Part 18 Dia Milikku

1119 Kata
Sudah seminggu Janu tak berbuat kasar atau menyentuhnya sama sekali sejak kejadian ketika Arletta bertanya mengenai Pingkan. Tak masalah bagi Arletta, ada dan tidaknya pria itu tak membuat hidupnya bahagia. Ia juga tak ambil pusing jika Janu sering keluar malam asal tak bersama Pingkan. "Om Dani, ayah ke mana? Kenapa tidak kelihatan dari kemarin?" tanya Eila sewaktu bertemu Dani di dapur. Yang selalu merindukan Janu tentu saja Eila, tiap pagi Eila selalu ditemani dan kadang diantar oleh sang ayah. Namun, dua hari ini ia tak menemukan Janu di kamarnya. "Ayahnya Eila ada urusan bisnis dua hari ini. Jadi Eila ke sekolahnya sama ibu dulu." Gadis kecil itu berusaha menerima, karena ia tahu jika uang dari ayahnya untuk membiayai sekolah. Itu yang ada di pikirannya. "Bagaimana kalau kita belanja ke minimarket, Eila?" Arletta bertanya demi sang anak senang dan melupakan Janu sejenak. "Tapi nanti kita mampir ke butiknya Aunty, ya?" Arletta tersenyum dan mengangguk, dua hari ini Eila uring-uringan mencari Janu yang sedang bekerja di luar kota. Ketika Janu pergi, setidaknya membuat Arletta lega. Tak ada bentakan, pukulan atau sentuhan kasar. "Tapi nona Arletta. Tuan Janu melarang anda," sela Dani yang tak mengijinkan mereka keluar. "Kami hanya sebentar, Dani. Tidak akan lama dan aku mohon jangan kamu perlakukan kami seperti Janu. Eila masih kecil, tidak sepatutnya anak sekecil itu dikurung," kata Arletta menatap Dani dengan memohon. "Ayolah Om Dani, Eila pengen ke minimarket dan ke butik Aunty. Cuma sebentar kok," rengek Eila sembari memegang tangan Dani dan mata bulatnya berkedip-kedip. "Apa kamu tak kasihan pada gadis kecil itu, Dan?" Manendra membantu mereka agar diijinkan. Manendra tahu seminggu ini bagi anak sekecil Eila yang hanya keluar saat sekolah memang membosankan. "Nona mau ke minimarket, bibi titip bahan dapur, ya," sahut Norma mengedipkan mata ke arah Arletta. "Baiklah hanya sebentar saja dan jangan sampai sore pulangnya, Nona." Akhirnya Dani memberi ijin setelah ia kalah bicara dengan orang-orang yang ada di dapur. "Terima kasih, Dani," ucap Arletta tulus. Setelah mendengar perkataan dari Dani, Eila langsung gembira dan ia langsung mengambil tas di kamarnya. Bagi Arletta, apapun akan ia lakukan untuk melihat senyum dan tawa bahagia Eila. "Bersenang-senanglah, Nak. Jika Janu datang, biar ayah yang bicara." "Terima kasih, Yah." Manendra mengerti keadaan Arletta selama menikah dengan Janu, sudah hampir dua bulan menjalani pernikahan tak ada kebahagian di mata Janu. Manendra tak lagi membenci Arletta akan kelakuan wanita itu pada Naisha. Ia tahu semua letak kesalahan penyebab kematian Naisha adalah dirinya. **** "Ibu, apa Eila boleh beli ini untuk orang rumah?" Seperti kebiasaannya sewaktu tinggal di rumah Ridwan, Eila selalu membawa makanan dari luar untuk penghuni rumah. "Ibu, punya uang, bukan?" Tatapan polosnya membuat Arletta ingin tertawa, tak mungkin ia mengajak Eila ke sini dan berbelanja jika tak memiliki uang. Meskipun sudah tidak bekerja di luar, pesanan selalu mengalir. Lukisannya masih menjadi daya tarik semua orang. "Tentu saja ibu punya, Nak. Memangnya Eila mau beli apa?" "Beli es krim, Bu," kata Eila membawa dua kotak besar es krim. "Baiklah tapi ingat Eila tidak boleh mengambil es krim banyak, ya." Minimarket ini membawa kenangan bagi Arletta sendiri, ia sering ke sini bersama Seruni saat Brian dan Sadhana masih ada. Tanpa terasa air matanya menetes jika teringat hal itu. "Kamu Arletta, bukan?" Sapaan dari seorang pria di sampingnya membuat Arletta bingung. Ia tidak mengenali pria ini, tetapi orang itu tahu namanya. "Maaf, anda siapa?" "Ya ampun Let. Kamu kok bisa lupa sama aku? Ini aku Ranajaya teman sekampus kamu," sahut pria itu mengingatkan. "Rana? Yang suka membantah dosen, kan?" "Ya benar kamu. Apa kabarnya, Let?" Rana pemuda tinggi dan berkulit putih itu tampak tersenyum saat melihat teman kampus yang sudah lama tak berjumpa. "Om siapa? Kok kenal sama ibunya Eila?" "Oh Om ini temannya ibu, Nak." Rana yang melihat Eila, mengernyitkan dahi. Ia tak menyangka jika Arletta sudah menikah dan memiliki anak. "Ini anakmu?" "Iya Om. Eila anaknya Arletta," kata Eila memprotes karena pria itu tak mempercayainya. "Eila kok bicaranya seperti itu, Nak," tegur Arletta sembari menggelengkan kepala. "Maaf aku yang salah, Let. Anakmu lucu juga, ya." Arletta merasa tak enak dengan Rana, Eila memang dikenal dengan gaya bicaranya yang ceplas ceplos tanpa melihat perasaan orang itu. "Eila, mau makan itu nggak? Om traktir Eila sama ibu," rayu Rana menunjuk ayam goreng di depan minimarket. "Tidak usah Rana. Kami harus segera pergi," sanggah Arletta yang tak mau merepotkan. "Eila mau, Om." "Tapi Eila, kita belum ke Aunty" "Nggak apa-apa, Let. Cuma sebentar lagipula aku ingin temu kangen sama kamu." Karena paksaan dari Rana akhirnya Arletta mau dan hal tersebut membuat Eila senang, karena ia merasa bosan berada di rumah. **** "Kukira Eila anakmu dengan Sadhana. Maaf, Let. Aku nggak tahu karena tiba-tiba saja kamu menghilang begitu saja dan berita yang terakhir aku dengar kamu ada di luar negeri untuk meneruskan kuliah." "Nggak masalah, Rana. Aku juga mendadak perginya." "Lalu kamu menikah dengan jodoh dari orang tuamu setelah Sadhana meninggal?" Arletta sebenarnya tak mau membuka kisah lama dan terpaksa ia berbohong. Tak mungkin dirinya mengatakan jika Eila merupakan anak dari pelecehan yang ia alami. "Iya tepat lima bulan setelah Sadhana meninggal, ayah maupun ibu tak mau aku terpuruk terus." Semakin lama Arletta berpikir jika ia pandai dalam berbohong dan menampilkan drama seperti di televisi. Mau tak mau ia harus melakukannya agar tidak ada yang tahu mengenai masa lalunya. "Aku lihat kamu berubah, Let. Tadi kukira salah mengenali kamu ternyata benaran itu Arletta si pelukis terkenal," kekehnya melihat Arletta yang dinilai tak seperti dulu. "Iya itu karena aku sudah punya putri dan menjadi seorang ibu. Tentu saja berbeda," kata Arletta memperhatikan Eila yang sibuk bermain di kolam bola dan belarian. Rana merasakan ada hal yang beda, bukan karena Arletta sudah menikah tetapi ada sesuatu yang disembunyikan. Ia kenal dekat dengan Arletta, karena Sadhana adalah sahabat karibnya. "Apa itu ayahnya Eila?" tanya Rana menunjuk seseorang yang menggendong Eila dan menuju ke meja mereka. Arletta tentu saja terkejut melihat Janu yang menghampirinya dengan sorot mata tajam dan menusuk, pria itu tak ada senyum atau sapaan saat Rana menyapanya. "Maaf Tuan, ini anak dan istri saya. Tolong jangan terlalu dekat dengannya," kata Janu sambil memegang pergelangan tangan Arletta denga erat. Arletta meringis, Rana melihatnya. "Oh maaf Tuan. Arletta dan saya dulu bersahabat waktu kuliah. Jadi saya---" "Cepat masuk ke mobil dan jangan membantah!" Janu memaksa Arletta dan mendorong tubuh kecilnya agar segera beranjak dari sana segera. Ia tak mau Arletta bersama siapapun selain dirinya. "Maaf Rana. Aku harus pergi dulu," ujar Arletta pelan dan mengambil tasnya. Akhirnya Rana mengetahui perubahan Arletta yang ceria menjadikan wanita itu tampak murung dan tak bersemangat. "Jangan ganggu Arletta dan anak saya, Tuan," kecam Janu sebelum pergi. "Tujuan anda menikahi Arletta karena apa, Tuan Janu?" Rana bertanya sembari tersenyum penuh kelicikan dan menatap Janu penuh kebencian. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN