Lastri menunggu Asep dengan gelisah. Di rumahnya hanya ada dia dan putra semata wayangnya yang masih balita. Ditidurkannya si anak di kamar lalu dia keluar rumah duduk di teras sembari menghitung daun mangga yang jatuh di halaman. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat baginya, rasanya baru kemarin dia ditinggal sang suami pergi untuk selamanya, kini sudah ada saja yang mau melamarnya. Tentu saja bukan Asep, tetapi Rudin. Lelaki yang setahun lalu ditinggal pergi istrinya itu kini mengatakan siap akan meminang dirinya sebagai istri. Entah kenapa Lastri tak menolak, dia melihat ada kesungguhan dalam diri Rudin dan dia memang laki-laki baik di desa ini meski sebagian orang menganggap sinis soal Rudin yang masih bekerja serabutan. Banyak lelaki desa yang berusaha mendekati Lastri semenjak menj

