BAB 109

1308 Kata
“Stella?” Raja seolah bertanya pada dirinya sendiri. Ia jadi memikirkan nama itu setelah Bi Betty membicarakan wanita itu. “Iya, Tuan. Hanya saya dan Nona Stella, wanita yang tinggal di vila ini,” ucap Bi Betty. Benar juga yang dikatakan oleh Bu Betty, kalau bukan Stella, lalu siapa lagi? Berapa kali pun aku memikirkannya. Hanya Stella yang berkemungkinan masuk ke dalam kamarku. Orang luar tidak akan bisa masuk ke dalam rumah ini. Tapi jika benar itu Stella, apa tujuannya datang ke kamarku di tengah malam buta? batin Raja. “Tuan, sepertinya Anda terlihat sangat gelisah. Apa ada masalah? Apakah ada sesuatu yang gadis itu lakukan hingga membuat Anda begitu cemas?” Pertanyaan Bi Betty membuyarkan lamunan Raja. “Astaga!” Raja memijat pangkal hidungnya. “Maaf karena membuat Ibu terkejut dan khawatir. Bukan masalah yang besar, Bu. Mungkin saya hanya salah paham saja. Tidak ada masalah yang serius." “Oh, begitu. Saya kira ada masalah atau telah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan,” ucap Bi Betty. “Ah, tidak ada. Baiklah, terima kasih, Bu. Silakan lanjutkan pekerjaan Ibu.” Raja melirik wastafel yang masih penuh dengan benda pecah belah. Pria itu yakin Bi Betty meninggalkan pekerjaannya karena ia memanggil wanita tua itu tadi. “Kalau begitu, saya kembali ke kamar dulu ya, Bi?” “Iya, Tuan.” Wanita itu segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, sementara Raja meninggalkan tempat itu. “Tuan, mau sarapan bersama?” tawar Leon saat Raja melintasi meja makan. “Kamu makan saja, Leon. Aku sudah makan sup buatanmu tadi,” ucap Raja. Leon manggut-manggut mengerti. “Nona, silakan nikmati sarapanmu,” ucap Raja mempersilakan. “Baik, terima kasih, Tuan,” jawab wanita itu dengan wajah yang bersemu merah. Stella juga tampak salah tingkah saat tanpa sengaja mereka bertatapan mata. Kenapa dia tampak gugup seperti itu? Jangan-jangan wanita tadi malam benar-benar dia ... argh! batin Raja seraya merutuki diri. “Ba-baiklah, kalau begitu saya pamit mau ke kamar dulu,” ucap Raja tak kalah gugup. Hanya sekilas mereka bertatapan, tetapi mampu membuat hati Raja kacau. “Baik, Tuan. Silakan!” Raja segera lari dari tempat itu, kembali ke lantai atas di mana kamarnya berada. “Lihatlah, Nona. Dia memang sifatnya begitu, sebentar baik, sebentar cuek. Tapi sebenarnya dia orang yang baik. Jadi jika terkadang sikapnya kurang menyenangkan, jangan diambil hati, ya?” ucap Leon. “Iya, Tuan. Baiklah ....” *** “Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” Pria itu langsung duduk di atas kasur begitu sampai di kamarnya. Ingatan tentang kejadian tadi malam kembali terputar di kepalanya. “Sepertinya memang Nona Stella. Melihat wajahnya yang merah saat aku tatap tadi, sepertinya wanita tadi malam adalah dia,” ucap Raja lagi. “Lalu kalau itu memang dia, apa yang harus aku lakukan?” Raja benar-benar bingung dibuatnya. Ia masih belum sepenuhnya yakin jika gadis itu adalah Stella. Namun, jika menilik semua kemungkinan yang ada, memang hanya wanita itu yang paling memungkinkan apalagi tidak ada gadis lain lagi di rumah itu. Ia juga berpikir bahwa ia harus menjadi pria yang gentle, ia tidak ingin menjadi seorang pengecut. “Arghh!” Pria itu sangat frustasi, hingga menjambak-jambak rambutnya dengan kasar. “Kitty!” Raja teringat kepada makhluk kecil dan mungil tersebut. Di saat hatinya gelisah, biasanya ia bisa tenang dengan kehadiran kucing itu. Raja melihat ke arah lantai tempat Kitty tidur, tetapi kucing itu tidak ada di sana. Raja teringat bahwa ia tadi melarang kucing itu tidur di lantai dan menyuruhnya tidur di atas ranjangnya. Raja langsung menoleh ke belakang dan mendapati makhluk lucu itu terlelap di atas kasurnya. Raja tersenyum, benar saja, hanya dengan melihat kucing itu hatinya menjadi lebih tenang. Raja lantas mengangkat tubuh Kitty dan meletakkannya di atas pangkuan. “Astaga! Apakah Kamu begadang semalam? Sampai-sampai Kamu tidak mau bangun meski aku mengangkat tubuhmu dan memindahkannya ke pangkuanku?” tanya Raja seraya mengusap bulu-bulu halus Kitty. Kucing itu tidak terusik sama sekali. Ia tidak terpengaruh meski Raja mengelus-elus kepalanya sekali pun. Justru dalam pangkuan Raja, ia semakin terlena dan merasa nyaman. Bahkan, Kitty yang notabene seekor kucing sampai mendengkur halus saking nyamannya. “Lihatlah, Kamu bisa mendengkur juga rupanya. Kamu benar-benar kucing yang berbeda. Sudah seperti manusia saja Kamu ini, Kitty ....” Raja tak melanjutkan ucapannya. Suara dengkur halus kucing itu mengingatkannya pada dengkur halus gadis yang juga terlelap tadi malam. Entah mengapa Raja merasa mereka begitu mirip. Dalam sekejap wajah pria itu berubah merah padam. “Aish! Apa yang aku pikirkan. Aku tidak gila. Semalam terasa sangat nyata meskipun aku sedang mabuk dan aku sangat yakin, bahkan seratus persen yakin jika yang aku peluk adalah seorang wanita bukan seekor kucing,” ucap pria itu. “Meski berapa kali pun aku memikirkannya, juga menyangkalnya, wanita itu memang Stella. Yah, aku menyentuhnya tadi malam. Satu-satunya wanita yang tidak membuat serangan panikku kambuh kan hanya Stella, tidak mungkin orang lain,” ucap Raja. “Kitty, menurutmu ... apa yang harus aku lakukan?” Raja kembali mengusap kepala Kitty dan kali ini kucing itu terbangun saat merasakan usapan dan mendengar namanya disebut. “Sebagai pria yang baik, aku harus bertanggung jawab kan, Kitty?” tanya Raja lagi. Tunggu, tunggu. Tanggung jawab? Tanggung jawab apa, Tuan? Mata kucing itu terbuka lebar saat mendengarkan Raja yang mulai membicarakan hal yang serius. “Ya, sebagai pria yang baik, aku harus bertanggung jawab pada Stella. Betulkan Kitty?” tanya Raja lagi. Bertanggung jawab? Kepada Stella? Kenapa Tuan harus bertanggung jawab? Untuk apa Tuan Bertanggung jawab? tanya Kitty lagi. “Aku sudah melihat seluruh tubuhnya tanpa busana. Aku juga sudah menyentuhnya ....” Apa? Jadi, Tuan dan Stella? Tapi kapan? Kitty sangat terkejut dan sangat kecewa. Ia tak mengira Stella dan Tuannya sangat dekat hingga Raja sampai melihat tubuh polos wanita itu. “Aku sudah melakukan kesalahan tadi malam, Kitty. Aku melihat tubuh polos Stella, bahkan tanpa sehelai kain pun. Aku menyentuh Stella, aku bahkan hampir saja ....” Raja memijat kepalanya yang sakit. Entah karena efek minuman yang masih terasa atau karena lelah memikirkan hal apa yang harus ia lakukan. Sebentar ... maksud Tu-tuan? Apa yang Anda maksud adalah kejadian tadi malam? Kitty sangat terkejut. Ingin sekali kucing itu mengatakan hal yang sebenarnya. Ingin sekali ia mengatakan jika ia adalah gadis itu. Tuan, gadis itu bukan Stella, Tuan. Gadis itu adalah aku. Tuan telah menyentuhku, jadi Tuan harus bertanggung jawab kepa— Ucapan Kitty terhenti, ia kembali sadar bahwa dirinya adalah seekor kucing. Mustahil, Raja akan bertanggung jawab padanya. Ia juga merasa tidak pantas mendapatkan hal itu. “Kamu sedih Kitty, melihat tuanmu seperti itu? Yah, tapi kenyatannya memang begitu, Kitty. Tuanmu ini hampir merusak seorang gadis. Tuanmu ini bukan orang baik, Kitty,” ucap Raja. Tidak, Tuan. Bukan begitu, semua hampir terjadi karena saya juga terhanyut dalam suasana. Tuan adalah orang baik. Saya juga bersalah, Tuan. Jika sejak awal saya menolak sentuhan Tuan, maka semuanya tidak akan seperti ini jadinya, ucap Kitty. “Baiklah, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan melamar Stella, aku akan menjadikannya istriku untuk menebus kesalahanku,” ucap Raja. Apa? Secepat itukah Tuan? Harusnya aku ... harusnya ... ah, kenapa aku hanya seekor kucing? Tapi ... bukannya niat awalku adalah menjodohkan Tuan dengan Stella? Jadi, aku harus menerimanya. Aku harus mementingkan Tuan. Aku akan bahagia saat melihatnya bahagia juga, ucap Kitty dengan wajah sedih. Namun, meski ia berkata demikian, hati kucing itu tetap saja terasa sangat sakit. Ia tetap cemburu jika Raja bersama Stella. Kitty menyerah kalah, kondisinya yang bukan manusia membuatnya tidak berdaya. “Kitty, Kamu mau ke mana?” Raja memanggil Kitty yang tiba-tiba saja melompat dari pangkuan Raja lalu berjalan keluar. Kitty tidak mengindahkan panggilan pria itu. seolah dia tidak pernah mendengar apa pun. Hatinya sangat kecewa dan sakit. Ia harus pergi sejauh mungkin untuk menyembunyikan air matanya. Ia tidak ingin Raja tahu ia menangis, ia juga tidak mau dunia gempar saat seekor kucing ternyata bisa menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN