BAB 94

1618 Kata
Boni memeriksa setiap sudut rumah itu untuk menemukan Kitty. Berkeliling ke sana-kemari seraya memanggil-manggil nama Kitty. Namun, kucing itu tidak ada di mana pun. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk mencari keluar. Boni pergi ke taman tempat biasa Kitty bermain-main di sana. Tetap saja hasilnya sama, Kitty juga tidak ada di sana. Apalagi tempat itu cukup gelap, tidak mungkin Kitty akan bermin-main di tempat itu malam-malam. “Kitty, manis. Kamu ke mana?” Boni memanggil-manggil Kitty, berharap kucing itu akan muncul begitu mendengar suaranya. Namun hanya keheningan yang Boni dapatkan. Kucing itu tidak ada di mana pun. “Ya ampun, Kitty ke mana sih? Jangan sampai Kamu membuat aku terkena masalah lagi, Kitty,” ucap Boni seraya menguap lebar. Suara pria itu terdengar lesu. Maklum saja, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tentu saja, Boni sudah lelah dan mengantuk setelah seharian bekerja. “Yah, sudahlah. Mungkin aku bisa mencarinya besok saat hari telah terang. Atau mungkin saja kucing itu akan kembali dan hanya bermain sebentar. Buktinya waktu itu dia juga pulang,” ucap Boni menyerah. Mata pria itu tak bisa diajak kompromi lagi. Ia memutuskan untuk pergi tidur dan beristirahat dan baru akan mencari Kitty lagi besok pagi. *** Kitty lega karena akhirnya bisa keluar dari persembunyiannya. Setelah beberapa waktu ia terjebak di dalam lemari pakaian Raja, akhirnya ia bisa bisa keluar setelah memastikan keadaan aman. “Huft! Hampir saja!” Kitty mengelus dadanya yang tadi hampir meledak karena ia nyaris saja ketahuan. Kitty merasa sangat beruntung, ada suara televisi yang menyelamatkannya. Kitty pun segera berlari menuju pintu, mengunci kamar Raja dari dalam. Untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin saja terjadi. Setelah keluar dari dalam lemari, kini wanita itu kebingungan harus memakai apa. Tidak mungkin ia akan terus tel*njang seperti itu. “Aku harus memakai apa? Di rumah ini hanya ada lelaki. Mustahil ada baju perempuan.” Wajah Kitty merona, ia sangat malu melihat kondisinya saat ini meski tidak ada orang lain yang melihat. “Apa aku pinjam baju tuan saja, ya? Daripada kondisiku memalukan seperti ini,” ucap Kitty seraya menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangannya. Akan tetapi, tentu saja bagian tersembunyi di tubuhnya tidak dapat tertutup dengan sempurna. “Baiklah, mungkin lebih baik begitu.” Kitty memutuskan untuk meminjam baju tuannya daripada ia terus t*lanjang begitu. Kitty mendekati lemari Raja dan membuka pintunya. Kitty melihat ada banyak sekali kemeja di sana. Kemeja berwarna sama, yaitu putih. Kemeja model yang sama, dengan ukuran sama dan merk yang sama. “Hanya ini baju tuan?” gumam Kitty. “Sebenarnya selera tuan itu macam apa? Kenapa tak ada satu pun baju selain berwarna putih? Dia kan tampan harusnya bisa ganti biru cerah, atau pink cerah? Dengan kulitnya yang putih bersih, pasti dia terlihat semakin tampan,” gumam Kitty. Kitty tahu pakaian majikannya pasti mahal, tapi menurutnya sangat monoton dan membosankan memakai pakaian yang sama di setiap harinya. Kitty lantas melihat di bagian atas, di sana hanya ada celana bahan, tuxedo dan jas dengan model dan warna yang membosankan. kesemuanya di d******i oleh warna abu-abu dan hitam. Dan hanya ada beberapa warna navy. “Ah ya, ini kan tempat baju kerjanya. Baju yang ia gunakan di rumah kan di sana. Tapi ... ya sudahlah, aku pinjam saja kemeja ini. Aku akan memilih salah satu di antaranya. Di sini ada banyak baju yang sama, jadi tidak masalah kalau aku pinjam satu kan?” tanya Kitty pada dirinya sendiri. Kitty lantas mengambil satu baju secara random. Lalu dengan segera ia pakai untuk menutup tubuh telan*angnya. “Nah, begini lebih bagus. Yah, meski kebesaran begini, sih,” ucap Kitty saat melihat penampilannya di cermin. Bagian tubuh yang bersifat rahasia kini tak terlihat lagi. Baju itu terlihat kedodoran di tubuhnya. Kemeja putih itu lebih mirip dress di tubuh Kitty. Lengan kemeja itu terlalu panjang hingga membuat tangan Kitty tak terlihat, sementara panjang kemeja itu sampai di bawah lututnya. “Andai saja, aku memiliki gaun dan baju cantik seperti Nona Stella, pasti akan lebih bagus, bukan?” ucap Kitty seraya memutar tubuhnya, mematut dirinya di cermin. Kitty merasa bentuk tubuhnya begitu sempurna. ia begitu bahagia saat ia memiliki dua kaki dan dua tangan, buka lagi sepasang kaki depan yang berbulu. Dengan tangannya ia bisa memegang dan mengangkat apa pun yang ia mau. Ia juga memiliki paras cantik dan rupawan. Juga bibir yang bisa mengeluarkan suara dan dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya. Tubuh yang selama ini hanya menjadi angan-angannya, kini benar-benar ia dapatkan. “Ternyata, keinginanku untuk menjadi manusia dikabulkan oleh Tuhan. Wajahku juga lumayan cantik. Rambutku panjang dan sangat indah, sungguh sempurna.” Tak hentinya, Kitty mencubit pipinya yang cabi. Baginya, ini sangat menggemaskan. Kitty benar-benar tidak menyangka jika penampilannya sebagai manusia bisa secantik itu. “Tapi ... percuma saja aku menjadi wanita cantik. Tuan sama sekali tidak menyukai wanita. Wanita secantik Stella saja dia tidak mau. Apalagi wanita biasa seperti aku?” Wajah Kitty berubah menjadi cemberut. Entah mengapa, sekarang ia selalu mengaitkan Raja dengan kehidupannya. “Dia lebih suka jika aku menjadi Kitty si kucing hitam. Aku bahkan takut kalau Tuan tidak akan mau menerima aku. Mengingat bagaimana responnya saat dia didekati oleh Stella saat di restoran,” ucap Kitty putus asa. “Kucing?” Tiba-tiba saja Kitty kepikiran kalimatnya sendiri. “Apakah aku akan menjadi kucing lagi? Jika aku menjadi kucing akankah aku bisa berubah menjadi manusia lagi? Lantas bagaimana nasibku jika aku tidak bisa menjadi kucing lagi?” Malam itu, Kitty dengan segala pemikirannya tidak bisa memejamkan mata barang sedikit pun. Ia sibuk mengagumi sosoknya sebagai manusia. Ia juga sibuk memikirkan bagaimana masa depannya. Akankah ia berubah menjadi kucing lagu atau tidak. Jika tidak, sudah pasti Raja tidak akan membiarkan dirinya tinggal di sana karena Kitty adalah seorang wanita. Kitty bingung harus berbuat apa setelah ini. Ia harus ke mana kalau sampai Raja mengusirnya. Hati wanita itu di penuhi dengan segala kecemasan. Hingga sampai subuh menjelang, wanita itu baru bisa memejamkan matanya. *** “Jadi karena rumor itu kalian ingin membatalkan proyek ini?” tanya Leon pada seorang pria yang terus saja menunduk sejak ia dan Raja sampai di tempat itu. “Iya, Tuan. Seorang pria datang dan mengatakan jika perusahaan Tuan adalah penipu. Dia mengatakan jika proyek ini palsu dan tidak nyata. Pria itu bilang kami hanya akan merugi dan tidak akan dibayar atas kerja keras kami,” jawab pria itu dengan tubuh gemetar. “Enam bulan. Proyek ini sudah berjalan selama enam bulan. Tetapi Anda masih meragukan kredibilitas kami? Apakah kami memberikan modal yang kurang kepada perusahaan Anda. Pernahkah kami berbelit soal pembayaran dan keuangan? Perjanjiannya dua puluh persen akan kami lunasi saat proyek selesai. Bukannya kami tidak mampu membayar, tapi karena kami ingin ada jaminan juga untuk perusahaan kami. Untuk memastikan bahwa Anda juga akan menjadi pihak yang amanah,” ucap Leon dengan nada meninggi. Pria itu sangat emosi mendengar alasan tidak masuk akal yang diucapkan manajer proyek. Sementara itu, Raja masih duduk dengan tenang tanpa ekspresi. Pria itu menunduk dan terdiam, semua yang dikatakan Leon benar adanya. Perusahaan Raja sudah melakukan kewajiban dengan baik. Tidak pernah macet dalam urusan pembayaran. Ia jadi sedikit menyesal karena telah membuat masalah dengan menghentikan proyek pembangunan. “Mari kita akhiri saja kerja sama kita. Saya akan mencari jasa kontraktor yang lainnya. Sisa pembayaran akan segera kami urus.” Raja yang terdiam sejak awal pembicaraan akhirnya buka suara. “A-apa?” Wajah pria itu berubah menjadi pucat pasi. Pria itu sangat terkejut dengan keputusan Raja yang sangat ekstrim itu. Bahkan Raja tak menawar atau berusaha apa pun itu. Padahal, mencari kontraktor lain tidak akan mudah dan menghabiskan banyak uang lagi. “Ta-pi Tuan akan merugi.” “Tidak masalah. Merugi bagi kami adalah saat kami bekerja sama tetapi klien sama sekali tidak percaya.” Raja langsung bangkit dari duduknya. “Leon, mari kita pergi.” Raja berjalan dan segera pergi dari tempat itu. “Tunggu, Tuan. Tolong tunggu dulu, saya berubah pikiran.” Manajer proyek itu berteriak memanggil Raja. Ia akan setuju dengan perjanjian awal. “Leon, aku tunggu di mobil. Kamu jelaskan kepadanya, apa prinsip perusahaan kita dalam bekerja sama.” Raja tak menghiraukan pria itu dan berlalu pergi dari tempat itu. Setelah Raja masuk ke dalam mobilnya, pria itu berbicara memohon pada Leon. "Tolong, Tuan. Saya telah berubah pikiran. Saya setuju dengan perjanjian awal kita.” Leon menarik napas panjang. “Maaf, Tuan. Bukan saya, tetapi Anda sendiri yang telah membuat kerja sama kita menjadi hancur.” “Tapi, Tuan ... tidak bisakah?” Leon menggelengkan kepala. “Ini adalah keputusan Anda sendiri Tuan, dan Tuan telah mengusik orang yang salah, Tahukah Tuan, siapa beliau?” Leon menunjuk ke arah Raja yang sudah duduk tenang di dalam mobilnya. Pria itu kelihatan bingung karena tidak tahu siapa orang yang datang itu. “Beliau adalah Tuan El Raja William, pemilik seluruh kerajaan bisnis ER Group. Beliau sudah meluangkan waktu untuk jauh-jauh datang kemari, bahkan kami rela datang malam-malam. Akan tetapi justru kekecewaan yang beliau dapatkan. Tentu saja beliau sangat marah. Proyek yang harusnya selesai bulan depan terbengkalai hanya karena Anda mendengar rumor palsu seperti itu. Saya ucapkan terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Mengenai pembayaran akan segera saya selesaikan. Mengenai kerja sama yang lainnya, maaf sepertinya kami tidak akan melanjutkannya. Bahkan di kemudian hari, Tuan saya tidak ingin bekerja sama lagi dengan perusahaan Anda. Saya permisi.” Setelah berbicara panjang lebar, Leon segera pergi dari tempat itu, menyusul Raja yang sudah menunggu di dalam mobil. Lalu Raja melaju meninggalkan tempat itu. Sementara manajer proyek itu terduduk di atas tanah dengan penuh penyesalan. "Astaga! Apa yang sudah aku lakukan?" Pria itu menjambak rambutnya sendiri dan menangis. “Tidak apa-apa jika Kamu bisa mengatasinya.” Seseorang menyeringai di balik gelapnya malam. “Lihat saja Raja, ini baru permulaan. Aku benar-benar akan menghancurkan hidupmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN