BAB 73

1016 Kata
“Hei! Kamu mau ke mana?” tanya burung gagak saat Hitam berjalan meninggalkannya. “Aku mau pulang saja. Biarlah saja aku menjadi kucing saja dan tinggal di rumah tuan Raja,” jawab Hitam tanpa semangat. “Kamu kecewa karena Kamu tidak bisa berubah menjadi manusia?” tanya burung hitam itu. “Iya, benar. Aku kecewa karena aku sangat berharap bisa menjadi manusia. Memangnya kenapa? Tidak boleh? Aku tidak pantas ya?” tanya Hitam emosi. “Heh, bukankah aku sudah bilang. Kita memiliki kesempatan yang sama. Siapa tahu Kamu salah satunya yang akan mendapatkan kesempatan emas itu?” Gagak itu memberikan harapan kapada Hitam. “Alah Kamu tidak perlu menghiburku! Aku tahu kecil sekali kemungkinannya. Ah, kenapa aku harus bertemu denganmu? Aku jadi mengetahui hal yang seharusnya tidak aku ketahui dan aku jadi berharap,” ucap Hitam sedih. “Tidak ada salahnya kan, berharap? Sekalian kita cari tahu misteri tentang kehidupan kita. Siapa tahu kita mengetahui asal usul kita, siapa tahu ada sesuatu di balik keistimewan yang kita miliki,” ucap burung gagak itu dengan terus mengikuti langkah kaki Hitam. Burung itu sengaja terbang rendah di atas kepala Hitam. Hitam menghentikan langkah kakinya. “Kamu benar juga. Betapa tidak bersyukurnya aku telah diberi kelebihan oleh Tuhan.” “Benar kan apa yang aku bilang? Kita manfaatkan saja kelebihan kita untuk berbuat baik, bagaimana?” tawar burung gagak. “Kamu benar burung hitam.” Akhirnya hati Hitam terbuka, tak gelap lagi. “Burung hitam? Aku punya nama. Namaku Gagak, panggil aku burung gagak. Oh ya, namamu siapa? Bagaimana aku harus memanggilmu saat kita berjumpa lagi nanti?” tanya Gagak. Nama? Bahkan aku tidak tahu namaku siapa. Mereka hanya memanggilku Hitam, kerena buluku yang Hitam legam, batin Hitam. “Heh! Aku bertanya, siapa namamu?” tanya burung gagak lagi. “Hitam, semua orang memanggilku Hitam,” jawab Hitam. “Hahahaha.” Burung gagak tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. “Kenapa Kamu menertawakanku?” tanya Hitam tersinggung. “Tidak apa-apa.” Burung gagak terus saja terpingkal-pingkal. “Katakan kenapa Kamu tertawa? Aku sangat tidak suka ditertawakan dan tidak mengerti apa pun seperti orang bodoh,” ucap Hitam pada akhirnya. “Maaf, maafkan aku. Hanya saja ... namamu aneh. Hitam? Hanya karena bulumu hitam, bukan berarti orang bisa seenaknya memanggilmu hitam. Setiap makhluk punya nama bukan? Seperti aku, Gagak,” ucap burung yang berwarna hitam penuh itu. “Mau bagaimana lagi, saat aku tidak tahu siapa namaku sendiri,” gerutu kucing itu. “Ah, ya. Jadi ... berdasarkan penjelasanmu tadi, tidak semua hewan di bumi ini yang paham bahasa manusia, ya? Benar begitu?” “Ya, Kamu benar. Jadi tidak semua hewan bisa memahami bahasa manusia,” ucap Gagak. “Eum, kalau begitu bagaimana cara aku mengenali yang biasa dan luar biasa eh maksudnya yang memahami bahasa manusia?” tanya Hitam penasaran. “Kalau soal itu, aku tidak tahu. Memangnya aku ini dewa apa, yang bisa tahu tentang semua hal?” ucap Gagak dengan nada sinis. “Hehehe, maafkan aku Gagak. Soalnya aku ini kan benar-benar masih baru di dunia ini. Kalau bukan padamu, pada siapa lagi aku harus bertanya?” tanya Hitam. “Ah, sudahlah. Kalau Kamu memang mau pulang, cepat pulang sana sebelum hari berganti dengan malam,” ucap Gagak. “Eh, Kamu benar juga, Gagak. Aku harus bergegas pulang, siapa tahu Boni sudah mencari-cari aku,” ucap Hitam seraya mengingat pria penuh kelembutan itu. “Baiklah, kalau begitu, aku juga harus pulang kembali ke sarangku. Sampai jumpa lagi Hitam, semoga di lain waktu kita bisa berjumpa kembali,’ ucap burung itu sebelum akhirnya ia terbang tinggi ke angkasa. “Hmm, pasti enak sekali kan kalau memiliki sayap sepertimu, Gagak? Sayang, aku hanya memiliki empat kaki berbulu dengan bentuk yang begitu imut,” ucap Hitam seraya mengangkat kaki depannya dan memperhatikannya baik-baik. “Baiklah, mari kita pulang sebelum semua menjadi gelap.” Dengan langkah kaki terpincang-pincang ia menyusuri jalanan. Tubuhnya terasa sakit, bahkan kakinya juga nyeri karena pukulan wanita galak itu. Hitam bergegas melanjutkan perjalanannya. Akan tetapi ternyata Hitam baru menyadari bahwa tempat di mana ia berada saat ini begitu asing. Ia tidak mengenali tempat itu, Hitam baru menyadari kalau sepertinya dirinya tersesat. "Astaga, aku sekarang ada di mana? Jalan mana yang harus kupilih agar sampai di rumah tuan muda?" tanya Hitam. Akhirnya hitam memilih jalan yang menuju ke kanan. Namun, semakin jauh Hitam berjalan, semakin ia merasa asing dengan tempat itu. Akhirnya, kucing itu berbalik arah kembali ke tempat semula lalu mencoba menyusuri jalan arah ke kiri. Hitam lega karena ia berhasil sampai di ujung gang tempat ia masuk ke perumahan warga tadi. Hitam tak menghiraukan tubuhnya yang sangat lelah karena harus berjalan ke sana-kemari. "Syukurlah. Di ujung sana rumah tuan muda. Aku harus bergegas karena hari semakin gelap," ucap Hitam merasa senang. Hitam mempercepat langkah kakinya. Akan tetapi, baru beberapa langkah Hitam berjalan, hujan deras mengguyur tempat itu. Membuat Hitam kebasahanan dibuatnya. "Aduh, bagaimana ini?" Hitam setengah berlari menghindari hujan, menggunakan kakinya yang masih sakit. Akhirnya, Hitam memutuskan untuk berteduh sebentar di sebuah halte bus. Kucing itu bernapas lega, karena tempat itu cukup sepi. "Aduh, aku pasti kemalaman sampai di rumah. Apa mereka akan mencari aku?" Tiba-tiba saja Hitam merindukan kenyamanan tempat itu. Ia merindukan semua yang ada di rumah barunya tersebut. "Sungguh hari yang berat. Hari ini penuh dengan kesialan. Dikejar kucing gila, dipukul wanita gila, bertemu gagak, tersesat dan kini aku kehujanan. Eh, ngomong-ngomong, bagaimana caraku melompati pagar tinggi itu? Sementara kakiku sangat sakit dan tidak memungkinkan untuk memanjat," ucap Hitam pada dirinya sendiri. Hitam menyesal karena gegabah keluar seorang diri. "Ah sungguh sial!" umpat kucing itu. Hitam melihat ke sekeliling, ia baru sadar kalau hujan tak lagi turun. Ia tampak senang karena air tak lagi turun dari langit. "Wahh, hujan sudah berhenti. Mungkin hujan mendengar keluhanku." Hitam bergegas turun ke jalan untuk melanjutkan perjalanan. Baru saja ia menapaki jalanan aspal .... Zrassss! Malang! Sebuah mobil melaju dengan kencang dan menyipratkan air berserta ke tubuh Hitam. Kini, tubuh kucing malang itu jadi kotor dan basah. Wajahnya juga penuh lumpur. "Sialan!" Lengkap sudah penderitaan kucing itu. Hitam benar-benar merasa hari ini adalah hari sialnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN