Parents

1783 Kata
Happy Reading. * Jungwoon menghela nafas pelan saat tidak mendapat jawaban dari Jungsoo perihal calon suami Aliya. Dari data yang diberikan padanya, Calon suami Aliya adalah Park dan Park yang mana Jungwoon tidak tahu. Jungwoon berharap dengan mendatangi Jungsoo dirinya akan mendapat sedikit informasi tapi harapanya hanya tinggal sia-sia. Jungsoo tidak menjawab barang sepatah katapun pertanyaanya. Sedangkan Jungsoo hanya diam menatap Jungwoon, Jungsoo sudah memperkirakan Jungwoon akan bertanya perihal perjodohan yang dilakukan Mendiang Tuan Kwon dan Jungsoo juga sudah mempersiapkan jawaban yang tepat untuk Jungwoon. "Kumohon Hyung!" Jungsoo menghela nafas perlahan. "Kau ingin tahu siapa calon suami putrimu?" Pertanyaan yang dilontarkan Jungsoo membuat Jungwoon mengangguk semangat. "Ye Hyung. Aku ingin tahu siapa laki-laki itu" jawab Jungwoon semangat. "Ada gunanya untukmu?" Tanya Jungsoo memastikan. "Ada! Setidaknya aku bisa tahu mana pria yang baik untuk putriku dan aku akan mencoba menebus kesalahan yang kulakukan padanya selama 17 tahun ini padanya!" Jawab Jungwoon tegas. "Lalu apa kau fikir Aliya akan mau menerimamu?" Tanya Jungsoo. "Harapanya tidak. Tapi aku ingin berguna dalam hidupnya, setidaknya dalam hal ini saja. Karena aku tahu dia sudah tidak menganggapku Ayah!" Jungsoo mengangguk pelan. "Aku ingin bertanya padamu! Apa jika Aliya menolak perjodohan ini, kau akan membantunya?" Tanya Jungsoo serius. "Ya! Mungkin tidak akan terlihat tapi setidaknya aku ingin melihatnya bahagia dengan laki-laki yang dia cintai!" Jawab Jungwoon tegas. "Dan bagaimana jika ada dua Pria yang merebutkan Putrimu?" tanya Jungsoo lagi. "Jika Aliya mencintai salah satunya maka tidak masalah. Yang kuinginkan adalah melihatnya bahagia!" Jungsoo tersenyum tipis mendengar jawaban Jungwoon. "Dan bagaimana jika kedua Pria itu saling membunuh?" Jungwoon tersentak mendengar pertanyaan Jungsoo. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi yang pasti Aliya tidak boleh terluka!" Jungsoo mengangguk singkat. "Kedua anakku adalah calon suami anakmu!" Ucapan Jungsoo membuat Jungwoon mematung. "Chanyeol dan Jimin?" Jungsoo mengangguk singkat. "Tapi Jimin tidak ada di Seoul!" Kata Jungwoon. "Ya! Putra Bungsuku memang tidak ada di Seoul tapi dia ada disamping Putrimu saat ini. Bahkan mereka hidup bersama!" Gumam Jungsoo. "Mwo? Hidup bersama? Bagaimana bisa?" Tanya Jungwoon kosong. "Waktu yang mempertemukan mereka!" Cetus Jungsoo. * Aliya mencoba berontak dalam kungkungan Jimin tapi usahanya itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Yang ada tanganya malah sakit karena terus memukul d**a Jimin. "Kenapa kau selalu membantah ucapanku huh?" Aliya membalas tatapan tajam Jimin. Aliya paling tidak suka jika hidupnya diatur, apalagi ini Jimin. Orang yang baru beberapa hari hadir dalam hidupnya. "Kau hanya orang asing!" 4 kata yang membuat Jimin bertambah emosi. Dirinya hanya orang asing? Ya orang asing yang mengambil kesucian Aliya. Dan sepertinya itu masih belum membuktikan apapun. "Apakah selama 17 tahun ini kau pernah dekat dengan laki-laki lain selain aku? Apa kau pernah mengajaknya berciuman? Bercinta? Tidur dalam satu kamar? Adakah yang lebih dari apa yang kulakukan padamu selama ini? Jika hal seperti itu masih kau anggap biasa, Tolong beritahu aku apa hal yang luar biasa menurutmu!" Jika dengan kata-kata manis tidak bisa menaklukan kebekuan Aliya maka pilihan Jimin tinggal kata-kata kasar. Merobohkan kekerasan Aliya bukan hal yang mudah. Sakit hati yang Aliya rasakan selama ini membuatnya tumbuh menjadi sosok yang benar-benar mengerikan. Aliya bahkan tidak pantas disebut sebagai wanita. "Kau terlalu banyak tanya!" Desis Aliya yang sudah kehilangan kesabaranya. "Kau hanya tinggal menjawab. Tidak susahkan? Mulutmu masih berguna dengan baik" balas Jimin yang terus memancing kemarahan Aliya. "Kau tidak berguna!" Geram Aliya. "Begitukah Young Girs? Mari kutunjukkan seperti apa laki-laki yang kau anggap tidak berguna ini!" Jimin mulai melepas kancing kemejanya sendiri. Merapatkan tindihanya dan semakin menahan Aliya yang mencoba lepas dari kungkunganya. "Jangan salahkan aku jika ada yang memanggimu Ibu setelah ini!" Monolog Jimin dalam hati. "b******k lepaskan aku!" Jimin tidak memperdulikan teriakan Aliya. "Lari jika bisa. Kau sudah masuk kedalam hidupku dan tidak ada celah untuk keluar. Bukan marga Kim atau Kwon yang akan ada dibelakangmu lagi melainkan Marga Park. Margaku Park, Aliya Park Jimin! Lihat saja nanti!" Desis Jimin. * Bukan sebuah kemudahan mendapatkan maaf dari Jihyo dan Lisa tapi penolakan dari keduanya tidak membuat Jin dan Taehyung menyerah begitu saja. Bukankah jika seseorang ingin bahagia harus dengan kerja keras? Maka keduanya akan bekerja keras untuk mendapatkan maaf dari wanitanya. "Hyung akan kembali ke Seoul?" Tanya Taehyung pada Jin. "Ya setelah Jihyo kembali kepelukanku!" Jawab Jin datar. "Oh!" Jin dan Taehyung kembali fokus pada Jihyo dan Lisa yang tengah bekerja dikebun. "Dan kau?" Tanya Jin. "Sama sepertimu!" Jawab Taehyung singkat. Keduanya kembali diam dan fokus pada wanita masing-masing. "Tuan Muda!" Keduanya menoleh saat mendengar panggilan dari belakang. "Ahjumma!" Jin dan Taehyung langsung membungkuk saat melihat Ahjumma Han. "Masih menunggu Nona?" Keduanya mengangguk kompak dan mengundang senyum tipis dari Ahjumma Han. "Mereka akan pulang sore" kata Ahjumma Han. "Gwenchana Ahjumma! Kami akan menunggu!" Ahjumma Han mengangguk pelan. "Baiklah saya pamit dulu!" Jin dan Taehyung mengangguk singkat. "Apa Tuan Muda serius dengan tujuan ini?" tanya Ahjumma Han tanpa berbalik menatap Jin dan Taehyung. "Ya Ahjumma!" Koor keduanya tegas. "Jika Tuan Muda benar-benar serius dengan tujuan ini, jangan hanya duduk diam sambil mengamati mereka" kata Ahjumma Han mesterius. "Apa maksud Ahjumma?" Tanya Taehyung. "Datang kerumah jika ingin tahu! Ahjumma menunggu jam 3 sore nanti. Tuan Muda akan mendapatkan jawabanya!" Kata Ahjumma Han sambil berlalu meninggalkan Jin dan Taehyung yang kebingungan. "Apa maksud Ahjumma Han, Hyung?" Tanya Taehyung. "Aku tidak tahu Tae! Jika Ahjumma Han meminta kita datang, kita harus datang. Setidaknya ada jalan lain untuk mendapatkan wanita kita!" Jawab Jin pelan. * Chaeyoung menghela nafas pelan saat melihat beberapa gambar yang ada dikamar Jimin. Semua album yang Chaeyoung lihat berisi foto Aliya, dari kecil sampai sekarang. Chaeyoung dibuat bingung dengan tingkah Jimin, bagaimana Kakaknya bisa mendapatkan semua foto ini? Setahunya selama ini Jimin tidak pernah bertanya tentang Aliya padanya. Apa mungkin Jimin mengirim mata-mata untuk mengawasi Aliya selama ini? "Huh apa yang akan Oppa lakukan pada Aliya?" Tanya Chaeyoung pelan. Memikirkan kedua kakaknya yang akan bersaing merebutkan Aliya membuat Chaeyoung bingung sendiri, apalagi ketambahan dengan teka-teki Jimin tentang Aliya. "Huft kedua kakakku membingungkan!" Gumam Chaeyoung kesal. "Tapi siapa nanti yang akan dipilih Aliya?" Tanya Chaeyoung ingin tahu. "Kamungkinan besar Chanyeol Oppa, tapi aku lebih suka Jimin Oppa!" Kata Chaeyoung frustasi. "Aish Mollayo!" * Aliya mengusap wajahnya dengan gusar, dirinya ada dikamar mandi Apartemant Jimin. Mata Aliya terlihat penuh tanya, bayanganya dalam cermin terlihat kacau. Rambut acak-acakkan, bibir bengkak, bekas Kiss Mark dileher, atas dadanya dan masih banyak lagi. "Bagaimana bisa dia seberani ini?" Gumam Aliya frustasi. Aliya meraih ikat rambut yang ada disamping wastafel, memakainya asal dan langsung mencuci mukanya. Berjalan kearah Buth Up untuk berendam, Aliya benar-benar butuh waktu untuk dirinya sendiri. Fikiranya sedang sangat kacau dan lebih baik Aliya diam. Aliya muali memasukkan tubuh polosnya kedalam Buth Up. Meringis saat merasakan air dingin dalam Buth Up yang telah diisi aroma terapi mawar. Duduk perlahan dalam Buth Up dan mulai menenggelamkan dirinya dalam air. Sementara Jimin hanya diam saat melihat yang melihat Aliya yang tengah menikmati berendam dalam air dingin. Jimin hanya menggunakan boxer, niatnya ingin cuci muka malah menemukan wanitanya yang sibuk berendam. Jimin berjalan mendekati Aliya tanpa menimbulkan suara Aliya. Diam dan menatap wajah Aliya yang hanya terlihat setengah. Berjongkok tepat disamping Buth Up dan mengarahkam tanganya untuk mengusap rambut Aliya. "Jangan lama-lama! Nanti kau bisa sakit!" Mendengar suara Jimin, Aliya sontak membuka matanya. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Aliya sambil menegakkan tubuhnya. "Melihatmu!" Jawab Jimin sambil bangkit dan ikut masuk dalam Buth Up bersama Aliya. "Apa ini?" Kesal Aliya sambil mendorong tubuh Jimin tapi Jimin sama sekali tidak bergerak yang ada tubuhnya malah ditarik dalam pelukan Jimin. Mencoba berontak dan berakhir dirinya sendiri yang kalah. Dengan kesal Aliya diam dan membiarkan dirinya dipeluk Jimin. "Setidaknya ini akan menghangatkanmu!" * Chanyeol memfokuskan iris pekatnya pada kumpulan gambar yang ada didepanya. Wajahnya terlihat datar saat melihat gambar yang berserakan dimejanya, semua foto ini adalah foto Jimin dan Aliya yang terlihat bersama. "Kau ingin bermain denganku rupanya!" Chanyeol mengambil satu foto dengan kasar, menyimpanya disaku jas dan berjalan keluar dari ruanganya. * Taehyung dan Jin mematung didepan Rumah Aliya, mereka baru saja menemui Ahjumma Han dan entah apa yang mereka dapatkan dari dalam. "Kita pulang dulu Tae!" Taehyung mengangguk singkat dan mengekori Jin. Sementara Ahjumma Han yang melihat itu hanya tersenyum tipis. "Semua dimulai Tuan Besar!" Gumam Ahjumma Han penuh tanya. Tangan Ahjumma Han menggam erat kalung yang ada ditanganya. Tersenyum simpul dan menyimpanya kedalam saku. "Dimulai dari Jin dan Taehyung! Aliya yang terakhir!" Gumama Ahjumma Han sambil berlalu. * Jimin melirik samping dimana Aliya masih nyaman dalam dekapanya. Nafas Aliya masih teratur dengan keadaan mereka yang saling berpelukan tanpa pakaian. Jimin memandang lama wajah Aliya, mengulurkan tanganya untuk mengusap kening Aliya dan mengecupnya pelan. Melepaskan pelan pelukanya dan bangkit dari posisinya. Melirik luar dimana Matahari sudah sedikit naik, Jimin meraih Ponselnya menyeringit saat mendapatkan banyak notifikasi. Tangan Jimin bergerak cepat membuka semua notifikasi diponselnya. Tersenyum iblis saat melihat gambar yang ia terima. Melirik Aliya yang masih nyaman diranjangnya dan mengarahkan kameranya untuk memfoto Aliya. Tersenyum pogah dan mengirimkan foto itu pada seseorang. "Mian!" Desis Jimin berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri. Ini jadwalnya masuk rumah sakit dan Jimin tidak bisa terus absen. * Aliya mengusap wajahnya pelan saat merasakan sinar Matahari yang menyilaukan wajahanya. Bangun dengan susah payah dari tidurnya. Mengamati sekitar, mendengus saat menyadari jika dirinya masih ada dikamar Apaetemant Jimin. Menyingkap kasar selimut yang menutupi tubuhnya, dan berjalan tanpa pakaian kearah kamar mandi. 15 menit Aliya sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar. Menuju lemari Jimin untuk mengambil seragamnya. Jimin memang menyediakan seragam cadangan untuknya dan Aliya tidak perlu bingung dengan hal kecil itu lagi. Memakainya dengan cepat pakainya dan menuju meja rias. Menyisir pelan rambutnya dan memakai sedikit Parfum Jimin. Mata Aliya melirik samping dimana ada sebuah note yang sepertinya ditinggalkan Jimin untuknya. Meraihnya dengan kasar dan membacanya. Mendengus dan membuanganya ketempat sampah, bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari kamar Jimin. 'Aku menikmatinya semalam' * Jihyo menyeringit saat menemukan sebuah Note yang ada dimeja riasnya. Note kecil dengan warna kuning emas, tangan mungil Jihyo bergerak mengambilnya dan dengan cekatan membaca rentetan kata yang kata yang ada disana. 'Katakan mana yang benar? Akan kulakukan semuanya. Dia, Adikku tidak mengijinkanku untuk kembali! Bisakah kau beritahu cara untuk mendapatkan maaf darinya?' Jihyo tidak tahu siapa pemilik Note ini dan Jihyo juga tidak mengetahui siapa penulis dari Note ini. "Apa mungkin ini punya orang?" Jihyo terus membolak-baliknya Note yang ia pegang. "Untuk siapa ini? Lisa? Atau Aliya?" Jihyo masih memikirkan ini sampai sebuah inisial kecil dibalik Note itu membuatnya terpaku. "KSJ!" Lirih Jihyo pelan. "KSJ? Jin Oppa?" Tanya Jihyo pelan. Jihyo kembali membaca Note itu berulang-ulang memastikan tulisan dari Note tersebut. "Apa mungkin ini dari Jin Oppa?" Lirih Jihyo pelan. "Tapi bagaimana bisa?" Jihyo masih bertanya-tanya sampai sebuah kalung mengagetkan dirinya. "JJ?" Jihyo meraihnya dengan tangan bergetar. "Seolma!" Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN