2

1186 Kata
2 Mobil jaguar F PACE berwarna hitam mengilap milik Harvey berhenti di pinggir jalan depan sebuah rumah mungil yang terdapat di kompleks perumahan kelas menengah. Setelah mematikan mesin mobil, Harvey melirik rumah yang enam bulan terakhir ini amat sangat sering ia kunjungi. Harvey menarik napas panjang dan menghelanya pelan. Selama seminggu ini, tepatnya sejak kejadian Layla menolak rayuannya untuk bercinta, Harvey belum lagi bertemu sang kekasih. Meski sangat merindukan gadis bertubuh langsing dengan rambut sebahu itu, Harvey berusaha menahan diri. Ia takut. Takut jika bertemu Layla, hasratnya yang tak tertuntaskan akan mengamuk, dan ia akan kehilangan kendali. Memaksa kehendaknya pada sang kekasih adalah hal terakhir yang ingin Harvey lakukan. Ketika keluar dari mobil, Harvey mendengar suara canda tawa dari rumah Layla. Ada suara lelaki. Harvey mengerut kening. Sedang bersama siapa Layla? Apakah selama seminggu ini, saat Harvey tak menemuinya, diam-diam Layla berpaling? Emosi gelap yang asing merasuki Harvey. Dadanya panas, sementara napasnya memburu. Jika Layla berani menduakannya, ia tak akan segan-segan membunuh pria yang menjadi selingkuhan gadis itu. Harvey tak pernah diduakan—dan tak akan pernah! Terlebih oleh Layla, si gadis pemecah rekor sebagai kekasihnya yang paling lama—biasanya dua tiga bulan saja, Harvey sudah bosan—dan yang berhasil membuatnya selibat! Tergesa Harvey membuka pintu pagar yang tak dikunci. Ia melangkah lebar menuju rumah Layla. “Layla!” Harvey mendorong pintu teralis rumah yang tak dikunci. Seketika tawa-tawa tersebut berhenti. Tiga pasang mata tertuju pada Harvey. Harvey mengenal gadis bertubuh mungil dengan rambut sedagu yang duduk di sofa ruang tamu. Dia Karenina, sahabat Layla. Sementara pemuda berwajah tampan di samping Karenina, Harvey tak mengenalnya. “Harvey!” Layla berdiri dan menghampiri sang kekasih dengan senyum manis di bibir. Harvey menatap sang kekasih dalam-dalam. Mencoba mencari sinar kerinduan di mata cokelat keemasan Layla. Rasa lega melingkupi dirinya ketika menangkap sinar itu. “Aku tidak tahu kau akan datang. Apa kau mengirimiku pesan? Aku tidak melihat ponsel.” Rasa lega Harvey menguap tak berbekas, berganti kecurigaan kalau Layla merasa tak nyaman dipergoki sedang bersama pria lain—meskipun ada Karenina di sana. “Apa aku harus mengirim pesan lebih dulu untuk bertemu kekasihku?” Harvey tidak sadar suaranya menajam, ia bahkan menekan kata kekasihku, ingin pemuda yang menatap Layla dengan sorot tertarik itu tahu bahwa si gadis miliknya. Kebingungan melintas di mata Layla, tapi kemudian gadis itu menggeleng dan tersenyum. “Ayo.” Layla menarik tangan Harvey dan mengajaknya ke sofa. “Hai, Harv!” sapa Karenina dengan senyum lebar. Sementara si pemuda, mengangguk pelan dan tersenyum tipis. “Hai,” balas Harvey kaku. Meski sudah cukup lama menjalin hubungan dengan Layla, bisa dibilang Harvey tidak akrab dengan Karenina. Karenina berdiri. “Aku rasa sebaiknya kami pulang. Ayo, Joe!” Pemuda yang dipanggil Joe itu, berdiri dengan enggan. “Kenapa terburu-buru?” Layla memandang Karenina. Karenina mengedipkan sebelah mata. “Aku dan Joe hendak pergi makan bakso. Aku asumsikan kau tak berencana ikut?” Karenina melirik Harvey. “Oh,” Rona merah samar menjalar di pipi Layla. “Sampai jumpa, Harvey.” Karenina menggamit Joe dan berlalu. “Ya, sampai jumpa.” Harvey memandang kepergian keduanya. Setelah dua sosok itu menjauh, Harvey menatap Layla. “Siapa pemuda itu?” “Joe. Sepupu Karenina.” Harvey ingin mengatakan kalau pemuda bernama Joe itu tertarik pada Layla, tapi menahan diri. Lebih baik Layla tidak tahu tentang itu. Harvey tidak mau sang kekasih tergoda mendua. “Duduklah. Akan kubuatkan kopi.” Layla ke dapur, sementara Harvey duduk di sofa yang tadi Layla duduki. Tepat ketika Layla menghidangkan kopi untuk Harvey, terdengar suara memanggil nama gadis itu. “Sebentar,” kata Layla pada Harvey, lalu berjalan ke pintu. Tak lama kemudian Harvey mendengar suara tawa di sela obrolan. Harvey berdiri dan berjalan ke pintu depan. Di halaman rumah, tampak Layla mengobrol dengan seorang pria, yang Harvey tebak berusia awal tiga puluh. Melihat caranya menatap Layla, sebagai lelaki, Harvey tahu, pria itu tertarik pada Layla. Dalam sehari ia mendapati dua orang pria tertarik pada Layla. Kekasihnya itu selain cantik, juga manis dan lembut. Wajar saja banyak pria terpikat. Entah ada berapa banyak pria di luar sana yang tertarik pada Layla. Jadi, haruskah ia mengurung gadis itu di rumah agar tidak dilihat pria lain? “Tunggu sebentar, akan kuambilkan pesanan ibumu,” kata Layla, lalu berbalik. Layla terkejut mendapati Harvey berada di ambang pintu. Harvey menyamping, memberi jalan. “Siapa pria itu?” tanyanya ingin tahu. Ada rasa panas yang aneh membakar dadanya. “Radith. Ibunya pesan bolu kemojo.” Layla pun berlalu. Harvey terdiam. Bolu kemojo buatan Layla memang terkenal seantero Pekanbaru. Bahkan tak jarang banyak yang memesan untuk dijadikan oleh-oleh. Sembari membawa dua buah tas kertas, Layla berjalan melewati pintu. Gadis itu mengulas senyum untuk Harvey. Ketika menyaksikan Layla tersenyum manis saat menyerahkan tas kertas tersebut pada si pria, lagi, Harvey dibakar emosi gelap yang aneh nan asing. Apa yang terjadi pada dirinya? *** Harvey duduk di sofa yang ada di kamarnya dan menyesap bir dalam-dalam. Ciuman panjang dan panas tapi hanya sedikit cumbuan. Itulah yang terjadi tadi sore ketika bertemu Layla. Kerinduannya selama seminggu ini yang mati-matian dipendamnya, sama sekali tak terpuaskan. Tak terlampiaskan. Tanpa sadar Harvey mengumpat pelan. Frustrasi. “Atau kau bisa diam-diam mengencani gadis lain.” “Dan mengambil risiko ketahuan dan ditinggalkan Layla?” Arion tertawa. “Kalau begitu, satu-satunya solusi, kau harus menikahinya.” Sekalipun Harvey tak pernah memikirkan ulang isi percakapannya dengan Arion. Menurutnya, saran sahabatnya itu gila. Tak masuk akal. Menikah bukan keputusan main-main. Akan tetapi, di malam yang hening dengan hasrat yang menggelegak, mau tak mau, saran sang sahabat merasuki otak Harvey, sedikit demi sedikit. Nikahi Layla. Nikmati tubuh gadis itu sepuasnya. Jangan pikirkan apa pun lagi. Suara itu entah datang dari mana. Perlahan-lahan menggerogoti akal sehatnya. *** “Menikah?” Layla memandang pria tampan berambut gelap di depannya itu dengan mata membeliak. Pagi ini, tiada hujan, tiada angin, tiba-tiba Harvey berdiri di depan rumahnya dengan senyum lebar. Kekasihnya itu hampir tak pernah mendatanginya di pagi hari. Hanya sesekali di akhir pekan mereka sarapan bersama—dan hari ini bukan Sabtu atau Minggu. Harvey tersenyum tipis. “Ya, apakah gagasan menikah denganku sangat mengerikan sehingga ekspresimu seperti itu?” Layla tersadar dan mengulas senyum kaku pada sang kekasih yang duduk di sofa di seberangnya. Mereka sedang berada di ruang tamu rumah Layla. Di atas meja tampak kopi hitam yang tadi ia hidangkan untuk sang kekasih, masih mengepulkan uap panas. “Aku …, hanya terkejut. Kita tidak pernah membicarakan ini sebelumnya.” Harvey berpindah duduk ke samping Layla. Ia meremas hangat jari-jemari sang kekasih. “Kita menjalin hubungan sudah cukup lama, bukan? Aku pikir enam bulan cukup untuk meyakinkan kita melangkah lebih jauh.” Layla menatap mata Harvey dalam-dalam. Ia terdiam. Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Harvey menunggu jawaban Layla. Setelah mampu mengatasi keterkejutannya, Layla tersenyum. Senyum bahagia. “Kau serius?” “Tentu saja. Jadi maukah kau menikah denganku, Sayang?” Harvey mengangkat kedua tangan Layla ke bibir, mengecup lembut sementara matanya menatap sang kekasih dengan mesra. Dada Layla seakan dipenuhi bunga setaman. Ia mengangguk dengan mata berbinar-binar. “Ya, Harvey. Aku mau!” *** Love, Evathink Instagram: evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN