04: Unforgettable Blue Eyes (Pt.1)

1054 Kata
Kenangan demi kenangan bermunculan di benak Sebastian ketika ia melintasi jalanan yang berada di sisi sebuah ladang yang luar biasa luas. Beberapa saat Sebastian tertegun melihat kondisi ladang yang ada di hadapannya ini, masih jelas dalam ingatannya, ladang ini dulunya merupakan ladang yang sangat subur, sejauh mata memandang hamparan tanaman anggur akan menghiasi dan telah menjadi pemandangan sehari-hari. Jauh berbeda dengan kondisi yang saat ini terhampar di depannya, sangat gersang dan tak terawat. Sebastian melajukan truknya pelan-pelan memasuki area perkebunan, menuju sebuah rumah yang terdapat di tengan kebun. Rumah itu menyimpan banyak sekali kenangan miliknya, kenangan yang membuat Sebastian bertekad untuk kembali ke Amerika dalam keadaan hidup. Berhenti di depan rumah itu membuat Sebastian pun harus terheran, rumah itu juga tampak tak berpenghuni. Namun, Sebastian tidak ingin menyimpulkan apapun terlebih dahulu, ia turun dari truknya. Masuk berjalan menuju ke pintu utama, banyak sekali dedaunan yang tak dibersihkan di teras rumah. Lantai rumahnya pun dipenuhi oleh debu yang mulai menebal. Sebastian mengetuk pintu, beberapa kali dengan tekanan yang lebih besar pada setiap ketukannya. Tak ada satu pun orang yang keluar dari sana, Sebastian bahkan beranjak pergi dan mengelilingi rumah, berharap ia menemukan seseorang di area rumah. Namun, ia sama sekali tak menemukan apa-apa kecuali rumah yang tak lagi terawat. “Ehm ….” Sebuah suara dehaman seseorang mengejutkan Sebastian hingga ia terperanjat, pria itu berbalik dan mendapati seorang wanita tua gemuk sedang mendekatinya. “Apa kau juga salah satu agen real estate? Maaf tapi rumah dan ladang ini tidak dijual.” Wanita itu menjelaskan, wajahnya terlihat jengkel, sepertinya Sebastian bukan orang pertama yang datang kemari meski tujuan mereka berbeda. “Saya mencari Tuan Francois,” “Francois sudah lama berada di rumah sakit, sekarang aku yang mengurus rumahnya. Siapa kau?” tanyanya dengan ketus, ia menatap Sebastian dari ujung kepala hingga ujung kakinya. “Rumah sakit?” Sebastian terkejut, ia belum mendengar perihal ini, ia juga belum sempat membuka berkas dokumen Francois yang diberikan oleh Garnet secara menyeluruh. “Apa yang terjadi?” “Dia mengidap kanker, itu sebabnya pria itu menjual anaknya untuk mendapatkan uang agar bisa melakukan perawatan.” Sebastian terkejut, sangat terkejut sampai matanya melebar menatap wanita itu, ia ingin mempercayai jika pendengarannya salah atau wanita itu hanya asal bicara. Namun setelah mendengar wanita itu mengoceh tak karuan, membuat hati Sebastian terasa pilu. Jika benar Samantha menikah hanya untuk mendapatkan uang demi membiayai pengobatan ayahnya, betapa malangnya dia, betapa menderitanya dia selama ini. Tak kuat lagi mendengar ocehan wanita tua itu, Sebastian melangkah pergi tanpa mengatakan apapun. Langkahnya terasa tak menapak ke tanah, tubuhnya gontai sampai di depan truk, Sebastian harus menahan tubuhnya dengan berpegangan pada kap truknya. “… pria itu menjual anaknya.” “… pria itu menjual anaknya.” “… pria itu menjual anaknya.” Kata-kata itu terpatri dalam pikiran Sebastian, terulang-ulang seperti sebuah sebuah video rekaman. Sebastian memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, seiring dengan degupan jantungnya yang semakin cepat. “Aku datang terlambat …,” gumamnya. Sebastian mengepalkan tangannya menguatkan dirinya untuk melangkah memasuki kemudi truknya. Memasuki truk ia mendapatkan sebuah panggilan telfon. “Panjang umur sekali,” gumamnya lirih, Sebastian sudah berniat untuk menghubungi Garnet terlebih dahulu. Mengapa hal sepenting itu tidak dijelaskan dalam dokumen Samantha? Ia ingin mengetahuinya, mengapa Garnet tidak memberitahunya. “Hey! Di mana kau! Tuan Cornelius dan menantunya akan datang ke kantorku.” Garnet langsung saja bicara tanpa memberi kesempatan pada Sebastian untuk memakinya karena tidak memberikan informasi sepenting itu. “Cepat datang kemari! Kau harus bersiap untuk menemui mereka.” Garnet hendak menutup telfonnya sampai Sebastian membuka mulutnya dan mengucapkan satu kata. “Mengapa….” “Apa yang kau katakan, Dude?” “Mengapa kau tidak memberitahuku jika Samantha menikah untuk mendapatkan biaya pengobatan ayahnya?” tanya Sebastian, ia masih percaya jika Francois tak akan melakukan hal rendah itu pada Samantha. Lebih dari siapapun, Sebastian tahu jika cinta Francois untuk anaknya begitu besar, bahkan lebih besar dari semesta. “Ah… gossip murahan itu? Apa itu sangat penting bagimu?” tanya Garnet setengah menggoda. “Aku harus mengetahui segalanya, termasuk latar belakangnya secara rinci agar aku bisa tahu bagaimana caraku untuk melindunginya,” ujar Sebastian lirih. “Sebs ….” Garnet mendadak menyadari sesuatu. Sejak awal ia curiga pada tingkah Sebastian yang mendadak meminta dirinya menjadi seorang bodyguard, bahkan merelakan lima puluh persen kepemilikan sahamnya. Sekarang ia bahkan terganggu dengan gossip murahan yang tersebar ke seluruh kota setahun belakangan ini. “Apa kau memiliki hubungan dengan Samantha?” Sebastian memilih untuk memutuskan panggilan telepon itu daripada harus menanggapi rasa penasaran Garnet, masih banyak waktu yang bisa digunakan oleh sepupunya itu untuk menginterogasinya. Saat ini yang terpenting baginya adalah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan gadis itu. Truk itu dilajukan kencang oleh Sebastian, ia begitu tergesa-gesa pergi ke apartemennya. Sebastian lantas mencari pakaian yang pantas untuk berperan sebagai seorang bodyguard. Usai mengganti pakaiannya, Sebastian berkaca dan melihat penampilannya kembali. Ada satu titik yang membuat tatapan Sebastian ini tertumpu, bekas luka yang ada di alis kanan yang membuat alisnya terbelah. Luka itu kembali membawa kenangan bagi Sebastian, kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Selesai mengganti pakaiannya, Sebastian pun langsung bergegas menuju ke kantor perusahaan Garnet berada. Sebastian mengemudi dengan kencang, ia enggan menunggu lama, ia ingin segera bertemu dengan sosok yang selama ini selalu terpaut dalam pikiran Sebastian. Bahkan berjalan saja Sebastian tak bisa menggunakan langkah yang pelan, nafasnya terengah pada setiap langkah yang menapak ke lantai marmer perusahaan itu. Hanya satu tujuan Sebastian—ruangan Garnet. Langkah Sebastian terhenti saat di hadapannya berdiri seorang wanita bertubuh pendek dengan rambut pirang strawberry dan tatapan yang menantang. Seolah mengatakan pada Sebastian, jika ia melangkah lebih jauh maka habislah sudah riwayat Sebastian. “Tuan Giovanni sedang melakukan rapat, silakan anda menunggu.” “Aku akan menunggu di dalam.” “Tuan ….” “Rebeca.” “Tuan Cornelius dan Nona Samantha ada di dalam.” Kalimat yang meluncur dari bibir Rebeca itu seketika membuat kaki Sebastian membeku di tempatnya. Hanya mendengar nama mereka membuat Sebastian seolah kehilangan tenaganya untuk melangkah. “Sebaiknya anda menunggu instruksi dari Tuan Giovanni, saya yakin dia akan segera memanggil anda untuk masuk ke dalam.” Rebeca menambahkan. Sebastian menurut, ia menggangguk begitu saja. “Ngomong-ngomong, penampilan anda hari ini benar-benar sangat mirip dengan seorang bodyguard.” “Aku tak pernah mengecewakan orang lain,” ucap Sebastian lirih. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN