"Hai adik ipar?"
"Hai juga Janu. Kamu tampak berbeda dengan yang dulu, ya."
Sapaan palsu dengan senyuman ditunjukkan Janu pada Seruni ketika ia berkunjung untuk membahas pernikahan yang akan diselenggarakan seminggu lagi.
"Bukankah seseorang harus berubah?" tanya balik Janu serasa menyindir Arletta yang berada di belakang Seruni.
"Ya, kamu benar. Berubah menjadi lebih baik, bukan?"
Janu tertawa menanggapi perkataan Seruni. Sejak dulu hanya Seruni yang tidak malu berteman, menyapa dan mengajaknya bicara. Sebenarnya ia tidak membenci wanita ini, tetapi hanya karena Seruni adalah saudara kembar Arletta. Hal itu membuatnya benci kepada semua orang yang telah menutupi kematian adiknya.
"Kapan kamu datang, Run?"
"Seharusnya Sabtu lalu, karena penerbangan tertunda akhirnya kemarin kami datang."
Keterlambatan pesawat itu memang disengaja oleh Janu, ia meminta tetangga sebelah rumah Seruni untuk menganggunya sebelum menuju ke bandara. Seruni yang tipe orang senang membantu, akhirnya tertipu dengan permintaan tetangganya tersebut.
"Anda sudah tiba, Tuan Janu."
Ridwan yang baru datang dari kantor, menyapa hangat dan mempersilakan Janu untuk duduk. Senang atau tidak, mereka harus menerima Janu sebagai menantu keluarga Irawan kelak.
"Ayah .....!"
Eila lari memanggil Janu, gadis kecil berkepang dua itu merenggangkan tangannya memeluk sang ayah yang berdiri di ruang tamu.
"Dari mana putri kecil ayah?"
Janu menyambut pelukan Eila lalu menggendongnya dan mencium kening yang membuat gadis kecil itu tertawa senang. Ia bahagia sekali ketika ayahnya berkunjung.
"Eila dari dokter, Yah. Tadi malam Eila sesak napas."
"Nak, jangan ganggu ayahmu. Turun yuk dan kita mandi," perintah Ridwan yang tak ingin menganggu Janu.
"Apa Eila tidak minum obatnya?"
Janu menatap ke arah Arletta, ia sampai lupa jika sang putri memiliki gangguan pernapasan sejak kecil yang disebut asma.
"Setiap hari kami yang mengingatkannya," sahut Izah.
"Jangan berlebihan, aku tahu apa yang kulakukan pada putriku," timpal Arletta yang tak suka dengan tatapan Janu.
"Kalau Eila putrimu, seharusnya kamu menjaganya dan jangan biarkan apapun membuatnya sakit." Janu berkata dengan ketus.
Eila yang tak tahu apapun, hanya bisa melihat perdebatan antara orang dewasa di sekelilingnya. Seruni yang memperhatikan sejak tadi mengalihkan perdebatan mereka.
"Eila, aunty boleh minta tolong? Jagain si kembar ya. Sebentar saja."
"Baik Aunty," ujar Eila turun dari gendongan Janu dan berlari menuju kamar Seruni.
"Jangan menyuruh anakku menjaga anakmu, Seruni."
Seruni tersenyum mendengarnya, perkataan tersebut tidak menyinggung dirinya melainkan Arletta. Untung saja ia sempat memegang lengan kembarannya agar tidak bertindak gegabah.
"Janu, apa kamu ingin Eila mengalami hal serupa denganmu di masa kecil?" tanya Seruni terkesan menyindir.
"Jangan berdebat atau bertengkar di depan anak. Jangan menimbulkan luka di hati anakmu, Janu."
Arletta puas sekali mendengarnya saat melihat Janu terdiam ketika Seruni mengatakan hal tersebut.
"Sekarang mari kita bahas mengenai tanggal pernikahannya, Tuan Janu. Silakan ikut saya menuju ruang kerja," ajak Ridwan beserta Izah ke ruangan tengah tempat kerja.
"Nggak nyangka kamu bisa seperti itu, Run."
Arletta mengacungkan jempolnya, ia memang belum mempercayai jika kembarannya juga memiliki sisi sifat yang lainnya, berani melawan perkataan seorang Janu.
Pembahasan mengenai pernikahan tersebut membuat Arletta dan keluarga lainnya bungkam. Janu tak menginginkan pernikahan megah dan terlihat di muka umum, ia hanya menikah di catatan sipil. Hanya kerabat dekat saja yang datang dan mereka akan menempati rumah baru di luar kota.
Awalnya Ridwan maupun Izah menolak, tetapi pada akhirnya mereka menyetujui tanpa proses yang rumit. Itu semua sudah direncanakan Janu sebelumnya. Jika menolak maka Janu tak akan membantu keuangan Ridwan.
"Aku akan mengajak Eila ke rumah untuk mengenalkan pada kakeknya."
Tanpa basa-basi, Janu langsung membawa Eila dan menggendongnya menuju mobil. Tentu saja gadis kecil itu tampak senang dan tidak peduli dengan perkataan Arletta.
*****
"Ayah ini siapa?" Tangan mungilnya menunjuk sebuah foto besar yang memperlihatkan seorang gadis remaja sedang naik sepeda.
"Namanya Naisha. Itu adiknya ayah dan aunty-nya Eila."
"Lalu di mana aunty Naisha?"
"Pergi ke surga," sahut Janu sembari memangku Eila di kursi kerjanya.
"Meninggal, Yah?"
Janu berdehem tanpa mau menjawab melalui perkataan. Ia terlalu sakit jika mengingat bagaimana sang adik menjadi gila, dirawat di rumah sakit dan berakhir dengan bunuh diri.
"Karena apa? Sakit, ya?"
Eila itu ibarat Arletta yang cerewet dalam versi anak kecil, tetapi wajahnya hampir menyerupai Naisha. Terkadang tanpa sadar Janu sering mengenang sang adik melalui Eila.
"Iya sakit di sini," kata Janu menunjuk jarinya ke d**a Eila. Eila berpikir jika aunty-nya meninggal karena jantung.
"Ayah, apa nanti Eila bisa berkumpul dengan ayah dan ibu?"
Tatapan lembut ditujukan Eila, ia tersenyum dan meletakkan kepalanya di d**a bidang sang ayah. Janu membelai rambut Eila dan menciumnya.
"Tentu saja seminggu lagi, kita berkumpul di rumah ini."
"Oh, ya? Jadi ayah akan mengantarkan Eila ke sekolah setiap hari, bukan?"
Janu mengangguk, ia menyayangi putri kecilnya dan akan membuatnya bahagia. Sejak tahu Arletta melahirkan anaknya dengan bersembunyi di kota kecil di luar negeri, ia segera mengawasi setiap pergerakan Arletta dan Eila.
"Sekarang Eila tidur bersama ayah, ya?"
"Kalau ada ibu nanti. Eila juga tidur sama kalian, ya?"
Janu memang tahu mengenai kembang tumbuh Eila, tetapi ia belum pernah merasakan sedekat ini dengan sang putri. Setiap bulan bahkan sebelum Eila lancar membaca, ia sudah mengirimkan surat dan boneka kelinci yang selalu dibawa Eila.
Tak ada yang tahu memang jika Janu itu licik, ia yang memasang kamera kecil di boneka tersebut dan dari sana ia tahu jika hotel milik Ridwan berada dalam masalah.
"Anakmu sudah tidur?" tanya pria tua di ruang kerjanya.
"Sudah, Yah."
Tuan Manendra selaku ayah Janu tampak tak menyukai kelakuan sang anak yang dinilainya terlalu berlebihan dalam menuntut balas.
"Apa kamu tetap melakukan balas dendam ini?" tanya Manendra penuh selidik, ia meminum bir kaleng lalu menghabiskan perlahan.
"Tentu saja. Bukankah wanita itu yang sudah membunuh Naisha?"
"Dan kamu menjadikan anakmu sendiri sebagai senjata untuk menikahi dan menyiksa wanita itu kelak. Apa begitu, Janu?"
"Aku akan terus menyiksa wanita itu sampai ia bisa merasakan neraka yang sesungguhnya," kata Janu dengan senyuman liciknya.
Manendra tahu jika Arletta sering merundung Naisha waktu SMP bahkan sempat membuat anaknya hampir tenggelam. Namun bukan hanya Arletta saja yang menjadikan anaknya gila melainkan dirinya dan mendiang istrinya juga.
"Tapi bukan hanya wanita itu yang membuat Naisha gila, Janu. Tapi juga pertengkaran ayah dan ibu."
Manendra menyesali perbuatannya dulu di mana ia sering bertengkar dan menampar Juliana sang istri hanya karena masalah sepele. Naisha memiliki masalah psikis dan gadis kecil itu tak kuat saat ibunya bunuh diri di depannya hingga menyebabkan ia melakukan hal yang sama.
"Karena itulah aku membenci kalian semuanya!"
"Apa kamu tak bisa melupakan peristiwa itu, Janu? Kasihan Arletta jika harus mengalami seperti ibumu. Ayah menyesal telah melakukannya."
"Hentikan perkataan kosongmu itu! Aku tak akan berbuat baik padanya bahkan sekalipun ia meninggal."
"Jangan sampai kamu menyesali nanti, Janu. Jangan seperti ayah yang terlambat untuk meminta ampun," ucap Manendra berdiri menggunakan tongkatnya.
Janu memiringkan senyuman lalu tertawa keras sebelum sang ayah keluar dari ruangan kerjanya. Manendra tak ingin Eila mengalami hal yang sama dengan Naisha, korban keegoisan orang tua.
=Bersambung=