“Ini gimana turunnya? Lagian, ngapain ke sini?” tanya Elvina bingung, ia mencari cara untuk turun dari punggung kuda yang sangat tinggi. Tanpa adanya sebuah pijakan yang bisa ia jadikan alat untuk turun seperti di tempat kuda tadi, membuatnya sangat kesulitan. “Tinggal turun aja astaga,” cibir William yang sudah turun lebih dulu dengan cara melompat. “Lompat nih? Serius? Aduh .... ” Mendadak Elvina tegang sendiri karena takut untuk turun dengan cara melompat. “Kalo jatuh juga ke bawah Vin, bukan ke atas. Kalau ke atas baru panik, gak ada warteg soalnya,” celetuk William enteng, lalu membalikkan badannya seakan-akan ia akan pergi meninggalkan Elvina yang masih bingung untuk turun. Dan benar saja, pria itu terus melangkah menjauhi Elvina hingga Elvina benar-benar merasa panik. “Heh,

