”P-Pak Sukamto?!” Kaget Tristan dengan nada tinggi. Sedangkan Sukamto hanya bisa menertawakannya, kemudian menepuk pundak mantan calon menantunya itu. Setelah menepuk pundak, tentu saja sekalian menekan pundak kurus dokter bedah yang membuat anaknya hamil di luar nikah itu, kan? "Apa kabar, mantan calon menantuku?" Tanya Sukamto lengkap dengan paket senyuman mengerikannya. Harusnya Tristan menjawab baik-baik saja kabarnya, kan? Namun apa ini? Mau mengeluarkan sesuatu saja, mulutnya terasa kelu. Begitu kaku seperti ban karet yang membeku diselimuti salju. “Hahaha, kenapa kau pucat sekali, Tristan? Kau tidak akan mati jika kau menjawab pertanyaan dariku.” Kata Sukamto dengan tenang. - Setenang yang ia bisa. Dalam hati sebenarnya menahan amarah tertahan luar biasa pada dokter bedah tam

