“Sayang, bangun. Kita sudah sampai.” Nesya menepuk lembut pipi gembil Ara, membuat gadis kecil itu menggeliat pelan. Ara mengubah posisi menjadi duduk, lalu mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menyesuaikan retinanya dengan cahaya. Dia mengucek-ucek mata, kemudian menguap lebar. “Kita sudah sampai rumah, ya, Ma?” Nesya menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah menggemaskan putrinya. “Iya, Sayang. Yuk, turun,” ucapnya lembut seraya merentangkan tangan lebar-lebar. Dia saat ini berdiri di depan pintu penumpang bagian belakang, sedangkan Vino sudah menunggu di belakangnya. Gadis kecil itu menghambur ke dalam pelukan sang mama dengan tangan yang terus mengucek-ucek mata. “Udah bangun anak Papa?” tanya Vino berbasa-basi seraya memperbaiki turban sang putri yang sedikit berantakan. Ara men

