BAB 80

1114 Kata
“Leon, hubungi yang lainnya. Katakan kalau rapat ditunda sampai jam sembilan pagi,” perintah Raja seraya mengelus bulu lembut Hitam. “Baik, Tuan. Saya sudah mengirimkan email kepada Hani. Dia akan memberitahukan pada semua pihak.” Leon tampak ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu lagi. Pada akhirnya, karena risih Leon nekat mengatakannya pada Raja. “Tuan, apakah tidak apa-apa Tuan memangku kucing ini?” “Memangnya kenapa? Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil,” ucap Raja kesal. “Anu, bukan begitu. Kita akan rapat, bisa saja celana Tuan akan kotor jika memangkunya seperti itu,” ucap Leon ragu-ragu. “Itu urusanku. Ada banyak pakaianku di kantor. Jadi apa yang perlu aku khawatirkan?” tanya Raja. “Ah ya, baiklah Tuan.” Akhirnya, Leon memilih diam daripada kena omel lagi. Sementara itu, Hitam tampak senang sekali melihat pemandangan di luar. Ia tampak tak peduli dengan perdebatan kedua orang itu yang berkaitan dengannya. Kucing itu cuek, menikmati pemandangan. Bahkan kucing itu tak segan untuk mengangkat kaki depannya menumpu di pintu, lalu ia melihat keluar melalui jendela mobil. Hitam merasa takjub saat berada di dalam sebuah benda yang melaju dengan kencang. Benda itu sangat nyaman dan sejuk. Ia bahkan bisa melihat pemandangan di luar sana. Melihat pohon di sepanjang jalan, juga rumah-rumah. Hitam juga dibuat takjub saat melihat deretan gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Hitam merasa keheranan, bagaimana makhluk bernama manusia itu bisa membuat bangunan setinggi itu. Sungguh, semua di luar nalar kucing itu. “Kamu suka, ya?” Raja tampak bahagia melihat kelakuan Hitam. Bagi Raja gerak tubuh Hitam begitu manis. “Sepertinya aku harus sering-sering mengajakmu jalan keluar, ya." Wah, benarkah? Kalau berjalan-jalan dengan menggunakan kotak berjalan ini pasti akan aman kan? Aku mau, Tuan. Aku mau, ucap Hitam antusias. “Meong, meong.” Hitam menatap Raja mengiyakan. “Wah, sepertinya Kamu paham dan setuju jalan-jalan denganku. Baiklah, nanti kita pergi ke pantai. Berjalan di pasir putih dengan kaki tela*jang, melihat ombak yang berkejaran, melihat matahari terbenam. Pasti menyenangkan, bukan?” tanya Raja sembari membayangkan suasana pantai. Pantai? Tempat macam apa lagi itu? Berpasir? Ombak? Apakah ada banyak makanan? batin Hitam. “Kamu pasti akan senang, Hitam. Ada banyak ikan di sana. Bukan hanya ikan, makanan laut lainnya juga sangat banyak,” ucap Raja. Wah, sepertinya menyenangkan. Hitam semakin tertarik mendengar kata makanan. Pernahkah dia pergi ke pantai? Selama aku ikut dengannya, ia sama sekali tidak mau pergi ke pantai. Jangankan ke pantai, ke taman dekat rumah saja dia tidak mau. Bahkan tempat yang Tuan kunjungi hanya kantor. Bagaimana ia bisa tahu bagaimana pantai? batin Leon. “Kamu juga, nanti ikut denganku ke pantai bersama Hitam. Bagaimana? Sepertinya ... selama Kamu ikut denganku, Kamu sama sekali tidak pernah liburan.” Kini Raja melibatkan Leon dalam pembicaraan mereka. “Ah, tentu saja, Tuan. Saya akan ikut ke mana pun Tuan pergi,” ucap Leon mengiyakan. “Hem, lihatlah perbedaanmu dengan Hitam. Hitam sangat antusias mendengar cerita tentang pantai. Sementara Kamu tampak dingin dan kaku. Sebenarnya siapa yang kucing, siapa yang manusia?” ejek Raja. “Mau bagaimana lagi, Tuan. Saya memang begini,” ucap Leon. “Baiklah, terserah Kamu saja mau ikut atau tidak. Yang pasti aku dan Hitam akan berjalan-jalan saat aku ada waktu luang nanti,” ucap Raja. Wah, sepertinya keputusanku untuk mengabdi kepada Tuan Raja adalah keputusan yang paling tepat. Aku bisa hidup tenang tanpa kekhawatiran akan kekurangan makanan. Aku bisa berbahagia karena mendapatkan kasih sayangnya. Biar saja aku hidup seperti anji*g penjilat, yang penting aku hidup bahagia, ucap Hitam. Dalam hati, kucing itu berjanji akan selalu bersikap manis pada tuannya. Ia benar-benar akan mengabdikan dirinya. *** Hitam takjub saat mereka berhenti di depan sebuah gedung yang begitu tinggi seperti yang ia lihat di jalan tadi. Ia tidak menyangka kantor yang Raja maksud adalah tempat tinggi itu. Entah sebesar apa kuasa pria itu hingga memiliki bangunan setinggi dan sebesar itu. Bertambah kagum kucing itu saat mereka naik lift untuk mencapai lantai sebelas, lantai teratas di mana ruangan Raja berada. Hitam tidak menyangka ada kotak ajaib yang bisa membawa mereka naik ke atas dengan sangat cepat. “Tuan, Anda harus memimpin rapat penting ini. Lalu bagaimana dengan Hitam? Karena saya juga harus mempresentasikan laporan,” ucap Leon saat mereka keluar dari lift. “Eum, bagaimana ya? Aku juga tidak tahu. Tidak bisakah aku bawa Hitam masuk ke dalam ruangan rapat?” tanya Raja. “Mana mungkin bisa seperti itu, Tuan. Pasti akan terjadi kekacauan di ruang rapat jika Anda membawanya,” ucap Leon. Raja tampak berpikir sebentar. Ia ingin meletakkan Hitam di dalam ruangannya, tetapi ia takut kucing itu akan menghilang atau juga kucing itu akan membuat kekacauan. Akhirnya terpikir satu ide yang menurutnya bisa digunakan. “Baiklah. Aku rasa ada seseorang yang bisa membantuku.” Raja berjalan mendahului Leon, menuju ke meja resepsionis di depan ruangannya. “Hani, ada tugas untukmu,” perintah Raja tanpa basa-basi. Wanita yang tadinya sedang sibuk bercermin, merias wajahnya itu terkejut akan kehadiran Raja yang mendadak. Tangan wanita itu bergerak cepat menyimpan cermin itu ke dalam tasnya. Lalu wanita itu memasang senyum semanis mungkin. Wanita itu berdiri secepat kilat lalu menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormat. “Iya, Tuan. Apa yang perlu saya kerjakan? Haruskah saya menggantikan Tuan Leon untuk rapat?" "Bukan, bukan tugas semacam itu. Masalah rapat, aku lebih percaya kemampuan Leon dibandingkan dirimu," ucap Raja pedas. Wanita itu mengeluh dalam hati, ia kesal karena selalu dibandingkan dengan pria tanpa senyum itu. Sayangnya, Hani kalah banyak. Leon bisa selalu bersama Raja, bisa menyentuh pria itu sementara dirinya? “Begini Hani, Kamu tolong jaga dia. Aku harus memimpin rapat sebentar." Raja mengulurkan seekor kucing pada Hani. Wanita itu menatapnya dengan sedikit jijik. Namun tak urung juga ia mengambil Hitam dari tangan Raja. Kini, kucing telah berpindah ke tangan sang resepsionis. "Ingat! Jaga dia, jangan sampai dia kenapa-napa atau hilang. Nasib Kamu di perusahaan ini yang akan menjadi taruhannya,” ucap Raja memberikan perintah yang mengandung ancaman. “Baik, Tuan. Saya akan menjaga kucing ini dengan sepenuh hati. Tuan Raja bisa dengan tenang memimpin rapat. Saya akan mengurusnya dengan baik,” jawab petugas resepsionis itu dengan begitu ramah. Tak lupa ia melemparkan senyuman manis dan menggoda ke arah Raja. Namun wanita itu harus kecewa karena lagi-lagi Raja mengabaikannya. Tak sedikit pun memandang keberadaannya. "Leon, ayo kita masuk!" ajak Raja seraya berjalan ke ruang rapat. “Kamu harus dengarkan betul-betul apa yang Tuan katakan. Ingat nasibmu dipertaruhkan. Jangan sibuk berdandan terus dan mengabaikan dia. Dia itu lebih penting dari nyawamu," ejek Leon sebelum akhirnya menyusul Raja masuk ke dalam ruang rapat. "Ck!" Hani mengerucutkan bibirnya. Ia sangat kesal karena ucapan Leon tak ada salahnya. Kenyataannya memang benar bahwa di mata Raja nyawa kucing itu lebih berharga dari nyawanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN