Satu hal yang disadari Lyara saat ini adalah ia tidak bisa kabur. Satu hal lagi adalah mulutnya memang pembawa bencana. Setelah berbicara dengan sembarangan dan membalas ocehan Dinda, mulutnya juga dengan sadar membawanya pada bibir itu. Padahal kemarin Raja baru saja bilang kalau ia tidak akan menciumnya lagi. Sekarang siapa yang mendatanginya untuk mencium? Terkutuk memang sebuah taruhan itu! Lyara merasa tidak punya muka di hadapan dua lelaki di depannya. Ia memalingkan wajahnya, menahan semburat merah di kedua pipinya. Sedangkan Raja hanya terkekeh pelan dan Genta duduk dengan kikuk, tapi mencuri pandang pada Lyara dengan kerlingan menggoda. Canggung sekali situasi ini! Dinda sendiri sudah pergi saat tangan Raja terangkat dan melepas kacamatanya. Lalu berlanjut dengan tangan kana

