Bab 72

1917 Kata

“Lang, kapan kita bangun?” tanya Liana pada suaminya yang masih memejamkan mata. Padahal sudah bangun sedari tadi. Liana berada dalam dekapan, tak bisa melepaskan diri karena setiap hendak bergerak tapi ditekan lagi hingga menempel di kasur. “Nanti kalau sudah azan dzuhur.” Bukan itu sebenarnya jawaban yang diinginkan. Terlalu lama, bahkan mereka belum sarapan, tapi jarum pendek sudah menuju angka 10 pagi. “Apa kamu gila, tidur seharian? Yang ada badan kita panas.” “Gak pakai apa-apa, gimana bisa panas.” Liana tersadar, di balik selimut, dia tak mengenakan apa-apa, begitu juga dengan Elang karena rutinitas semalam dan terus berlanjut sampai pagi tadi. “Tapi tetap aja lengket.” “Kita udah bersihin tadi. Tisu pun belum kita buang.” Liana mendesah. Ada saja jawaban dari suaminya. Inti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN