Makhluk Banua Toru

1907 Kata
Siapakah Maruap, yang membuat seorang perempuan Belanda dengan kasta di atas pemuda Batak tersebut tergila-gila? Secara perawakan, Maruap tak jauh berbeda dari pemuda-pemuda yang sesuku darinya. Otot rahangnya tebal dan perkasa. Dagu agak mengotak. Kulit lebih gelap dari suku-suku lainnya di tanah Sumatera. Namun secara logat dan cara bicara, dirinya lebih mirip dengan orang-orang di daerah pesisir timur, yang berdekatan dengan Selat Malaka. Tak heran, dia memang lahir di daerah Berastagi, yang agak mendekati pesisir. Umumnya, masyarakat di daerah itu lebih berbahasa Melayu ketimbang Batak. Ibu Maruap pun ada sedikit darah Melayu dan China. Daerahnya tinggal--juga sekitarnya--merupakan salah satu kantung China di tanah Sumatera. Seperti kebanyakan orang Batak lainnya, Maruap cukup setia memegang adat. Keluarga ayahnya salah satu pengikut dari agama lokal di daerah Tapanuli. Ayahnya bahkan percaya Sisingamaraja itu turunan dari dewa-dewa; turun langsung dari banua ginjang untuk memerintah suku Batak yang terkenal keras kepala dan berkepala batu. Yah, hampir mirip dengan kisah Isa Almasih turun ke dunia dan mengambil rupa seorang manusia. Namun sejak berkenalan dengan Sylvie, segalanya berubah. Maruap tak lagi mengikuti adat dengan kukuhnya. Penyembahan-penyembahan lama ditinggalkannya demi penyembahan barunya ke penguasa banua ginjang yang baru yang dikenalnya karena cintanya ke Sylvie. Sylvie mengenalkan Maruap akan sosok Isa Almasih dan bundanya yang maha kudus, Siti Maryam. Dari mata turun ke hati. Dari hati naik kembali ke kepala. Pikiran Maruap dirasuki akan pengetahuan barunya akan ajaran Isa Almasih. Rupanya kesaktian Isa Almasih lebih hebat daripada dewa-dewa yang selama ini dikenalnya. Apa selama ini Isa lebih perkasa daripada Sisingamangaraja? Begitu pikir Maruap setelah mendengarkan cerita Sylvie soal bagaimana Isa bangkit dari kubur setelah disiksa di atas kayu salib. Oh, awal mula Maruap berkenalan dengan Sylvie itu saat keluarga Sylvie mendatangi kebun kelapa sawit keluarga Maruap. Kebun itu sangat luas sekali. Juga, kelapa sawit dari perkebunan milik Ramli, ayah Maruap, sangat terkenal di seantero tanah Batak. "Kelapa sawitnya Ramli itu bagus-bagus. Beli di sana saja. Dijamin tak akan menyesal." begitu desas-desusnya mengalir hingga telinga ayah Sylvie, Robert. Dari sanalah, keluarga Sylvie mendatangi keluarga Maruap. Sylvie ikut serta. Waktu itu, Maruap tengah membantu ayahnya. Kebetulan pula, Maruap yang menemui kali pertama keluarga Sylvie. Maruap berjumpa Sylvie. Pemuda Batak itu begitu terkesan dengan mata hijau Sylvie. Rambut kuning keemasan Sylvie, di mata Maruap, itu bagaikan emas 24 karat. Sangat luar biasa. Dari situlah awal mula Maruap jatuh hati dengan Sylvie Van Weiderveld. Sylvie pun demikian. Baru kali ini perempuan Eropa itu mendapati anak lelaki berusia 13 tahun begitu giatnya bekerja. Mungkin Sylvie sangat terkesan dengan bagaimana otot-otot Maruap yang timbul-tenggelam saat tengah mengangkat kelapa sawit yang berton-ton beratnya. Maruap sungguh berbeda dengan laki-laki bule yang menjadi teman-temannya di kesehariannya. Saat itu, Hindia Belanda memang tengah diberlakukan politik balas budi. Pemisahan etnis terjadi pula. Namun itu tak berpengaruh dengan persahabatan keluarga Siagian dan Van Weiderveld. Robert sangat menyukai sifat dan karakter Ramli yang amat jauh bersahabat ketimbang lainnya. Harga dan kualitas kelapa sawitnya juga yang terbaik. Karena sering mendatangi itulah, lama-lama Sylvie dan Maruap jadi makin akrab dan saling mencintai. Yang mulanya obrolannya itu mulai dari yang sepele sampai yang berat-berat. Sampai-sampai mereka berdua berani blak-blakan saling mengomentari kinerja Van der Capellen. Atasan ayah Sylvie pun diejek sebagai seorang yang kikir. Tak heran mereka berdua berani betul saling membicarakan soal keyakinan serta ketuhanan. Bicara soal ketuhanan, Maruap awalnya menganggap remeh soal kehidupan religius Sylvie. Menurut Maruap, beberapa yang dilakukan oleh Sylvie itu aneh sekali. Salah satunya, cara berdoa Sylvie itu. Baginya, sejak kecil pula, doa itu tak boleh sembarangan dilakukan. Tabu, kata para tua-tua adat. Harus dilakukan di waktu-waktu tertentu, khususnya dilakukan pada waktu malam bulan purnama. Kenapa pula agama Sylvie begitu mensakralkan seorang wanita? Di kepercayaannya, laki-lakilah yang harus menjadi kepalanya. Tapi lambat laun pendirian Maruap berubah. Itu karena kebiasaan Sylvie yang suka menceritakan soal keluarga besarnya. Maruap jadi sangat antusias untuk mengenal keluarga Van Weiderveld. Aneh sekaligus unik juga keluarga Sylvie-ku ini, geli Maruap dalam hati. Rupa-rupanya orang Belanda pun tak jauh berbeda dengan orang Batak. Sama-sama sangat menggemari hal-hal yang sifatnya mengarah ke banua toru. Apa jangan-jangan Pak Robert ini memiliki kesaktian luar biasa? Jangan-jangan Pak Robert memiliki beberapa jimat, sehingga Pak Robert bisa memiliki jabatan yang sangat bergengsi? Pakaian Sylvie saja sangat terlihat mahal di mata Maruap. Dari sanalah, Maruap jadi mengenal sosok Isa tersebut. Makin ingin mengenal sejak Sylvie memaksa Maruap untuk menemaninya pergi ke suatu daerah. Konon, di sana ada sebuah tempat penyembahan Siti Maryam. Eh tahu-tahu Sylvie dibohongi. Walau dibohongi, mereka berdua jadi malah berkenalan dengan Pak Pendeta Simon. Nama asli sebenarnya Simon Westenbroek, seorang pendeta di sebuah gereja kristen kecil yang sering didatangi tiap minggunya oleh orang-orang Eropa. Sedikit sekali orang pribumi di gereja tersebut. Malah tergolong amat langka. Dari Pak Pendeta Simon itulah, Maruap akhirnya dibaptis. Perlahan Maruap juga diajari beberapa pengetahuan tertentu, yang salah satunya, pengetahuan bahasa. Dasar anak cerdas! Maruap sekarang lebih cerdas daripada Sylvie. Bahkan, Maruap semakin bisa mengenal mana yang benar, mana yang salah, dan bahkan mana yang berbahaya. Maruap jadi makin tahu bahwa ada yang tak beres dengan keluarga Van Weiderveld,--yang jauh lebih tak beres dari keluarga besarnya. ***** "Godverdomme!" jerit Robert. Pria paruh baya itu sangat marah sekali. Belum pernah dalam hidupnya, dia merasa sangat terhina sekali. Macam-macam saja kelakuan seorang pemuda pribumi. Diberi hati, minta jantung. Secara tidak kasatmata, Maruap memang salah. Dia terlalu mencampuri urusan dalam negeri dari keluarga seseorang. Maksudnya baik, Maruap hanya melindungi Sylvie, sebab akhir-akhir ini kekasihnya selalu saja beraut wajah tegang dan terus menerus mempermasalahkan keluarganya. Hanya itu. Namun jadi suatu kesalahan karena Robert mendapati alasan kenapa Sylvie hampir tak mau diajak lagi ke acara-acara keluarga. "Daddy," ujar Sylvie dengan air mata berserakan di pipi. "Sudahlah, Daddy. Kenapa jadi seperti ini? Bukan salah Maruap, Dad. Memang aku saja yang dari awal merasa tak lagi menyukai acara-acara keluarga. Dia hanya menanggapi keluhanku saja." "Pokoknya Daddy tidak suka kamu berhubungan lagi dengan pemuda pribumi. Mulai sekarang juga, keluarga kita dan keluarganya putus hubungan. Sudah bagus Daddy jadi pelanggan setia ayahnya itu, ini malah mencampuri urusan keluarga orang. Kalau bukan karena peran Daddy, pemuda pribumi itu hanyalah pemuda pribumi; tak berpendidikan dan tak bermoral." repet Robert dengan rahang semakin menegang. Rasanya Sylvie ingin marah sekali. Namun Robert itu ayahnya. Jaman itu bukanlah jaman sekarang, yang seorang anak bisa dengan mudahnya mendebat ayahnya, apalagi usia Sylvie sudah 18 tahun. Seorang anak gadis tak boleh jauh-jauh dari jangkauan ayahnya. "Mulai besok jangan kamu temui lagi pemuda pribumi itu. Daddy akan awasi. Mulai ke depannya juga, Daddy akan mengirim kamu kembali ke Amsterdam. "Begrepen?" Saat ayahnya masuk ke kamar besera istrinya, Sylvie masih tersedu sedan. Walau dilarang ayahnya pun, Sylvie ternyata masih nekat coba untuk menemui Maruap. Salah satunya dengan alasan pergi ke suatu gereja dari salah satu kenalannya. Untungnya saja pemimpin gerejanya itu orang Belanda, bukan pribumi. Di jaman itu, belum sebanyak sekarang pendeta pribumi. "Ya sudah kalau begitu. Kamu ikut saja denganku, Sylvie. Aku hanya tak ingin kamu terus menerus terganggu dengan segala yang kamu lihat dan rasakan dari acara-acara keluargamu itu." rangkul Maruap. Dalam pelukan Maruap, Sylvie terisak. Sambil terisak, Sylvie mencurahkan isi hatinya. "Tapi amankah, Maruap? Kudengar kamu dan keluargamu pun tak jauh berbeda dari acara-acara keluargaku. Aku masih ingat saat-saat aku mengenalmu. Kamu memegangi tanganku erat saat aku menjerit ketakutan di kebun milikmu ayahmu itu. Terkadang aku berpikir, bayangan mengerikan yang datang dari arah keluargaku masih jauh lebih baik daripada yang datang dari keluargamu." "Setidaknya ada aku yang melindungi kamu, Sylvie. Lagipula aku bukanlah lagi Maruap yang kamu kenal pertama kali. Aku tak lagi menjalani hal-hal yang biasanya dilakukan oleh keluargaku, oleh sukuku. Kamu lihat ini?" Maruap menunjukan sebuah kalung kayu yang dipakainya. "Karena kamu, inilah penyembahanku sekarang. Aku tak lagi menyembah dewa-dewa, apalagi roh-roh leluhur, dari banua ginjang yang aku kenal sejak kecil. Hanya satu dewa banua ginjang yang aku sembah,--ini dia orangnya!" Di tengah keterisakannya, Sylvie terpana. "Ise, Maruap?" jerit Ramli dari arah rumah. (Ise artinya siapa, bahasa Batak) "Bukan siapa-siapa, Pak!" jerit balik Maruap. Maruap terpaksa berbohong. Kalau jujur, ia takut ayahnya berpikiran yang bukan-bukan, lalu murka. Sampai sekarang pun, Maruap belum menceritakan masalahnya dengan keluarga Van Weiderveld. Bisa-bisa ayahnya marah. Jangankan soal keikutcampurannya, soal perasaan cintanya dengan Sylvie pun, Maruap bisu seribu bahasa. "Kita pergi saja ke rumah Pak Pendeta Simon," ajak Maruap. "Sekarang, setelah dengar ceritamu itu, aku jadi tahu, orang-orang Eropa pun percaya dan sering mengalami hal-hal yang berasal dari banua toru." kata Maruap dengan polosnya. Sylvie cekikikan saja. "Yah iyalah, Maruap. Aku rasa, semua orang dari negara manapun pasti pernah punya pengalaman melihat makhluk dari dunia lain. Di beberapa negara Eropa, khususnya beberapa tempat di Belanda sana, masyarakatnya hampir mirip dengan masyarakat sini." Sylvie sangat terkesan betapa bagaimana Maruap sangat cepat menangkap. Ternyata Maruap tidak hanya menang di otot, namun otaknya pun tak mau kalah. Makin lama, makin hari, Sylvie jadi makin tergila-gila dengan Maruap. "Maruap, kamu tahu," ucap Sylvie dengan senyum kecil. Matanya berkaca-kaca layaknya cermin yang ia pegang. "Dari kecil aku sebetulnya agak takut sama cermin." "Kenapa?" Dalam hati, Maruap mau tertawa, namun ia tahan. Bukan karena kata-kata Sylvie barusan, melainkan karena betapa lucunya perubahan drastis dari ekspresi Sylvie. "Sebab aku..." Sylvie berhenti sementara. "...jangan menertawakan aku, please," Maruap menggeleng, lalu tersenyum. "Aku percaya, di dalam cermin ini, ada dunia lagi. Dan, makhluk-makhluk di sana jauh lebih mengerikan." Maruap nyengir. "Sudah kubilang, jangan menertawakan aku," Sylvie agak tersinggung. "Aku tidak menertawakanmu, Sylvie. Hanya saja, aku hanya kaget, pemikiranmu itu sama denganku. Aku pun sejak kecil berpandangan sama. Sewaktu melihat bayangan diriku di Sungai Asahan, aku merasa yang kulihat bukan diriku, melainkan begu yang menyamar jadi aku." Ganti Sylvie yang nyengir. "Sekarang kamu yang menertawakanku. Bandel yah, kamu?!" sindir Maruap sambil menggelitiki Sylvie. "Geli, Maruap," Lalu, suasana hening dalam keheningan petang di sebuah pematang sawah. "Maruap," "Yah, Sylvie," "Kamu tahu soal cerita tentang Jaka Tarub?" Maruap menggeleng. "Apa itu?" "Itu cerita dari tanah Jawa di seberang sana. Ceritanya, aku baru sadar, agak-agak mirip dengan cerita lokal di daerah ini. Kamu tahu, kan, cerita tentang 'Raja Muda dan Burung Kuau'?" "Yah, aku tahu. Itu cerita yang sangat aku senangi. Tiap Ompu Barita menceritakannya, antusiasku selalu sama. Aku selalu memimpikan bisa menjadi Raja Muda itu, yang bisa memiliki istri cantik, walau jelmaan seekor burung kuau." Sylvie geli mendengar pengakuan tak langsung dari Maruap tersebut. "Aku sering mengira hal-hal seperti itu sebetulnya benar-benar ada, Maruap. Maksudnya aku, soal bidadari, kahyangan, makhluk jelmaan, hingga makhluk yang keluar dari dunia cermin." "Aku pun merasakan yang sama, Sylvie." Maruap langsung mengangkat sebelah tangannya. "Aku serius, Sylvie. Sampai sekarang pun, aku masih berpendapat sama. Bahkan gara-gara pemikiranku itu, aku selalu diejek dan ditertawakan oleh Bapak dan saudara-saudaraku. Kata mereka, 'Kau ini, bah, sudah sebesar ini masih percaya hal-hal seperti itu. Tak ada itu bidadari. Cuma dongeng itu.' Begitu kata mereka. Sylvie terkekeh-kekeh. "Padahal mereka pun masih melakukan sesembahan ke roh-roh leluhur. Mereka percaya akan kehadiran makhluk dari banua toru, tapi kenapa tidak percaya soal bidadari atau makhluk jelmaan seperti putri burung kuau itu. Aneh sekali mereka itu. Bahkan mereka tertawa saat kubilang aku merasa bayanganku di pantulan air itu begu yang menyamar." Sylvie terkekeh-kekeh lagi. "Yah begitulah, Maruap. Daddy pun sama. Padahal Daddy bisa melihat, tapi sering mengejekku. Teman-temanku di sekolah pun sama." Maruap mengangguk. "Padahal aku rasa, tak selamanya segala sesuatu itu bisa dilihat, apalagi mencari bukti-buktinya yang terlihat oleh mata. Masih banyak hal di dunia ini yang hanya bisa dirasakan saja. Contohnya, cintaku ke kamu, Sylvie." Sylvie tersipu malu dan membenamkan kepala. Semenit kemudian dia mencubit pipi Maruap sembari berkata, "Genit kamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN