"Kenapa diam saja? CEPAT MASUK!" Seru Alex karena dr. Zia tidak mau masuk ke dalam kamar motel yang sudah ia pesan padahal ia sudah berbaik hati demi membukakan pintu untuk dr. Zia. Menurut Alex, ia sudah sangat baik hati. Kenapa sikap baiknya ini tidak disambut penuh kebahagiaan oleh dr. Zia? "K-Kita mau apa, Alex?" Tanya dr. Zia ragu-ragu. Di dalam hati ia terus mengucapkan doa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mau bagaimana pun, Alex ini adalah orang yang memperkosanya dulu, dan kenangan mengerikan itu masih tergambar jelas di dalam ingatannya dr. Zia. Jika bisa, saat ini rasanya ingin segera kabur sejauh mungkin dari Alex. Hanya saja, kakinya melemah seolah ditawan oleh kehadiran Alex. "Masih banyak tanya? Kau bodoh atau sok tidak peka, hah? Cepat masuk sebelum aku

