11: It Wasn’t a Mistake

2127 Kata
Di hadapan cermin yang biasa digunakan olehnya untuk bercermin, Samantha sengaja menambahkan foundation pada beberapa bagian wajahnya yang masih terdapat bekas luka memar. semalaman ia juga tidak melihat James kembali ke rumahnya, satu hal yang cukup disyukuri oleh Samantha. Setidaknya ia tak harus mendengar celaan demi celaan keluar dari mulut James untuknya dan ia bisa menghindari tangan keras James. Samantha menatap cermin untuk sesaat, tangannya terhenti saat ia hendak menekan bagian sekitar bibirnya. Mendadak ia melihat kilas balik saat-saat Sebastian menciumnya. Rasanya hangat dan menenangkan, sesuatu yang tak pernah dirasakan oleh Samantha sebelumnya. Bagaimana sebuah ciuman yang sangat singkat itu bisa terasa begitu nyaman? “Apa aku sudah gila?!” gerutu Samantha saat menyadari jika saat ini wajahnya sudah memerah menahan malu. “Bagaimana aku bisa memikirkannya,” imbuhnya lagi dengan wajah yang masih memerah. Samantha merasa sangat hina karena memikirkan ciumannya dengan pria yang bukan suaminya, ia tak pantas melakukannya. Meski James tak bisa dikatakan sebagai pria yang baik dan suami yang layak, tapi Samantha tak ingin membalas perbuatan James dengan melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan oleh James. Sebuah helaan nafas berat keluar dari pernafasan Samantha, ia merapikan foundationnya sembari memikirkan Sebastian. Setelah ini ia harus bertemu dengan pria itu, rasanya pasti akan canggung jika bertemu dengannya. Samantha kembali menghela nafas berat, ia tak boleh terlihat canggung, bagaimana pun juga Sebastian hanyalah bodyguardnya. Tapi bibir itu … Lagi dan lagi Samantha menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya, ia masih tidak mengerti mengapa rasa bibir Sebastian masih tertinggal di bibirnya, seolah itu melekat dan enggan untuk meninggalkan bibirnya. Samantha menggelengkan kepalanya keras-keras berusaha mengenyahkan pikiran tentang bibir hangat milik Sebastian dari kepalanya. Ia segera menyelesaikan riasannya kemudian keluar dari ruangannya. “Selamat pagi, Nyonya Muda.” “Astaga!” Samantha begitu terkejut melihat Sebastian ada di depan pintunya, padahal ia tak perlu seterkejut itu karena biasanya pun Sebastian pasti akan menunggu di depan pintu kamarnya, menunggunya sampai keluar dari kamar. “Mengapa anda begitu terkejut melihat saya?” tanya Sebastian. Samantha bahkan tak berani untuk mendongak dan menatap mata abu-abu dingin milik Sebastian. Seolah-olah jika ia memandangnya maka mata itu akan membuatnya membeku. Tapi, Samantha cukup merasa heran, bagaimana bisa Sebastian bertindak seolah-olah tidak terjadi apapun di antara mereka. Hingga beberapa pertanyaan muncul dalam benaknya. Apakah itu hanya sebuah kesalahan baginya? Pasti! Tentu saja! Samantha meyakinkan hatinya. Atau Apa mungkin Sebastian sudah terbiasa mencium seorang wanita dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi setelahnya? Jika dilihat dari penampilannya, dia memang rupawan, tubuhnya … Samantha berusaha untuk mengingat bagaimana bentuk tubuh Sebastian di balik kemejanya, dia memang belum pernah melihat Sebastian bertelanjang tapi dari balik kemeja putihnya ia tahu jika Sebastian pasti memiliki tubuh yang sempurna dan semua perempuan pasti menginginkan itu, terlebih lagi … bibirnya! Tidak ada perempuan yang tidak mau dicium oleh Sebastian, itu sudah pasti. “Nyonya Muda….” Sebastian memanggil dan secara refleks Samantha mendongak untuk menatap Sebastian. Detik itu juga matanya menubruk gundukan tipis di bawah hidung Sebastian yang terlihat berwarna merah muda dan terlihat sangat menggoda untuk dicium. Tanpa sadar Samantha menelan ludahnya, teringat ciuman sekilas yang terjadi padanya kemarin. “Nyonya Muda….” Sebastian kembali memanggil Samantha yang terlihat jika pikiran dan raganya sedang tak berada dalam satu ruangan. “Ya-Ya? Kenapa?” Samantha langsung memalingkan wajahnya ia bahkan berusaha untuk membuat suaranya seketus mungkin, rasanya sangat tidak pantas bagi seseorang yang sudah bersuami berpikiran kotor seperti itu tentang seorang pria, apalagi dia adalah bodyguardnya sendiri. “Anda tidak akan pergi?” tanya Sebastian seolah mengejek Samantha yang melamun. “Tentu saja, memangnya kenapa?” Samantha melangkah lebih dulu membiarkan Sebastian melangkah di belakangnya. “Apakah anda baik-baik saja?” tanya Sebastian. Samantha mendengus, ia tak mengerti pertanyaan Sebastian ini ditujukan untuk kejadian yang mana? Apakah saat dirinya ditampar oleh James di dalam mobil atau saat Sebastian yang terbawa suasana hingga akhirnya mereka saling berciuman? Tidak! Samantha mendadak menghentikan langkahnya, mereka tidak berciuman, Sebastianlah yang menciumnya terlebih dahulu, Samantha ingat jika ia mendorong Sebastian lalu berlari masuk ke dalam rumah. “Ada apa, Nyonya Muda? Mengapa anda berhenti?” Samantha kemudian berbalik, ia melipat kedua tangan di depan tubuhnya, menatap Sebastian penuh tantangan. “Menurutmu, apa menurutmu aku baik-baik saja setelah yang terjadi kemarin?” “Saya minta maaf, saya tidak bermaksud mengungkit masalah itu. Saya tahu jika Tuan Muda adalah suami anda, tidak seharusnya saya ikut campur urusan pribadi kalian.” Samantha terhenyak untuk sesaat, rupanya Sebastian menanyakan perihal dirinya yang ditampar oleh James dan bukan tentang ciuman mereka. Tentu saja Sebastian tidak akan memikirkan masalah itu, pikir Samantha. Apa yang terjadi kemarin tidak bisa disebut sebagai ciuman, itu hanya sebuah kesalahan yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka. Jika Sebastian memilih untuk melupakannya maka Samantha pun harus berusaha untuk melupakannya. “Jangan sampai ayah mertuaku mendengarnya, aku tidak ingin James lebih membenciku.” Samantha kemudian berbalik lagi. Ia melangkah mendahului Sebastian lagi meski tak mendapat jawaban dari Sebastian. Namun, Sebastian mendadak melangkah lebih dulu dan menghadang langkah Samantha. “Ada apa?” Samantha berusaha untuk tidak menatap wajah Sebastian karena ia sangat yakin sekali, jika ia menatap wajah itu maka matanya akan langsung tertuju pada bibir berwarna merah muda yang seolah-olah memanggilnya itu. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Sebastian. Jantung Samantha berdebar-debar sangat kencang, dalam pikirannya berkecamuk berbagai hal. Bagaimana jika Sebastian mengungkit perkara ciuman mereka? Bagaimana jika Sebastian mengatakan itu adalah sebuah kesalahan? Mengapa Samantha harus merasa kecewa dan gugup di saat yang bersamaan? Mengapa, mengapa, dan mengapa? “Jika itu tentang ciuman yang terjadi kemarin … aku tahu kau melakukan kesalahan, jadi jangan diulangi lagi.” Daripada menunggu untuk kecewa, Samantha memilih melindungi dirinya sendiri meski ia tidak tahu apa alasan sebenarnya dirinya kecewa? Apakah karena Sebastian sudah pasti menganggapnya sebagai sebuah kesalahan? Entahlah, Samantha bahkan tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sendiri. “Ini bukan tentang itu,” ujar Sebastian. Saat itu juga, detik itu juga, wajah Samantha memerah, sangat memerah hingga rasanya ia ingin sekali menenggelamkan wajahnya di lantai marmer mansion keluarga Sullivan. Bagaimana bisa dirinya sepercayadiri itu jika Sebastian akan membahas perihal ciuman mereka. Bagi pria berpengalaman seperti Sebastian, ciuman itu tak ubahnya bagai angin lalu, tiada artinya. Samantha menghela nafasnya, ia kemudian mendongakkan kepalanya sedikit lantas menatap Sebastian, kali ini ia bisa mengontrol tatapannya dan memandang langsung ke arah manik abu-abu milik Sebastian. “Lalu apa yang ingin kau tanyakan?” “Mengapa anda melindungi Tuan James?” “Karena dia suamiku.” Samantha bahkan tak ragu mengatakannya, memang hanya itu alasannya. “Jika itu yang ingin kau tanyakan, kau sudah mendapatkan jawabannya.” Lantas Samantha kembali bergegas melangkah menuju ke ruang makan yang diikuti oleh Sebastian. “Ngomong-ngomong, Nyonya Muda ….” Jeda yang disengaja oleh Sebastian ini cukup membuat jantung Samantha berdegup kencang. “Ciuman itu bukan sebuah kesalahan.” Oh, Shoot! Sebastian, you shouldn’t say that! * Sepanjang pemandangan di mata Samantha adalah kebun anggur, milik Cornelius tentunya. Musim gugur ini adalah waktunya untuk panen dan ia harus mengawasi ratusan hektar kebun yang tengah memanen anggur untuk dijadikan wine. Namun, Samantha tak bisa diam begitu saja, ia sudah siap dengan sepatu boots dan topi besar untuk menutupi wajahnya, Samantha pun sudah siap dengan keranjang besar di punggungnya tempat untuk menyimpan anggur panenannya. “Biar saya saja yang membawanya.” Sebastian hendak mengambil keranjang besar dari punggung Samantha, namun gadis itu langsung melangkah menjauh. “Jika kau ingin, ambil saja sendiri jangan ambil milik orang lain, Tuan Grand.” Ucapan Samantha itu sontak membuat para pekerja lainnya terkekeh geli melihat tingkah mereka. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di perkebunan mereka sudah menjadi sorotan oleh para pekerja. Mereka mengira bahwa dua orang yang datang ke perkebunan itu pasti hanya akan melihat kebun sebentar lalu kembali lagi. Hal tersebut sudah sering terjadi sebelumnya karena para pengawas kebun selalu datang hanya beberapa menit lantas pergi lagi. Sehingga ketika Samantha memutuskan untuk membantu panen, mereka cukup terkejut mendengarnya. Selama melakukan panen, Samantha berusaha keras untuk menghindari Sebastian, ia selalu memilih tempat yang jauh atau pada baris yang berbeda. Bukan hanya saat di kebun saja akan tetapi saat di rumah atau pun di kantor juga melakukan hal yang serupa. Setelah apa yang diucapkan oleh Sebastian tempo hari, Samantha benar-benar tak bisa tenang. “Ciuman itu bukan sebuah kesalahan.” Kalimat itu sangat sederhana tapi begitu sederhana hingga membuat jantung Samantha berantakan tiap kali berdekatan dengan Sebastian. Dia tidak bisa fokus melakukan apapun jika berada di samping Sebastian karena ia akan selalu fokus pada bibirnya. Samantha bahkan tidak mengerti, mengapa dia bertingkah layaknya ABG yang baru mengenal cinta? Demi Tuhan dia adalah gadis berusia dua puluh tujuh tahun dan sudah menikah. “Nona.” Sebuah sentuhan di pundaknya membuat Samantha terkejut, ia terlonjak hingga akhirnya terjengkang karena beban di punggungnya yang super berat. Rupanya tanpa sadar Samantha sudah memasukkan banyak sekali hasil anggur di keranjangnya, tapi sekarang sebagian dari mereka malah jatuh berserakan di tanah. “Oh, astaga! Maafkan aku … aku mengacaukan semuanya.” Samantha benar-benar merasa bersalah. Pemuda itu tersenyum sembari membantu Samantha memasukkan kembali anggur-anggur yang berserakan. “Tidak apa-apa Nona, saya memanggil anda karena sudah waktunya bagi para pekerja lainnya untk beristirahat.” Pemuda itu memberitahu. “Seharusnya anda memanggil saya.” Rupanya Sebastian pun langsung sigap dan menghampiri tempat Samantha, ia sempat tertawa saat melihat Samantha terjengkang. Setelah berhasil meredam tawanya ia langsung pergi untuk menolong gadis aneh dan keras kepala itu. “Untuk apa? Aku bisa melakukannya sendiri,” ketus Samantha sembari melirik singkat ke arah Sebastian. Usai semua anggur-anggur itu selesai dimasukkan ke dalam keranjang, Sebastian langsung mengambil alih keranjang tersebut, ia tak membiarkan Samantha memegangnya walau hanya seujung kuku. Setelahnya mereka bertiga pergi ke tempat di mana para pekerja sedang beristirahat saat ini. Seorang wanita paruh baya melangkah menghampiri ketiganya, ia langsung meraih pundak Sebastian dan menepuknya pelan. “Kau adalah kekasih yang baik, ayo semua orang sedang menikmati minuman paling enak di kota ini.” Katanya begitu bersemangat. Mendengar itu Samantha langsung terkejut, ia ingin meralat ucapan wanita itu tapi tampaknya Sebastian dan wanita itu tak peduli pada apa yang akan diucapkannya hingga akhirnya memilih untuk diam. Pada saat istirahat itu keduanya disuguhkan oleh wine buatan kilang pabrik, Samantha menyesap minuman itu perlahan-lahan dan mencoba untuk meresapi setiap rasa yang keluar dari red wine itu. Rasanya seperti ada perpaduan cherry dan mawar, rasanya unik dan tasty. Pantas jika perusahaan wine milik Cornelius sangat terkenal dan besar. “Bagaimana menurutmu?” tanya Samantha pada Sebastian yang juga ikut meminum wine tersebut. “Enak.” “Hanya enak?” tanya Samantha dengan kening berkerut menatap Sebastian. “Bagaimana menurutmu?” “Ini enak sekali!” serunya berkata dengan mata berbinar-binar cerah. “Ada perpaduan di setiap sesapannya, pinot noir menghasilkan rasa asam yang pas, ia mengeluarkan aroma cherrynya dipadukan manisnya rose. Ini unik, enak sekali.” Sementara Samantha berceloteh tentang berbagai hal mengenai jenis-jenis anggur yang ada di dunia, Sebastian begitu perhatian menyimaknya. Sebastian suka sekali melihat gadis itu tak lagi murung seperti beberapa hari sebelumnya, atau bersikap dingin padanya. Sebastian tak akan pernah melewatkan momen seperti ini, momen di mana Samantha begitu berkilau ketika membicarakan perihal anggur. Sampai sebuah dering ponsel mengganggu aktifitas tersebut dan Samantha harus mengangkatnya. Gelas yang semula ada di tangannya diserahkan kepada Sebastian lalu Samantha menjauh untuk mengangkat ponsel. Bahkan saat Samantha pergi menjauh pun, tatapan mata Sebastian tetap tertuju hanya pada Samantha, tak berpaling meski hanya sebentar saja. Tak lama setelahnya Samantha pun kembali dan tampak terburu-buru. “Pembeli tanahku datang ke rumah, kita harus kembali.” Samantha berjalan mendahului Sebastian sembari membuka sarung tangannya menuju ke tempat mobilnya di parkir. Langkah Samantha terhenti saat ia melihat mobil putih pemberian Cornelius itu tak lagi sepenuhnya berwarna putih. Hal yang serupa pun terjadi pada Sebastian, keduanya terkejut melihat apa yang terjadi dengan mercy putih milik Samantha. Seseorang telah melakukan vandalisme, mencoret mobil tersebut menggunakan cat berwarna mereah dan bertuliskan, ‘b***h’ di sepanjang body mobil. “Dasar b******n sinting,” gumam Samantha mengumpat dengan acuh tak acuh kemudian langsung masuk begitu saja ke dalam mobilnya seolah ia tak peduli dengan apa yang baru saja dia lihat—seseorang merusak cat mobilnya, dan untuk memperbaikinya tentu saja tidaklah murah apalagi mobil miliknya merupakan sedan Mercy keluaran terbaru. Sebastian membeku di tempatnya, hampir tak pernah ia mendengar Samantha mengumpat selama bersamanya. Saat Samantha mengatakannya rasanya sangat berbeda, seolah-olah ia mendengar hal yang sangat baru sekali. “Apa yang kau tunggu, mengapa kau berdiri saja di sana, Tuan Grand!!!” seru Samantha saat menyadari betapa terkejutnya pria itu mendengarnya mengumpat. Sebastian terkesiap lalu ia masuk ke dalam mobil. “Apakah anda baik-baik saja, saya akan membawanya ke untuk diperbaiki setelah ini.” “Tugasmu bukan untuk memperbaiki mobil, Tuan Grand.” Samantha mengatakannya begitu dingin, sangat dingin sampai tersalurkan pada Sebastian. “Tugasmu adalah melindungiku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN