"Mas, aku belum siap," lirih Niskala sembari mengalihkan pandangannya dari Bhumi. Ia merasa bersalah, tetapi ia memang belum siap jika harus melakukan 'itu'. Masih ada beberapa keraguan yang mengendap di hatinya. Bhumi menatap Niskala lekat-lekat. Begitu mendengar ucapan Niskala, hasratnya buyar. Keinginannya untuk segera menyentuh Niskala hilang seketika. Namun, Bhumi tidak marah. Ia tahu, segala sesuatunya memang butuh proses. Tuk! Bhumi mengetuk pelan dahi Niskala. "Belum siap apa, hm? Udah ayo bangun, kita harus berkemas sekarang biar besok tinggal berangkat," ujar Bhumi. Ia menatap Niskala sejenak lalu beranjak dari duduknya. Bhumi menghela napas pelan lalu mengambil koper yang tersimpan rapi di atas lemari. Setelah itu, ia pun mulai memasukan barang-barang penting yang akan ia ba

