"Jangan berpikir macam-macam, Niskala! Sudah ayo masuk!" kata Bhumi. Ia menarik tangan Niskala untuk memasuki rumahnya.
Niskala mengembuskan napas panjang. Ia berusaha menekan rasa gugup dan juga takut yang mendominasi hatinya. Setelah merasa cukup tenang, ia mengulas senyum tamah dan melenggang ringan mengikuti Bhumi.
Sesampainya di dalam, Adnan—ayah Bhumi dan juga Seroja—ibu tiri Bhumi sudah menunggu. Keduanya duduk di sofa ruang tamu. Adnan dan Seroja terlihat begitu elegan, khas seperti orang-orang bangsawan pada umumnya.
"Kalian hanya berdua saja?" tanya Seroja. Ia menatap Bhumi dan Niskala bergantian dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Benar, Bu. Kami hanya berdua saja," jawab Bhumi yang masih menggenggam tangan Niskala yang terasa semakin dingin karena gugup.
"Keterlaluan! Kami sudah menunggu sejak tadi karena kami pikir keluarga dia akan ikut mengantarkan ke sini. Sia-sia aku menunggu kalian berdua," kata Seroja. Suaranya memang begitu tenang, tetapi kata-katanya berhasil menusuk hati Niskala.
"Mereka sedang sibuk jadi tidak sempat mengantarkan kamu, Bu. Bukankah yang terpenting kami sudah pulang dalam keadaan selamat?" tanya Bhumi. Sorot matanya begitu tenang, seolah-olah perkataan menusuk Seroja bukanlah masalah besar.
"Sibuk apa mereka? Seharusnya kalau punya etika dan sopan santun, mereka datang mengantar dan memasrahkan anaknya pada keluarga kita. Ini tidak, bahkan tidak ada ucapan apapun dari mereka," ujar Seroja. Terlihat jelas emosi dari nada bicaranya.
"Sudahlah, Bu. Tidak perlu memperpanjang masalah," sela Adnan ikut menimpali. Ia memperingati istrinya agar tidak melebarkan masalah.
"Tapi keluarga mereka sudah sangat keterlaluan, Mas. Mereka tidak menghargai kita, benar-benar seperti orang tidak berpendidikan!" ketus Seroja sembari menatap langsung wajah Niskala.
"I–Ibu maaf, keluargaku tidak ikut datang karena sedang ada urusan mendadak. Aku harap Ibu berkenan memaklumi," ujar Niskala. Suaranya lirih dan terbata-bata.
"Kamu tahu? Dengan begini kamu seperti anak yang dibuang keluargamu!" tukas Seroja. Sorot matanya lurus menatap ke arah Niskala.
Niskala terkejut saat mendengar ucapan Seroja. Tangannya reflek mengepal, tetapi Bhumi dengan sigap mengusap lembut punggung tangannya. Meski hanya tindakan kecil, tetapi hal itu sudah membuat Niskala lebih tenang.
"Ibu sudah, jangan membuat suasana menjadi tidak nyaman. Kami baru saja pulang, kami lelah dan butuh istirahat," ujar Bhumi. Ia merasa tak tega saat melihat Niskala yang hanya bisa diam sembari menundukkan kepalanya.
"Ibu belum selesai berbicara pada kalian berdua, Bhumi! Masih ada banyak hal yang ingin Ibu katakan. Jadi—"
Ucapan Seroja terhenti saat tangan Adnan menyentuh pundaknya. Ia reflek menoleh ke arah Adnan dan mengembuskan napas berat saat melihat Adnan menggeleng pelan.
"Kalian berdua pergilah ke kamar. Beristirahatlah dulu, nanti malam kita sambung obrolan kita. Tidak usah dipikirkan ucapan Ibu," kata Adnan menengahi.
Bhumi menganggukkan kepalanya. "Baik, Ayah. Kami ke kamar dulu," balas Bhumi. Setelah itu, ia pun mengajak Niskala untuk ke kamarnya.
"Kamu ini bagaimana sih, Mas? Aku masih mau berbicara dengan mereka. Kenapa kamu malah menyuruh mereka ke kamar?" desak Seroja begitu Bhumi dan Niskala sudah tidak terlihat lagi.
"Mereka lelah dan butuh istirahat, Bu. Sudahlah kamu ini tidak usah memperpanjang masalah," sahut Adnan, tegas.
"Aku tidak memperpanjang masalah. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Keluarga mereka benar-benar tidak punya sopan santun. Mereka—"
"Bu, apa Ibu tidak ingat siapa yang sudah membantu keluarga kita hingga bisa seperti ini? Kalau bukan karena keluarga mereka, hidup kita tidak seperti ini," potong Adnan. Tatapan matanya penuh peringatan untuk Seroja.
Seroja mendengkus sebal. Ia bersedekap sembari menatap sinis ke arah Adnan. "Kalau bukan karena perjanjian perjodohan gila kamu dan temanmu itu, aku tidak sudi punya menantu dari keluarga sepertinya!"
Adnan menghela napas berat. Sejak awal, Seroja memang menentang perjodohan yang telah ia buat bersama mendiang ayah Niskala. Namun, apa boleh buat? Janji tetaplah janji. Lagi pula Adnan juga merasa berhutang banyak kepada mendiang ayah Niskala yang sudah banyak membantunya.
"Sudahlah, toh yang menikah itu Bhumi," ujar Adnan sembari menenangkan Seroja.
"Kamu benar, untung saja bukan anakku yang menikah dengan dia. Kamu lihat tadi? Gadis itu terlihat tidak berkelas. Berbeda dengan kita," keluh Seroja.
Seroja merasa begitu bersyukur karena bukan anak kandungnya yang menikah dengan Niskala. Selain itu, sejak awal ia memang sudah meminta kepada Adnan agar Bhumi yang menerima perjodohan tersebut. Tentu Seroja tahu betul bahwa Bhumi akan menolaknya. Namun untungnya, ia memiliki seribu satu cara agar Bhumi bersedia dan menuruti ucapannya. Salah satunya adalah dengan cara ia meminta Adnan untuk mengancam Bhumi tentang posisi ahli waris.
"Bhumi akan sangat marah jika dia tahu yang sebenarnya." Adnan menghela napas panjang. Sejujurnya, ia merasa cukup kasihan dengan Bhumi. Namun apa boleh buat, Bhumi hanyalah anak dari istri keduanya.
"Biarkan saja. Aku tidak peduli. Lagi pula, dia harus berkorban jika ingin mendapatkan posisi sebagai salah satu ahli waris keluarga ini, kan?" Seroja tersenyum penuh arti. Sejak awal, ia tidak benar-benar menyayangi Bhumi. Ia juga tidak akan membiarkan harta warisan Adnan jatuh ke tangan Bhumi yang bukan anak kandungnya.
***
"Sepertinya Ibu tidak menyukaiku, Mas. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Niskala kepada Bhumi. Ia duduk dengan gelisah sembari menatap Bhumi yang justru terlihat tenang.
"Apanya yang bagaimana? Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Bersikaplah seperti biasa," jawab Bhumi. Ia memang tidak ambil pusing dengan perilaku Seroja.
"Tapi, Mas—"
"Niskala, jangan membuat saya semakin pusing! Lebih baik sekarang kamu mandi dan beristirahat," perintah Bhumi. Ia lelah melihat Niskala yang sedari tadi tampak uring-uringan.
Niskala menghela napas panjang. Ia kembali menenangkan hatinya yang kacau. Sepertinya, ucapan Bhumi memang benar. Ia tidak perlu mengada-ada dalam bersikap. Ia hanya perlu bertindak seperti biasa.
"Kamu tidak mau mandi dulu, Mas? Biar aku siapkan air dan bajunya," tawar Niskala setelah beberapa saat ia diam sembari menenangkan diri.
Bhumi tak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat lalu berkata, "Nanti saja, saya mau mengurus beberapa hal dulu."
Niskala menganggukan paham. Setelah itu, ia pun bergegas menuju kamar mandi. Sepertinya, air dingin akan membuat pikirannya jauh lebih tenang.
Sedangkan Bhumi, ia memilih berdiam diri di kamar dan berkutat dengan laptopnya. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan.
Beberapa menit telah berlalu. Bhumi begitu fokus menatap layar laptop. Tatapan matanya begitu serius. Begitu juga dengan raut wajahnya. Namun fokusnya mendadak buyar begitu ia mendengar suara Niskala.
"M–Mas maaf, baju-bajuku masih ada di koper. Kopernya masih di mobil, jadi bisa tolong kamu ambilkan dulu?" tanya Niskala sembari mencengkram erat handuk yang melingkar di tubuhnya.
Bhumi mengangkat sebelah alisnya sembari menatap Niskala dari atas hingga bawah. Penampilan Niskala yang hanya memakai selembar handuk membuat hatinya tergugah. Terlebih lagi, handuk itu tidak benar-benar menutupi seluruh tubuhnya.
"Niskala, kamu ... sengaja mau menggoda saya, hm?"