“Ed!” Danang menatap Edi garang. Dia muncul dari persembunyiannya di balik semak dan pepohonan, didekatinya temannya itu lalu dengan gerakan cepat menghantam wajah Edi. Buk! “Anjrit!” teriak Edi, dia balas memukul Danang. “Gelo sia!” teriak Edi. “Dasar pengkhianat sia! Kan kamu tahu Ed, kalau aing suka sama Neng Linda,” teriak Danang, diseretnya tangan Edi melipir ke arah kebun Pak Solihin yang terkenal angker. Tetapi keangkeran kebun itu sekarang tak berefek apa-apa. Amarah tengah menguasai keduanya. Edi baru sadar kalau Danang rupanya cemburu, lelaki itu marah sebab dia sudah mengencani Linda, bahkan malam ini berhasil menikmati kelembutan janda itu. Edi terkekeh, dia tertawa sinis di hadapan temannya. “Oh, jadi kamu marah karena saya sama Linda pacaran? Dasar diri, N

