"Mati atau Disiksa? Pilih mana?" **** "HAHAHAHAHHAHAHA...." Tawa Danisya menggelegar di seluruh ruangan untung saja gudang jauh dari ruangan lain. Danisya jongkok melihat ke arah Fedrick yang menahan sakitnya tapi tidak bisa menggerakkan badannya. Danisya pun mengankat tangannya tinggi-tinggi menancapkan jepitannya ke mata Fedrick. "ARGHHHHHHHHH!!!!" "DANISYAAAAAAAAA...." **** Charlotte datang untuk menghentikan ulah adik angkatnya itu. Dia tidak mungkin membiarkan adiknya membunuh temannya sendiri. Apalagi dengan cara keji seperti itu. Dia masih memiliki perasaan untuk tidak melihat temannya untuk di bunuh di depan matanya. "Kakak dateng juga, aku kira Kakak cuma lihat dari jauh. Tapi, enggak papa deh sekali-kali di temenin sama Kakak,

