“Hm?” Abi berdeham berusaha untuk menjernihkan kerongkongannya. “Kamu mau bicara apa?” Pria itu mau tak mau terpancing gugup karena ekspresi yang ditunjukan Naura melalui wajahnya pun memperlihatkan demikian. Apa? Kenapa Naura menunjukan ekspresi seserius itu? Ia bahkan bersimpuh seolah tengah dalam sebuah pengakuan dosa. “Saya mau ngaku sesuatu sama kamu.” Nah lho, baru saja Abi mengumamkannya dalam hati. Kini apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Well, Abi harap itu bukan benar-benar sebuah pengakuan dosa. “Pengakuan apa, jangan bikin saya takut.” Naura menelan salivanya susah payah. Menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan memelas juga penuh rasa bersalah. Naura tidak menjawab serta-merta pertanyaan Abi, melainkan seolah memberikan isyarat pada pria untuk duduk di dekat

