Bagian 6

1383 Kata
"Kamu enggak makan, Ma?" tanya Adnan ketika melihat istrinya tak kunjung menyentuh nasi goreng yang telah tersaji di piring. Wanita yang masih cantik meski usianya menginjak kepala empat itu menggeleng lemah. "Ini sudah siang, tetapi Nesya belum turun untuk sarapan. Apa dia tidak masuk sekolah hari ini?" Nada khawatir sangat kentara di setiap katanya. Adnan meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya secara kasar hingga menimbulkan suara nyaring, membuat tatapan Aliyah yang sedari tadi tertuju pada anak tangga beralih ke arah suaminya yang tampak geram. "Mau dia sekolah atau tidak, itu bukan urusan kamu lagi, Ma!" "Sebentar lagi Nesya akan menghadapi ujian nasional. Mama tidak ingin dia ketinggalan banyak pelajaran." Aliyah mengembuskan napas secara perlahan agar tak ikut tersulut emosi. "Mama juga ingin yang terbaik untuk masa depan Nesya," lirihnya. Adeeva menggenggam kuat sendok dan garpu hingga membuat telapak tangannya tampak memerah, ia tak terima jika mamanya selalu saja membela kakak tirinya yang jelas-jelas tak pernah berbuat baik kepada mereka, yang ada kakaknya itu selalu menyakiti perasaan orang-orang terdekatnya. "Terserah kamu mau bilang apa!" Adnan tampak tak acuh. Suara derap langkah kaki seseorang tengah menuruni anak tangga, membuat semua orang yang ada di ruang makan memalingkan wajah mereka ke arah sumber suara. Nesya yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abu itu, secara perlahan-lahan menuruni anak tangga satu per satu, tak dipedulikannya bengkak karena menangis semalaman, yang terpenting hari ini ia harus pergi ke sekolah. Dengan cekat, Adnan memalingkan wajahnya, tak ingin terlalu lama menatap Nesya yang saat ini tengah berjalan menuju meja makan. "Nesya. Ayo, sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah." Adeeva memutar bola matanya, kesal karena mamanya lebih memperhatikan Nesya daripada dirinya. Nesya melangkah ragu menuju kursi kosong yang berada tepat di samping kiri papanya. Langkah Nesya terhenti saat Adnan mendorong kursinya ke belakang, mengambil jas hitam yang tersampir di punggung kursi dan tas kerjanya. "Papa berangkat kerja dulu, ya, Ma." Sontak, Aliyah berdiri dari kursi dan meraih tangan Adnan yang berada di samping tubuhnya untuk dicium. "Hati-hati, ya, Pa." Adnan berjalan menuju Adeeva---putri kesayangannya---yang duduk tepat di samping kiri Aliyah. "Papa berangkat dulu, ya, Sayang," pamitnya sembari mengecup puncak kepala Adeeva singkat. Adeeva tersenyum manis menanggapinya. "Hati-hati, ya, Pa." Adnan menggangguk lalu mengacak rambut putrinya yang terkucir kuda dengan gemas. Nesya yang melihat kedekatan papanya dan Adeeva hanya bisa menghela napas panjang. Berpikir bahwa ia tak mungkin mendapatkan kasih sayang sebesar itu dari sosok ayah yang selalu dirindukannya selama ini. Setelah berpamitan dengan istri dan anaknya, Adnan bergegas menuju pintu utama, tanpa sedikit pun menghiraukan keberadaan Nesya yang sedari tadi bergeming di belakang kursi yang ditempatinya tadi. Nesya hanya bisa menatap nanar punggung Adnan yang masih terlihat kokoh, meskipun usianya sudah menginjak kepala lima. Nesya meremas kuat dadanya, berusaha menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya. Ia menyadari, tak dianggap oleh orang yang ia sayangi  itu rasanya sangat menyakitkan. Namun, penyesalan yang ia rasakan saat ini sudah tak berarti lagi. "Nesya?" Suara lembut milik Aliyah seketika mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Dengan cekatan, Aliyah mengambil nasi goreng buatannya "Ayo duduk, Sayang! Mama ambilin—" "Aku sarapan di sekolah aja." *** Bel istirahat telah bergaung di seluruh penjuru SMA Nusa Indah, semua siswa pun berhamburan keluar kelas untuk pergi ke kantin, mengisi perut mereka yang sudah keroncongan atau sekadar me-refresh pikiran, kecuali Nesya dan kedua temannya---Isthy dan Tyas. Isthy dan Tyas memang sangat setia kawan, mereka tidak akan keluar atau pergi ke mana pun jika Nesya tidak pergi. Isthy memasukkan buku tulis dan LKS-nya ke dalam tas hitam yang ia taruh di atas meja. "Lo nanti setelah UN ikut prom night enggak?" Tyas mengedikkan bahu. "Gue, sih, makmum," ujarnya, tanpa  Isthy yang berada di sampingnya, ia masih sibuk dengan benda pipih berbentuk persegi panjang yang berada di genggaman. Isthy memutar bola matanya. "Kalau lo gimana, Nes?" Hening. Nesya tak kunjung menjawab pertanyaan Isthy, ia masih setia menampakkan punggungnya. Hingga enam puluh detik berlalu, Nesya tak juga membalikkan tubuh atau menjawab petanyaan Isthy. Isthy yang menyadarinya pun langsung menyenggol lengan Tyas pelan, membuat gadis bertubuh semampai itu mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya. Isthy dan Tyas pun bangkit dari kursi untuk menghampiri Nesya yang sedang duduk termenung dengan bertopang dagu, mirip seperti orang linglung. Tyas duduk di kursi, tepat di samping kanan Nesya, sedangkan Isthy duduk di atas meja. "Kenapa muka lo ditekuk kayak gitu. Ada masalah?" Suara Tyas seketika menyadarkan Nesya dari lamunan panjangnya. "Hah?" Nesya menggeleng kemah. "Enggak kenapa-napa, kok." Hening. Ia hanya diam, melanjutkan kegiatan yang sempat dihentikan oleh pertanyaan sahabatnya. Nesya menegakkan tubuhnya, tiba-tiba ia teringat sesuatu.  "Umm, tapi ... gue mau minta tolong ke kalian." Senyum licik mengembang di bibir merah alaminya. Tyas dan Isthy saling bertatapan. Keduanya saling menautkan alis dan dalam waktu bersamaan, mereka menatap lekat wajah Nesya yang tampak berbinar. "Minta tolong apa?" *** Bel pulang telah menggema di seluruh penjuru sekolah SMA Nusa Indah sejak lima menit yang lalu. Satu per satu siswa mulai meninggalkan kelas, terutama Adeeva dan salah seorang teman baiknya. Namun, belum sampai di gerbang sekolah, Adeeva berpamitan kepada temannya, ingin ke toilet sebentar karena sudah tidak bisa menahan sesuatu yang akan keluar dari pangkal tubuhnya. Setelah sang teman mengiakan, gadis itu pun bergegas ke toilet yang terletak tak jauh dari musala. Adeeva menutup pintu bilik salah satu toilet seraya mengembuskan napas lega ketika sesuatu yang ditahannya sejak jam terakhir pelajaran keluar dengan lancar. Dia pun langsung keluar setelah menuntaskan hajatnya. "Akkkhh," Adeeva menjerit keras ketika tiba-tiba kepalanya diguyur oleh cairan yang cukup menyengat indra penciuman, membuat seragamnya ikut basah dan kotor. Nesya meletakkan kedua tangannya di depan bibir sambil menyeringai. "Ups, sorry." Adeeva menggenggam telapak tangannya kuat, giginya saling bergemelatuk, menahan amarah yang saat ini membuncah di dalam d**a. "Apa yang sebenarnya kalian lakukan?!" tanyanya geram. Sudut bibir Nesya terangkat ke atas, membentuk seulas senyum sinis. "Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekacauan yang lo perbuat sehingga Papa benci sama gue." Nesya menatap tajam Adeeva yang juga membalas dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Itu juga karena kesalahan Kakak. Kenapa Kakak--" "Eh lo nyolot banget, ya, jadi orang?! Lo orang apa binatang, sih?!" Tyas yang sedari tadi geram melihat tingkah Adeeva, kini angkat bicara. Tak berbeda dengan kedua sahabatnya, Isthy pun mendorong bahu Adeeva dengan kasar, tetapi untung saja gadis berparas ayu itu tak sampai jatuh karena ada tembok yang menopang tubuhnya. Adeeva menatap tajam kedua sahabat kakaknya secara bergantian, seolah-olah ingin menantang mereka. "Apa lo lihat-lihat? Turunin pandangan lo atau gue cokel tuh mata," ancam Isthy sadis. Ancaman Isthy tak sedikit pun menyurutkan kegigihan Adeeva untuk menantang mereka. Isthy mendesis kesal. "Dasar lo—" "Cukup! Biar gue yang urus." Nesya melangkah, mendekati Adeeva yang menatapnya dengan angkuh. Tiba-tiba gendang telinga Adeeva menangkap derap langkah kaki seseorang. Dengan cekat, ia meluruhkan tubuhnya ke lantai, seolah-olah ia sedang di-bully oleh senior. "Maafkan saya, Kak. Saya tidak tahu apa-apa. Tolong jangan bully saya!" Adeeva menangkupkan kedua tangannya di depan d**a, seperti orang memohon. Nesya, Isthy dan Tyas yang melihat perubahan sikap Adeeva pun hanya mengernyitkan dahi, bingung. "Apa yang kalian lakukan?!" *** Kaki panjang Alvino melangkah, menuju tempat parkir untuk bergegas pulang sebelum wanita yang sangat dicintainya itu menunggunya terlalu lama. Langkah kaki Vino terhenti ketika gendang telinganya menangkap suara jeritan seorang wanita dari arah toilet siswi. Hatinya tergerak ingin melihat apa yang terjadi di dalam sana, namun siswa laki-laki yang memasuki toilet siswi termasuk pelanggaran yang cukup berat. Vino menggeleng kuat, ia menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya kembali secara perlahan. Ia akhirnya bertekad untuk masuk, toh ini sudah jam pulang dan ia juga memiliki niat baik untuk menolong bukan bermaksud buruk. Dengan langkah mengendap-endap, Vino mulai melangkahkan kaki ke dalam toilet. Netranya mengedar, takut jika ada orang yang melihatnya tengah mengendap-endap. Mungkin, mereka akan berpikiran kalau Vino adalah orang c***l. Netra Vino seketika membelalak melihat pemandangan tak lazim yang terpampang di depannya. "Apa yang kalian lakukan?!" Dilihatnya, keempat gadis yang tak asing lagi baginya itu memalingkan wajah ke arahnya. Salah satu dari keempat gadis itu memutar bola matanya jengah. "Kenapa sih lo selalu ikut campur sama urusan gue?" Nesya berkacak pinggang, marah karena pemuda itu selalu saja ikut campur dengan semua masalahnya. Langkah Vino sedikit bergesa-gesa menghampiri Adeeva yang keadaannya tampak mengenaskan. Tak dipedulikannya lagi pertanyaan dari Nesya, secara cekatan, ia membantu Adeeva berdiri dan menyampirkan jaket yang dipakainya tadi di bahu Adeeva agar gadis itu tak kedinginan. "Ini sudah berkali-kali kalian melakukan pelanggaran yang tak bisa dimaafkan," ujar Vino memberi penekanan di setiap katanya. Mata Nesya mengedar, tak acuh dengan perkataan yang dilontarkan oleh Vino. Ia tampak muak dengan sikap pemuda di depannya yang menurutnya terlalu sok. "Dia adik gue, jadi terserah dong gue mau ngelakuin apa ke dia." Sontak, Vino membelalakan matanya. Sedetik kemudian, ia melemparkan tatapannya ke arah Adeeva yang sedikit ketakutan untuk meminta penjelasan darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN