Aliyah masuk ke kamar dengan kaki yang dientak-entakkan ke lantai, memberi tanda agar kehadirannya disadari oleh Adnan yang saat ini duduk bersandar di ranjang king size mereka. Wanita paruh baya itu meletakkan tas Chanel-nya di meja rias, kemudian melipat kedua tangan di depan d**a dan menatap nyalang ke arah sang suami yang masih belum mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. “Kamu benar-benar enggak mau jenguk Nesya, Pa? Aku baru aja dari sana dan Nesya masih ada di ruang ICU. Dia belum sadarkan diri selama hampir dua minggu. Apa kamu enggak mau menemuinya?” Adnan mengembuskan napas sesaat, kemudian mengalihkan pandangan ke arah sang istri yang saat ini berdiri di depan ranjang sambil bersedekap. “Aku malu, Ma. Aku malu menunjukkan wajah penuh dosa ini di hadapannya. Aku bukan ayah

