08: Twenty Million Dollars

2202 Kata
“Apa ayah sudah gila?!” James kehilangan akalnya, menatap penuh amarah pada Cornelius sang ayah ketika mengetahui keputusan yang telah dibuat Cornelius untuk Samantha. Keputusan yang berhasil membuat James pusing tujuh keliling setelah mengetahuinya. Cornelius memberikan sebuah jabatan kepada Samantha sebagai manajer baru di kilang wine mereka yang terdapat di pinggir kota sekaligus menyerahkan pengelolaan lahan dan ladang yang mereka miliki termasuk milik keluarga Samantha. Bolpoin yang sedari tadi ada di tangan Cornelius itu diletakkan perlahan, ia mendongak menatap anaknya yang tengah berapi-api meluapkan segala amarah yang berkumpul di dalam hatinya. Cornelius telah menduga hal ini pasti akan terjadi, James tidak suka berbagi apalagi berbagi kekuasaan, meskipun jabatan Samantha jauh lebih rendah dibanding dirinya di perusahaan tapi James akan tetap merasa tak terima. Cornelius menyandarkan punggung pada sandaran kursi, melipat tangan sembari menatap lekat-lekat putra yang dulu ia sangat sayangi dan besarkan penuh kasih sayang kini berubah menjadi sosok yang angkuh dan selalu saja penuh amarah. Cornelius selalu mengira apa yang sebenarnya membuat James berubah dari anak lelaki polos dan penuh kasih menjadi pria kejam yang tak berperasaan. “Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya?” Suara Cornelius tenang—sangat tenang bagaikan ketenangan yang terjadi sebelum badai mengguncang. “Mengapa ayah membiarkan dia mengelola kilang wine keluarga kita?” Mata James memerah menahan setiap amarah yang harusnya melekat pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Apa salahnya dengan itu?” Ketenangan Cornelius membawa amarah James sampai pada ujungnya. “Dia tidak pantas! w***********g itu … dia hanya akan membawa perusahaan kita hancur!” James tak sadar jika amarahnya telah membawa sebuah badai besar, Cornelius bangkit. Pria berusia tujuh puluhan itu masih tegap berdiri, tubuhnya lebih tinggi dari James, ia mengangkat tongkatnya, mengayunkannya dengan keras ke lengan James sampai pria itu tersungkur ke lantai. “Apa yang ayah lakukan?! Apa ayah akan membunuhku?!” Protesnya dengan mata berair menahan rasa ngilu tak tertahankan di lengannya. Di sisi lainnya, Cornelius beranjak dari tempat duduknya berjalan memutari meja lalu mendekat pada James. Merasa ketakutan dengan sosok ayahnya, James meringkuk melindungi tubuh dengan tangannya sendiri. Ia tak mau mendapatkan pukulan lagi, cukup sekali karena rasanya sangat menyakitkan. “Aku tidak hanya akan membunuhmu kalau kau mengatakan hal tak pantas seperti itu, dan keputusanku sudah final.” “Dia tidak pantas!” James bersikeras. “Mengapa harus dia?” “Lalu siapa? p*****r yang setiap malam kau bawa ke ranjang kamar tamu?!” “Ayah!” Cornelius berjongkok di hadapan James, tangannya yang terbebas menarik kerah baju James. Menatap anaknya dengan tatapan penuh ancaman, James yang semula angkuh penuh amarah di hadapan Cornelius, kini berbalik layaknya seekor anak anjing yang penurut. “Ingat satu hal, James. Hidupmu … apa yang kau dapatkan hari ini semuanya adalah pemberianku. Jika aku mengambilnya kembali maka kau akan hidup sebagai gelandangan.” Cornelius mendesis di telinga James, mengirimkan rasa takut luar biasa pada tubuh James hingga semua bulu kuduknya merinding. James tahu sekali saja Cornelius bertindak, maka hidupnya akan berbanding terbalik dengan sekarang. Itu sebabnya ia tak bisa menolak untuk menikahi Samantha. “Pergilah!” Cornelius mendorong kerah baju James, seketika itu ia langsung bangkit, merapikan pakaiannya kemudian beranjak pergi. Tepat sesaat setelah ia membuka pintu, James dihadapkan pada sosok Samantha yang berdiri tenang menatapnya tanpa emosi didampingi oleh dua pria perkasa, yang satu adalah kepercayaan Cornelius sementara satunya lagi adalah Sebastian Sang Bodyguard. Wajah James langsung memerah seketika saat ia mendapat tiga orang itu berdiri di balik pintu, meski mereka tak menunjukkan ekspresi apapun, James sangat yakin mereka mendengar apapun yang terjadi di dalam ruang kerja ayahnya. Merasa sangat malu dengan itu, James langsung pergi dengan hati penuh dendam. “Kau sudah datang, aku menunggumu sejak tadi—” Kalimat Cornelius tergantung saat melihat Andre bersama dengan Samantha dan Sebastian. “Kau bertemu mereka?” Pertanyaan Cornelius langsung teralihkan pada Andre. “Kami bertemu di depan.” Andre menjawab tegas, setelahnya ia masuk ke dalam lalu memberikan sebuah amplop besar berwarna cokelat besar pada Cornelius. “Saya undur diri.” “Ohya, tolong hubungi Pak Walikota, katakan aku akan datang bersama dengan menantu dan anakku.” Cornelius memberikan pesan. Andre mengangguk setelah itu ia pun keluar dari ruangan membiarkan Sebastian dan Samantha tinggal bersama dengan Cornelius. Di dalam ruangan itu mata Sebastian nyalang mengamati seluruh ruangan, sekali masuk ia tahu ruangan kerja milik Cornelius ini bergaya prancis kuno, mirip seperti istana prancis pada masa dulu. Pada langit-langitnya terdapat lukisan gaya renaisance, lalu karpetnya yang tebal, lampunya, bahkan tempat penanya pun terlihat masih kuno. Jauh berbeda dengan desain yang ada di luar ruangan ini, masih bergaya prancis hanya saja lebih modern. Hingga akhirya, pandangan mata Sebastian tertumpu pada tiga senapan angin berbeda merek yang dipajang di dinding, selain itu ada dua kepala rusa yang juga menjadi pajangan di samping kanan dan kiri senapan tersebut. Rupanya Cornelius suka berburu dan ia akan menyimpan hasil buruannya menjadi berbagai macam pajangan. “Jadi bagaimana, setelah melihat ladangmu lagi … apa yang kau pikirkan?” Cornelius melangkah kembali ke mejanya dibantu oleh Samantha. “Aku berpikir untuk menanam kembali anggur di sana, mungkin akan membutuhkan waktu hingga membuatnya subur seperti sedia kala … tapi aku sangat yakin bisa melakukannya dengan baik,” tutur Samantha penuh semangat. “Memang akan membutuhkan banyak waktu dan tenaga … apalagi Keluarga itu pasti akan segera mengirimkan seseorang untuk melakukan negosiasi denganmu,” ujar Cornelius sembari membuka lacinya. Ia mengambil sesuatu dari dalam lacinya dan memberikannya pada Samantha. Samantha pun lekas membukanya, ia penasaran apa isi dari berkas yang diberikan oleh Cornelius padanya itu. “Apa ini ayah?” tanya Samantha ketika ia melihat brosur di dalam berkas tersebut, brosur itu menunjukkan tentang sebuah resort mewah yang luar biasa fasilitasnya. Hanya saja Samantha tak memahami, apakah ayah mertuanya akan membangun sebuah resort dan mengembangkan usahanya. “Keluarga Macalistair ingin mengembangkan usaha mereka, awalnya kupikir mereka hanya tertarik dengan ladangnya untuk menanam anggur, tapi itulah yang ingin mereka lakukan dengan tanah milik Francois. Lihat berkas selanjutnya,” pinta Cornelius. Mata Samantha terbelalak sangat lebar ketika ia melihat berkas penawaran yang dikirimkan. Ia melihat nominal yang sangat besar dan perlahan-lahan menghitung jumlah nol di belakang angka dari penawaran mereka. Tanah miliknya akan dihargai sebesar 20juta dollar jika ia rela untuk menjualnya. Dua puluh juta dollar … Harga yang sangat menggiurkan bagi setiap orang yang ada di dunia ini pastinya. Dan sebuah harga yang tak mungkin bisa dikumpulkan oleh Samantha meski ia bekerja dengan lima pekerjaan sekaligus seumur hidupnya. Harga itu seperti sebuah mimpi baginya. Dua puluh juta dollar … Dengan dua puluh juta dollar ia bisa melepaskan ikatan dengan James, ia bisa mengobati ayahnya tanpa bantuan dari Cornelius, ia bisa membeli rumah yang pantas untuk ditinggali bersama dengan ayahnya, membuka sebuah usaha kecil untuk menyambung hidup. Dua puluh juta dollar … :: “Resort? Apa kakek bercanda?” Sebastian bersungut di saluran panggilan. Malam hari setelah ia menyelesaikan tugasnya menjadi bodyguard Samantha, ia akan bekerja menyelesaikan apa yang tak bisa ia selesaikan di pagi hari. Kali ini setelah ia mendengar bahwa kakeknya berencana untuk membuat sebuah resort di atas tanah milik Samantha membuatnya tak bisa tinggal diam. Sebastian telah mendengar perihal pembuatan resort tapi tak pernah menyangka jika resort yang dimaksud akan berdiri di tanah Samantha. “Kau jangan lupa dengan tujuan utamamu pergi ke California, aku mengirimmu ke sana untuk bernegosiasi dengan pemilik tanah agar mereka bersedia menjualnya!” Pening seketika kepala Sebastian bagaikan dihantam palu godam dengan sangat keras. Dia lupa, benar-benar lupa tujuan utamanya pergi ke California setelah bertemu dengan Samantha. Setelah melihat betapa menderitanya wanita itu, pikiran Sebastian hanya tertuju pada Samantha. Ia ingin melindungi gadis itu bahkan melindunginya dari kakeknya yang mengincar tanah. Awalnya Sebastian hanya diperintah untuk mengurus anak perusahaan mereka sekaligus membeli lahan terbaik yang tak lain adalah milik Francois dengan tujuan untuk membuka ladang anggur baru. Tidak menyangka jika hal itu berubah menjadi rencana pembangunan resort yang sama sekali tak ia tahu. “Apa yang membuatmu berubah pikiran?!” Suara sang kakek menyadarkan Sebastian dari lamunannya. Apa yang membuatnya berubah pikiran? Tidak ada! Sebastian pasti akan tetap berusaha untuk membeli tanah tersebut dengan caranya sendiri, tapi tidak seperti yang dilakukan oleh kakeknya dengan menawarkan sejumlah uang yang akan sulit untuk ditolak oleh Samantha. Siapapun pasti akan tertarik dengan jumlah uang yang ditawarkan oleh kakeknya, dua puluh juta dollar, dengan uang itu kau bisa hidup nyaman sampai mati. Sementara Samantha membutuhkan uang banyak untuk pengobatan ayahnya, seandainya ia memiliki banyak uang, Sebastian yakin jika Samantha akan berusaha melepaskan diri dari ikatan keluarga Sullivan. “Kenapa kakek tidak membicarakan masalah ini denganku.” “Sudah kubicarakan semuanya dengan ibumu, ia akan ke California besok. Tapi rupanya kau malah mendengarnya lebih dulu.” “Ibu akan kemari?” Fokus Sebastian langsung teralihkan. Sampai ibunya sendiri yang turun tangan masalah ini akan menjadi sesuatu yang sangat pelik. “Ya, dia ingin melihat bagaimana caramu bekerja.” Sebastian memang tak memiliki latar belakang yang cukup untuk ditunjuk sebagai pemegang salah satu anak perusahaan. Sebastian adalah mantan pasukan khusus, dulu dia tidak peduli sama sekali dengan perusahaan milik kakeknya. Dia berpikir bahwa kakak kandungnya akan mengurus bisnis keluarga, siapa yang menyangka jika ayah dan kakaknya malah meninggal karena kecelakaan. Oleh karena itu, sekarang semua tanggung jawab itu dilimpahkan padanya. Sementara dia hanya seorang tentara pasukan khusus yang baru saja kembali dari perang yang mengerikan. Banyak orang dan pejabat perusahaan menyangsikan kemampuan Sebastian dalam mengelola perusahaan. Itu sebabnya kakeknya mengirim Sebastian ke California untuk belajar mengelola perusahaan yang lebih kecil dulu. “Cara kerjaku baik-baik saja, kakek. Ibu tidak perlu datang kemari hanya untuk itu.” “Itu keinginannya, lagi pula dia pasti merindukan satu-satunya anak yang dia miliki sekarang.” “Aku mengerti. Tapi kakek, pembangunan resort itu bukan hal yang tepat.” “Tepat atau tidak, keputusan akhirnya tetap ada padaku, Nak.” “Baiklah, aku akan berusaha untuk merubah pikiran kakek.” “Sebastian!” Detik itu juga Sebastian menutup ponselnya, melemparkan satu-satunya ponsel yang ia miliki ke sofa. Kini Sebastian harus memutar otaknya untuk menggagalkan rencana kakeknya dalam membangun resort di atas tanah Samantha. Sebuah helaan nafas berat keluar dari pernafasan Sebastian, ia masih belum menemukan cara untuk menghentikan rencana ini. Bagaimana caranya untuk meyakinkan sang kakek agar tidak melanjutkan renananya. Ketika Sebastian tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba saja terdengar suara bell pintu yang dipencet dengan tidak sabar membuat Sebastian terkejut. Keningnya berkerut dalam menatap ke arah pintu. Siapa yang malam-malam begini bertamu ke rumahnya. Sebastian berencana untuk mengabaikannya. Namun, bell pintu terus saja dipencet kadang juga dipermainkan seolah sedang mengikut notes lagu. “Orang sinting mana yang mengganggu orang malam-malam begini!” gerutu Sebastian, lantas ia pun terpaksa pergi menuju ke pintu dan membukanya. “Hallo, sepupuku yang paling tampan!” kata Garnet sembari mengangkat dua buah botol di tangannya. Wajah Garnet sudah memerah karena mabuk, tapi ia masih kuat berjalan hingga ke apartemen Sebastian. “Ayo kita minum sepuasnya!” serunya sembari berjalan masuk ke dalam apartemen Sebastian meski pemiliknya sama sekali membuat mempersilakan. Sebastian hanya memperhatikan saja tingkah sepupu gilanya ini. Langkah Garnet bahkan sempoyongan, ia hampir saja terjatuh dan memecahkan dua botol minuman yang dia pegang itu. Beruntung ia terjatuh di atas sofa sehingga tidak ada hal buruk yang terjadi dan dua botol itu masih erat di tangannya. Garnet tertawa dengan keras sembari membetulkan letak duduknya. “Ada apa denganmu?” tanya Sebastian setelah ia menutup pintu dan melangkah mendekat pada Garnet. Ia mengambil dua botol yang ada di tangan Garnet lalu meletakkannya di atas meja. Minuman itu terlihat cukup menggoda karena sebenarnya Sebastian pun sangat membutuhkannya, ia ingin melupakan kemelut di dalam pikirannya saat ini. “Sepertinya aku sudah gila, ha ha ha.” Garnet tertawa, namun tawanya itu begitu sumbang. Sebastian menoleh pada Garnet, ia tahu ada sesuatu yang besar sedang terjadi dengan hati sepupu yang sudah menjadi sahabatnya. “Kau memang sudah gila,” ucap Sebastian. Pria itu hendak berdiri untuk membuka penutup botol tapi tangan Garnet menarik lengan Sebastian hingga pria itu kembali duduk. Lalu ia bergelayut di lengan Sebastian dengan manja, menempelkan kepalanya pada lengn kekar Sebastian. “Bukannya kau ingin minum?” “Tidak … Iya ….” Garnet meracau tak jelas. “Jadi kau ingin minum atau tidak?!” tanya Sebastian dengan sedikit mendorong kepala Garnet agar tidak terlalu menempel padanya. “Iya dan Tidak.” “Memangnya apa yang terjadi?” Mendadak terdengar suara isakan tangis, Sebastian yang mendengarnya pun melirik sebentar. Benar rupanya, sahabatnya itu sedang terisak, meluapkan seluruh perasaannya yang mungkin telah ia pendam begitu lama atau bahkan baru ia sadari. “Aku dalam bahaya.” Terucap begitu saja dalam isakan tangisan Garnet. “Apa seseorang sedang mengancammu?” Garnet mengangguk pelan. “Siapa?” “Rebeca ….” “Ada apa dengannya?” Sebastian mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. “Sepertinya aku jatuh cinta padanya, ini lebih menakutkan dari apapun.” “Mengapa kau berpikir jika ini menakutkan?” “Karena setiap kali aku memikirkannya, jantungku seperti akan meledak. Bagaimana jika aku mati karena jatuh cinta padanya?” Sebastian ingin tertawa, tapi ia sendiri pun tahu rasanya jatuh cinta pada seseorang sedalam itu. Tidak ada yang lebih menakutkan daripada mencintai seseorang sebegitu rupa sampai kau meneteskan air mata bukan karena dia menyakitimu tapi karena kau terlalu mencintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN