"Apa benar kalau aku ini bukan anak kandungmu, Bu? Apa benar kalau aku lahir dari perempuan yang tidak tahu di mana keberadaannya sekarang?" tanya Niskala—Kala. Tatapan matanya kosong, gurat kesedihan pun tergambar jelas dari wajahnya.
"Ya, kamu memang bukan anak kandungku, Kala! Kamu lahir dari perempuan s****l yang sudah menghancurkan rumah tanggaku!"
Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Niskala menegang. Kakinya gemetar dan napasnya mendadak terasa begitu sesak. Tak hanya itu, gemuruh di dadanya semakin menjadi seiring dengan air mata yang keluar membasahi pipinya.
Kini, Niskala paham mengapa dirinya diperlakukan berbeda dari saudaranya. Ia paham mengapa selama ini, tidak ada sedikitpun kasih sayang yang ia dapatkan dari sang ibu. Niskala benar-benar paham mengapa selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dari ibunya.
"Selama ini aku mati-matian menutupi ini semua, Kala. Aku muak harus berpura-pura menjadi ibu bagimu. Aku benci setiap kali melihat wajahmu itu!"
Niskala tertunduk. Pandangannya buram karena air mata yang semakin menganak sungai. Ia merasa lemas setelah mengetahui fakta bahwa dirinya bukanlah anak kandung sang ibu.
"Maaf, Bu. Maaf kalau kedatanganku ke rumah ini merusak kebahagiaan Ibu. Aku—"
"Aku tidak butuh permintaan maaf darimu, Kala! Yang aku butuhkan sekarang adalah kamu menerima perjodohan ini!"
Ya ... hari ini Niskala dipaksa untuk menerima perjodohan dengan pria yang tidak ia kenali. Hari ini pula, Niskala memberanikan diri menanyakan tentang status dirinya kepada sang ibu, karena merasa selalu dianak tirikan.
"Kenapa harus aku yang menerima perjodohan ini, Bu? Kenapa bukan kakak saja?" tanya Niskala.
"Tentu saja karena kamu harus membayar hutang budimu padaku, Kala! Kalau bukan karena aku yang sudah merawatmu, mungkin sekarang kamu sudah mati!"
"Tapi aku punya pacar, Bu. Aku tidak mungkin menerima perjodohan dengan orang yang tidak aku kenali. Lagi pula, siapa yang merencanakan perjodohan ini?" tanya Niskala.
Pikiran Niskala benar-benar kacau. Hidupnya yang sedari dulu sudah berat, kini semakin berat karena adanya perjodohan yang datang tiba-tiba.
"Yang merencanakan perjodohan ini adalah ayahmu yang sudah mati itu. Makanya, aku tidak mau tahu, kamu harus menerima perjodohan ini. Aku tidak peduli meskipun kamu sudah punya pacar."
"Bu, tapi aku benar-benar tidak bisa menerima ini. Aku tidak mau, aku ... biarkan aku menikah dengan orang pilihanku sendiri, Bu. Aku mohon," pinta Kala. Ia memohon agar ibunya membatalkan perjodohan.
"Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat, Kala! Kamu yang akan menerima perjodohan ini! Anggap saja sebagai balas budi dan permintaan maaf karena kehadiran kamu sudah membuat hidupku hancur!"
Keesokan harinya. Setelah perdebatan panjang yang tentu saja tidak bisa dimenangkan oleh Niskala. Gadis itu harus bertemu dengan pria yang akan dijodohkan dengannya.
Di sinilah Niskala sekarang. Di sebuah restoran ternama ia duduk berhadapan dengan seorang pria tampan rupawan dengan sorot mata yang begitu tajam. Namanya Raden Bhumi Mahardika, pria yang juga terpaksa menerima perjodohan dengan Niskala.
"Siapa namamu?" tanya Bhumi. Suara baritonnya mengalun rendah, terkesan dingin dan tidak ramah untuk Niskala.
"Namaku N–Niskala," jawab Niskala terbata. Ia gugup bahkan berkeringat dingin karena sedari tadi ditatap tajam oleh Bhumi.
"Kamu menerima perjodohan ini?" Bhumi kembali bertanya. Pria yang memakai kemeja hitam dengan lengan digulung itu bersedekap. Tatapan matanya dingin, tepat mengarah pada mata Niskala.
Hening ....
Niskala tidak langsung menjawab. Ia menunduk, mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab. Tangannya yang gemetar saling meremas satu sama lain. Sungguh demi apapun, Niskala merasa amat takut.
"A–Aku datang ke sini bukan untuk menerima perjodohan k–kita. Aku ingin menolaknya," jawab Niskala tanpa berani menatap wajah Bhumi.
Bhumi mengangkat sebelah alisnya. Ia cukup terkejut mendengar penolakan Niskala. Namun, raut wajahnya tetap begitu tenang. Seolah-olah tidak ada satupun emosi di dalam dirinya.
"Aku tahu kita sama-sama tidak menginginkan perjodohan ini. Jadi, bisakah kamu juga menolaknya, M–Mas?" imbuh Niskala kembali bertanya. Kali ini, ia memberanikan diri menatap wajah Bhumi.
"Apa alasanmu tidak menginginkan perjodohan ini?" Bhumi balik bertanya. Sikapnya yang tenang justru membuat Niskala semakin bertanya-tanya.
Niskala menghela napas pelan. Tatapan matanya lurus menerawang ke depan. Wajahnya mendadak muram dan mendung. Sorot matanya pun tak lagi berbinar.
"Aku sudah memiliki seorang kekasih, Mas. Kami saling mencintai dan berjanji akan menikah tahun depan. Aku benar-benar tidak bisa menerima semua ini, tapi ibu memaksaku," terang Niskala panjang lebar.
Bhumi tersenyum miring begitu mendengar jawaban Niskala. Jarang sekali ia menemukan perempuan yang dengan terang-terangan menolaknya seperti saat ini. Padahal biasanya, para wanita akan dengan suka rela memberikan apapun hanya untuk bersanding dengan dirinya. Kini, ia merasa sedikit tertarik kepada Niskala.
"Lalu, apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Bhumi sembari mengambil secangkir kopi hitam panas di atas meja.
"Seperti yang aku bilang tadi, Mas. Bisakah kamu juga menolak perjodohan ini? Mungkin semuanya bisa batal kalau kita berdua menolaknya," ujar Niskala dengan penuh harap.
"Sayangnya saya tidak punya alasan apapun untuk menolak perjodohan ini, Niskala. Meski saya membenci ini semua, tapi saya tidak akan menolaknya," balas Bhumi usai meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.
Niskala tertegun mendengar jawaban Bhumi. "Tapi kenapa kamu tetap menerima perjodohan ini kalau kamu tidak menyukainya, Mas?" tanya Niskala. Kali ini nada suaranya sedikit menuntut.
Bhumi menatap Niskala seksama. "Karena saya membutuhkannya. Jadi maaf saja, saya tidak bisa membantumu untuk menolak ini semua," jawab Bhumi.
"Tapi bagaimana dengan pacarku? Dia akan sangat kecewa jika tahu ini semua. Dia pasti akan marah," kata Niskala. Matanya sudah mulai memanas, air matanya pun merebak dan berkaca-kaca.
Mendengar perkataan Niskala, Bhumi justru tampak begitu puas. Entah mengapa Bhumi merasa begitu senang melihat raut putus asa di wajah Niskala.
"Itu bukan urusan saya, Niskala. Saya tidak mau tahu apapun tentang hubungan asmaramu. Yang jelas, pernikahan kita akan dilakukan secepatnya tanpa atau dengan
persetujuan mu," ujar Bhumi yang semakin membuat hati Niskala kacau.
Pupus sudah harapan Niskala untuk tidak menerima perjodohan dengan Bhumi. Niskala marah, ia benci dengan semua hal yang terjadi padanya. Sejak dulu bahkan hingga sekarang, ia tidak pernah diizinkan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
"Apa tidak ada pilihan lain, Mas? Kita tidak saling mencintai. Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai," kata Niskala. Ia benar-benar berharap Bhumi membatalkan semuanya.
Bhumi tak langsung menjawab. Namun sedikit kemudian, ia menyeringai tipis lalu berkata, "Kamu mau pilihan yang lain, hm?"
"Ya, katakan padaku, Mas. Apa ada pilihan selain pernikahan? Aku—"
"Puaskan saya malam ini, dengan begitu saya juga akan menolak perjodohan ini, bagaimana?"
Bersediakah Niskala menerima tawaran dari Bhumi? Atau is justru pasrah dengan perjodohan mereka?