidak perlu memikirkan tentang makanan karena disana ia bisa memakan makanan restoran.
Emma mulai menimbang nimbang, apa ia tinggal disana saja. Namun masalah utamanya ada pada Jason, pria itu sungguh tidak tau malu. Emma merasa bingung, bagaimana menyingkirkan Jason. Ia tidak mungkin menyuruhnya menjauh begitu saja, karena akan sangat canggung nantinya.