Candidate

2307 Kata
Happy Reading. * Flasback. "Aku takut!" Kata Aliya pelan. "Tidak ada yang perlu kau takutkan Oppa disampingmu!" Tegas Jin. "Tapi nanti Appa marah!" Ujarnya lirih. "Tidak akan! Kajja!" Tambah Taehyung. "Tapi~~~" "Sudahlah Kajja!" Ajak Jin. * Aliya meremas kesepuluh jarinya dengan gugup dari tadi Jungwoon terus menatapnya tajam dan dia tidak bisa melakukan apapun. Jin dan Taehyung sudah raib dibawa untuk berkenalan dengan relasi bisnis Jungwoon dan Aliya hanya sendirian. "Tuan Kim!" Ada seorang laki-laki yang menyapa Jungwoon. "Oh Tuan Park!" Sapa Jungwoon. "Pesta anda benar-benar meriah!" Jungwoon tersenyum tipis. "Ah ya dimana Putri anda. Aku tidak pernah meliahat Putri anda disetiap acara yang anda selenggarakan. Hanya Jin dan Taehyung yang anda bawa. Dimana dia?" Wajah Jungwoon mengeras mendengar relasi bisnisnya menyinggung tentang Putrinya. "Putri? Aku tidak punya Putri?" Aliya merasakan sesak yang sangat luar biasa pada dadanya. Jungwoon tidak mengakuinya sebagai anak? "Anakku hanya Jin dan Taehyung!" Tegas Jungwoon. "Tapi dia~~~" "Dia hanya anak pembawa sial dan aku tidak sudi mengakuinya sebagai anak. Dia hanya malapetaka dan aku sangat membencinya. Hidupku akan sial karena melihat wajahnya. Dan aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai anak dalam hidupku" Flasback end. * "Jadi kau menggunakan marga Kwon?" Tanya Jimin pada Aliya. "Banyak tanya!" Ketus Aliya. "Yang Chaeyoung katakan benar ternyata!" Aliya mendengus kesal. k*****t yang menabraknya tadi adalah Kakak Chaeyoung yang kedua, Chaeyoung punya dua kakak, Park Chanyeol dan Park Jimin. Tapi Aliya hanya sering melihat Chanyeol karena Jimin tidak pernah ke Seoul. "Apa Chaeyoung yang menyuruhmu kesini?" Tanya Aliya ketus. "Tidak! Aku memang akan kesini. Aku besar disini dan aku juga ingin menghabiskan masa tuaku disini!" Jawab Jimin enteng. "Siapa yang tanya rencanamu kedepan! Aku hanya tanya Chaeyoung menyuruhmu kesini dan kau tidak perlu menjawabnya panjang lebar" ketus Aliya. "Mulutmu lebih tajam dari Pisau ternyata" cetus Jimin menatap Aliya. "Apa pedulimu!" Ketus Aliya. "Kau cantik juga!" Aliya mendengus dan meninggalkan Jimin begitu saja. "Young Girs" desis Jimin sambil tersenyum manis. * Aliya kembali kerumah saat matahari sudah terbenam dan keadaan rumah masih ramai. Sepertinya Jihyo dan Lisa sudah pulang dari kebun. "Kau sudah pulang?" Sapa Lisa pada Aliya. "Hem!" Jawab Aliya singkat. "Ah ya tadi Tzuyu menelfon! Dia akan mengirimkan Mobilmu kesini" kata Lisa. "Untuk?" Tanya Aliya bingung. Aliya menitipkan seluruh asetnya pada Tzuyu dan yang Aliya gunakan saat ini adalah aset yang hanya ada disini. Untuk di Seoul semuanya masih aman terkendali. "Dia tidak mau menampung 3 mobil sekaligus. Satunya dititipkan Yerim, satu dirumahnya dan satunya lagi akan dikirim kesini!" Ujar Lisa memberi tahu. "Suruh kirimkan mobil yang Hitam. Lagi pula aku juga berencana membeli mobil dan Tzuyu sudah mengirimkan mobilku dulu jadi batal saja" cetus Aliya. "Beli mobil? Kau sudah punya motor dan untuk apa beli mobil?" Tanya Lisa aneh. "Dasar bodoh! Kau mau aku memeriksakan kandunganmu dengan memakai motor hah?" Tanya Aliya kesal. "Ah ya aku lupa! Mian!" Kata Lisa salah tingkah. "Dasar cacing otak udang" maki Aliya sambil berlalu. "Yakh aku ini lebih tua darimu. Kenapa kau sekasar ini padaku? Aliyaaa! Hei Aliyaaa!" * "Pergi Bae!" Usir Taehyung pada Joo Hyun. "Tidak Oppa! Aku akan tetap disini!" Kekeh Joo Hyun pada Taehyung. Sedangkan Taehyung sudah mulai kehilangan kesabaran karena sifat keras kepala Joo Hyun. Taehyung ada di Parang dan menunggu Tzuyu dan yang lain, tapi Joo Hyun terus menempelinya. "Aku~~~" "Ku bilang pergi Bae Joo Hyunnn!" Tubuh Joo Hyun bergetar karena teriakan lantang Taehyung. Seumur hidupnya baru kali ini dirinya dibentak. "Oppa~~~" "Pergiiii!" Teriak Taehyung emosi dan Joo Hyun langsung berlari pergi. "Wanita sial!" Desis Taehyung emosi. Taehyung masih melihat pintu keluar SMA Parang dan mata Taehyung menajam saat melihat sosok Tzuyu dan teman-temanya. "Tzu!" Teriak Taehyung berlari menghampiri Tzuyu. "Tzu~~~" "Jika ingin bertanya dimana Lisa berada kau salah tempat. Cari tahu saja sendiri!" Sela Tzuyu tajam dan membuat Taehyung menciut. "Tzu Please!" Lirih Taehyung. "Aku tidak peduli! Sudah cukup kau melukai Lisa-ku" ketus Tzuyu. "Aku ingin minta maaf!" Kata Taehyung pelan. "Ya minta maaf lalu kembali berulah! Sempurnakan?" Cetus Yerim sekartis. "Aku janji tidak akan mengewakanya lagi! Please beritahu aku dimana Lisa dan Aliya" mohon Taehyung. "Kau Kakaknya dan pasti kau tahu dimana perginya adikmu!" Perkataan Chaeyoung membuat Taehyung membeku ditempat. "Dimana adikmu saja kau tidak tahu! Bagaimana bisa kau bertanggung jawab pada Lisa. Hidupmu saja masih diatur dan perlu bimbingan dan mungkinkah kau akan memperbaiki kelakuanmu? Mustahil. Melindungi Aliya dari serangan kebencian Ayahmu saja kau tidak bisa apalagi melindungi Lisa! BULLSHIT Kim Taehyung! Percaya atau tidak, Aliya lebih dapat bertanggung jawab dari pada dirimu. Dia melindungi 3 orang dan sebentar lagi menjadi 5 orang, sedangkan kau? Melindungi Adikmu saja tidak bisa apalagi Lisa? Mimpimu terlalu tinggi!" Perkataan Dahyun membuat Taehyung sadar jika Aliya sangat terluka karena ketidak mampuanya. Gadis kecil berusia 8 tahun terlihat tegar dan kuat menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya. Sosok kuat dan bertanggung jawab Aliya terlihat saat Aliya masih berusia dini sedangkan dirinya. Usianya hampir 20 tahun tapi mempertahankan satu wanita disisinya dia tidak mampu. "Kau pengecut sama seperti Ayah dan Kakakmu. Kalian bertiga sama saja!" Desis Chaeyoung. * "Kau telat Nona Kim!" Aliya berbalik dan menemukan Jimin yang berjalan kearahnya. "Kau suka telat rupanya" cetus Jimin sambil merangkul Aliya. "Hei kau mau mati ya?" Teriak Aliya memelintir tangan Jimin. "Tenagamu kuat juga" demi dewi fortuna tangan Jimin sangat sakit karena pelintiran tangan Aliya tapi Jimin tidak mau berteriak. "Namja sial" maki Aliya kesal. "Lepaskan!" Kata Jimin pelan. "Tidak! Akan kupatahkan juga tangamu" ancam Aliya sekartis. "Please Aliya" Aliya mendengus dan melepaskan tangan Jimin. "Akh sakit juga" ujar Jimin pelan sambil menatap Aliya. "Dasar Namja lemah~~~akhh!" Aliya memekik saat Jimin memelintir tanganya kebelakang. "Hei sakit bodoh!" Teriak Aliya kesal. "Sakitkan? Tadi juga sakit" kata Jimin pada Aliya. "Yakh lepas!" Teriak Aliya keras. "Minta maaf dulu" kata Jimin. "Minta maaf? Shiroeee" pekik Aliya. "Itu maumu? Oke! Jangan harap tangan ini lepas" ancam Jimin enteng. "Hei lepas" Jimin tetap memelintir tangan Aliya tidak peduli pekikan Aliya yang memintanya melepaskan pelintiranya. "Maaf! Selesai!" Aliya memejamkan matanya kesal. Baru kali ini dirinya dimainkan orang, tapi Aliya tidak punya pilihan lain. "Maaf!" Kata Aliya sangat pelan. "Apa aku tidak dengar" kata Jimin. "Maaf!" Kata Aliya pelan. "Apa?" "Maaf!" Ujar Aliya dengan suara normal. "Apa? Kau bilang apa?" Aliya sadar jika b*****h ini sedang mempermainkanya. "MAAAFFFF" Jimin tersenyum saat mendengar teriakan Aliya. "Gadis pintar" kata Jimin sambil melepas pelintiranya. "Ck Namja i***t~~~bukkk" Jimin tersenyum saat Aliya menendang perutnya dan pergi begitu juga. "Tidak semudah itu My Young Girs" * "Kau kenapa?" Tanya Mina pada Aliya. "Bukan urusanmu!" Ketus Aliya. "Ish aku kan hanya tanya" kesal Mina. Aliya yang semakin kesal langsung menatap Mina. "Cih siapa yang menyuruhmu duduk disini?" Teriak Aliya kesal. "Kursi ini kan kosong dan yang lain sudah penuh jadi aku duduk disini" ketus Mina. Aliya menatap Mina jengkel, kenapa si Nerd ini semakin berani padanya. "Kau merusak Moodku bodoh" maki Aliya kesal. "Mood apanya? Kau sudah Bad Mood dari tadi dan melemparkanya padaku! Cih kau salah orang" kata Mina kesal. "Dari pada kau membuatku semakin kesal dengan ecohan tidak bergunamu itu lebih baik kau pergi atau kusiram kau dengan udon panas ini" gertak Aliya yang masih mencoba menahan kekesalanya. "Ara aku akan pergi tapi ada hal yang ingin kubicarakan denganmu sebentar!" Kata Mina menyerah. "Mwo?" "Ini tentang Jimin Sunbae!" Aliya hampir saja menyembur Mina dengan coklat dingin yang mimun karena mendengar ucapan Mina. "Park Jimin k*****t itu? Kau mau apa?" Tanya Aliya kesal. "Kau kenal dia?" Tanya Mina. "Tidak!" Jawab Aliya singkat. "Tapi kemarin dia mengajakmu berbicara dan dia juga meng~~~" "Dia Kakak temanku Bodoh!" Sela Aliya cepat. "Jinja?" Aliya benar-benar sudah kehilangan kesabaranya karena Mina terus bertanya padanya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tanya Aliya jengah. "Aku menyukainya. Tapi dia tidak menyukaiku, dai bilang jika sudah punya calon istri dari kecil dan aku ingin tahu siapa calon istrinya. Kau tahu siapa wanita itu kan?" Tanya Mina penuh selidik dengan menatap tajam Aliya. "Cih aku bukan Stalker" kata Aliya tajam. "Tapi kau bilang jika Jimin Sunbae adalah Kakak temanmu dan pasti kau tahu kan?" Paksa Mina pada Aliya. "Hei Bodoh! Aku tidak pernah peduli dengan yang namanya Park Jimin. Bertatap muka denganya juga baru kemarin dan aku juga tidak tahu siapa calon istri yang kau maksud itu. Jika kau ingin tahu siapa wanitanya cari tahu saja sendiri" ketus Aliya pada Mina. "Ali~~~~" "Dari pada kau merecokiku dengan keingin tahuanmu yang aneh itu lebih baik kau kembali bekerja atau kupecat kau" Mina langsung berlari menjauhi Aliya. Dia masih mau bekerja dan tinggal gratis. "Gadis sialan!" * Aliya meletakkan kepalanya dimeja, matanya mengantuk karena tidak tidur semalaman. Gara-gara Lisa yang terus menglami mual semalaman Aliya harus begadang menunggu sikeriput itu sampai tidur. Untung Jihyo tidak seperti Lisa, bisa mati berdiri Aliya jika keduanya begitu. Aliya sibuk memejamkan mata dan tidak sadar jika ada kepala sekolah dan Jimin yang memasuki kelas. Kelas langsung ramai saat Jimin memasukinya. Para siswa berdecak kagum melihat ketampanan Jimin bak dewa langit. Tinggi, tampan, betotot dan sangat berkarisma. "Ah ya ini guru seni kalian yang baru. Beliau menggantikan Guru Inawa yang cuti. Dan saya harap kalian menerimanya dengan baik" kata Kelapa sekolah tegas. "Silahkan perkenalkan diri anda" Jimin mengangguk dan tersenyum pandanganya jatuh pada seorang gadis yang meletakkan kepalanya dimeja dan Jimin yakin jika gadis iti tidur. Good Girs. "Oke Saya Park Jimin dari Korea tapi besar disini dan saya akan mengajari seni untuk beberapa bulan kedepan dan saya harap kita bisa bekerja sama" ujar Jimin sambil tersenyum manis. "Sudah punya Pacar?" Jimin tersenyum saat mendengar pertanyaan dari gadis yang ada dibarisan paling depan. "Belum!" Semua gadis yang ada disana langsung beseru girang. Merek punya kesempatan. "Tapi saya sudah punya calon istri!" Tambah Jimin lagi. "Yahhhh!" Semuanya langsung kecewa dan patah hati. Pupus harapan mereka untuk menjadi Nyonya Park Jimin. "Ada yang ditanyakan lagi?" Tanya Jimin dan semuanya kembali menggeleng. Untuk apa bertanya pada orang yang sudah punya calon istri, tidak berguna. "Baiklah anda bisa mulai mengajar kelas ini Guru Park" Jimin menganguk pelan. "Saya tinggal dulu!" Pamit kepala sekolah. "Terima kasih" ucap Jimin pada kepala sekolah. "Oke kita mulai pelajaran hari ini. Buku paket seni hal 102" kata Jimin. "Ada yang tidur rupanya" cetus Jimin mendekati Aliya. "Guru jangan! Dia itu harimau betina, Guru akan dapat masalah jika berurusan denganya" Jimin tersenyum saat mendengar larangan dari Muridnya. "Tidak papa! Dia tidak seganas yang kalian fikirkan" kata Jimin penuh arti. Jimin kembali menatap Aliya, tangan Jimin hampir saja menyentuh pundak Aliya tapi suara bel menandakan waktu istirahat sudah lebih dulu berbunyi. "Oke kalian istirahat pelajaran diteruskan nanti!" Semuanya langsung berlari keluar untuk kekantin dan meninggalkan Jimin dan Aliya. "Dasar!" Jimin mengguncang pelan bahu Aliya. "Ireona!" Kata Jimin pelan. "Aliya ireona!" Aliya mulai terganggu karena guncangan Jimin. "Aliya Ireona" ujar Jimin lembut. "Aliya~~~~" "Yakh apa yang~~~Park Jimin" Jimin tersenyum melihat Aliya yang langsung membuka natanya lebar. "Kau mengantuk?" Tanya Jimin lembut. "Kau disini?" Tanya Aliya bodoh. "Nde! Aku guru barumu sekarang!" Kata Jimin bangga. "Mwo? Guru?" Tanya Aliya tidak percaya. "Hem! Kau mengantukkan? Kajja kutunjukkan tempat yang tepat untuk tidur" Jimin langsung menarik tangan Aliya keluar dari kelas dan Aliya hanya bisa diam ditempat. Aliya masih kaget karena Jimin yang tiba-tiba ada didepanya. Bahkan tanganya yang digenggam Jimin erat juga tidak dirinya sadari. "Sebenarnya siapa kau? Dan apa maumu?" Gumam Aliya. * "Ini kapan tumbuhnya?" Tanya Lisa pada pegawai kebun. "Mungkin sekitar 3 bulan lagi Nona" Lisa memajukkam bibirnya kesal. Jihyo tidak ada disini karena mengurus Ahjumma Han yang sedang sakit dan Lisa bekerja sendirian. "Masih lama ternyata" kata Lisa pelan. "Oh ya Nona saudaranya Nona Kwon?" Lisa mengangguk. "Wae?" Tanya Lisa. "Aniya Nona. Hanya saja kedatangan Nona Kwon sangat mendadak kali ini. Nona Kwon sudah tidak kesini selama 5 tahun dan tiba-tiba datang lagi!" Kata pegawai itu. "Apa ada yang salah?" Tanya Lisa. "Aniya Nona. Hanya saja kami hanya menunggu Nona Kwon datang dengan calon suaminya" Lisa membelalakkan matanya tidak percaya. "Calon suami?" Tanya Lisa kaget. "Nde mendiang Tuan Kwon bilang jika Nona Kwon kesini lagi beliau akan membawa calon suaminya. Tapi kedatangan kali ini tidak membawa calon suaminya dan hanya dengan anda dan Nona Jihyo" penjelasan wanita ini membuat Lisa bingung. Aliya tidak punya calon suami dan bagaimana bisa ada yang bilang jika Aliya punya calon suami. Melihat Aliya berkencan saja Lisa tidak pernah hanya ada perkelahian dan ini bilang calon suami. Calon suami dari mana? Hongkong? Paris? "Apa anda tahu siapa nama calon suami Aliya?" Tanya Lisa penasaran. "Tidak tahu Nona! Tapi yang pasti pekerjaan calon suami Nona Kwon adalah Dokter dan Guru itu yang dikatakan Tuan Kwon" * Tzuyu menyeringit bingung saat mendapat pesan Lisa. Calon suami Aliya? Tzuyu tidak tahu. Dia bukan stalker yang tahu asal-usul silsilah keluarga Aliya. "Wae Tzu?" Tanya Dahyun yang baru datang dengan Yerim dan Chaeyoung. "Entahlah Lisa mengirimiku pesan yang aneh!" Kata Tzuyu. "Pesan apa?" Tanya Chaeyoung. "Calon suami Aliya!" Ujar Tzuyu. "MWO?" Keduanya berteriak kaget tapi tidak pada satu orang. "Calon suami? Kau yakin?" Yerim langsung merebut ponsel Tzuyu dan benar Lisa mengirimi pesan tengtang calon suami Aliya. "Heol apa ini? Kita bahkan tidak tahu apapun!" Cetus Yerim kesal. "Calon suami yang mana? Aliya tidak pernah berkencan dan laki-laki mana yang akan dinikahkan dengan Aliya?" Tanya Dahyun aneh. "Kita tidak tahu satulah!" Tegas Tzuyu. "Majja! Aliya menyembunyikan sesuatu dari kita!" Tambah Yerim. "Menyembunyikan apa? Orang Aliya saja tidak tahu jika dirinya punya calon suami" cetus Chaeyoung dan membuat ketiganya kaget. "Kau tahu?" Tanya Tzuyu shok. "Basi! Itu sudah berita lama dan kalian baru tahu sekarang!" Ujar Chaeyoung. "Kusimpulkan kau tahu tentang masalah ini!" Cetus Dahyun datar. "Memang!" Ujar Chaeyoung sambil langsung berlalu. "Yakh Park Chaeyoung beritahu kami! Jangan kau simpan berita itu sendiri. Park Chaeyounnnggg!" Teriak Tzuyu dan Yerim bersamaan dan mengejar Chaeyoung. "Calon suami? Siapa?" Dahyun tampak berfikir mencoba mengingat memori diotaknya. Calon suami Aliya, calon suami Aliya. Tiba-tiba matanya terbelalak kaget saat sekelibat ingatan terlintas dibenaknya. "Yakh tidak mungkin!" Teriak Dahyun. "Yakh Park Chaeyoung jangan bilang jika calon suami Aliya adalah kakakmu?" Teriak Dahyun menyusul yang lain. T.B.C
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN