Ratih menatap apartemen di seberang jalan dengan linglung. Butuh beberapa saat baginya untuk bereaksi. Dia buru-buru mengangkat telepon dan menelepon Tengku Ammar. “Halo, kamu di mana?” Ratih melihat ke depan dan bertanya. "Di rumah. Ada apa?" kata Tengku Ammar ringan. Ratih mencibir dan tidak bisa menahan tangis. Dia bertanya dengan suara tercekat, "Kamu di rumah yang mana?" "Baiklah, aku ada urusan di sini. Kita bicara nanti saja!" kata Tengku Ammar sambil menutup telepon. Ratih memegang telepon dan mendengarkan bunyi bip. Hatinya hancur. Dia membungkuk untuk mengambil teropong dan mengarahkannya ke apartemen di seberang jalan lagi. Pria itu sudah berdiri, dan wanita itu pun segera berdiri dan melemparkan dirinya ke arahnya. Pria itu memeluk wanita itu erat-erat dan mendekapnya.

