Baru saja Raja dan Leon masuk ke dalam kamarnya, mereka dikejutkan oleh suara gaduh yang bersumber dari halaman vila itu, lebih tepatnya mungkin di jalanan depan rumah.
Raja langsung keluar dari kamarnya, Leon pun turut mengikutinya. Keduanya saling berpandangan mata, bertanya-tanya suara siapa gerangan di depan sana.
“Siapa, Tuan?” tanya Leon.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu, Leon.” Raja mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tahu. “Mari kita lihat.”
Keduanya berjalan keluar vila dan melihat keributan terjadi persis di depan gerbang rumah itu. Padahal jarak rumah dengan jalan cukup jauh, tetapi keributan itu sampai terdengar di telinga Raja dan Leon. Sepertinya orang itu berteriak-teriak dengan suara yang cukup lantang.
“Ada apa, Pak Jo?” tanya Raja pada penjaga vila yang telah terlebih dahulu ada di halaman rumah dan melihat pertengkaran orang itu.
“Saya juga tidak tahu, Tuan. Sepertinya orang itu adalah tetangga di ujung sana. Mereka adalah warga baru, mungkin sekitar dua atau tiga bulan tinggal di sana. Entah masalah apa yang membuat ia marah-marah begitu. Hanya saja yang saya tahu dia memang seorang pecandu alkohol dan penjudi,” jawab Pak Jo.
“Astaga. Di jam segini, kenapa dia berteriak-teriak seperti itu? mungkin dia benar-benar mabuk hingga tak tahu waktu seperti itu. Apalagi ini kan tempat tinggal orang lain. Bagaimana bisa ia sangat mengganggu begitu,” ucap Raja seraya memijat pelipisnya. Suara pria itu benar-benar membuat siapa pun tidak nyaman.
“Dasar anak tidak tahu diuntung. Paman sudah menyekolahkanmu susah payah. Hanya mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar begitu saja tidak becus. Kapan kita bisa mengubah nasib jika Kamu terus bermalas-malasan begitu,” ucap pria itu dengan lantang sampai terdengar begitu jelas di telinga Raja dan yang lainnya.
“Tapi, Paman. Persaingan di tempat itu sangat ketat. Bukan hanya aku, tapi banyak pelamar lain yang gagal. Aku sudah bilang kalau aku akan berusaha mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Aku janji akan mendapatkan pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan kita berdua,” jawab wanita itu.
“Alasan terus, alasan terus!” Pria itu kesal atas jawaban yang keponakannya berikan. Pria itu menoyor kepala gadis itu hingga gadis itu terhuyung ke belakang.
“Hiks, hiks.” Gadis itu menangis. Ia takut jika pamannya akan melakukan kekerasan fisik lagi.
“Kamu ini, benar-benar tidak menghargai aku yang sudah membesarkanmu. Kamu tahu? Hutangku menumpuk gara-gara harus menanggung semua biaya pendidikanmu. Aku lelah terus miskin begini. Jadi aku tidak mau tahu, Kamu harus menghasilkan banyak uang apa pun caranya. Jika perlu aku akan menjualmu ke tempat itu agar Kamu bisa berguna. Kamu bisa menjadi wanita penghibur dan menghasilkan banyak uang untukku,” ucap pria itu dengan senyum lebar di bibirnya.
“Jangan paman. Jangan ... Stella tidak mau melakukan hal yang buruk itu.” Gadis itu berlutut, memohon, dan memeluk kaki pamannya. Ia menangis lebih keras lagi. Ia begitu takut jika sampai pamannya benar-benar menjualnya. Ia tidak mau melakukan pekerjaan hina itu.
“Aku tidak akan mendengarkan ucapanmu. Keputusanku sudah bulat. Demi mengubah nasib kita, Kamu akan aku jual dan aku akan dapat uang yang banyak.” Pria itu menendang tubuh ringkih itu sekuat tenaga. Wanita itu tampak terbaring di jalanan dengan kondisi acak-acakan.
“Apa pun yang terjadi, Stella tidak mau menjadi wanita seperti itu. Stella tidak mau jika Paman ingin menjual Stella. Lebih baik, Paman membunuhku saja,” ucap wanita itu.
“Baiklah. Jika itu maumu, maka Kamu harus mencoba merasakan apa itu namanya kematian.” Pria itu mendekat lalu menendang tubuh wanita yang tak berdaya itu. Tendangan pria itu menghantam dengan cukup keras.
“Arghh!” erang wanita itu saat kaki sang paman mendarat di perutnya. Lalu kaki pria itu terayun lagi dan menendang d**a wanita itu. Wanita itu terbatuk-batuk, wajahnya mendadak pucat pasi. Akan tetapi, bukannya berbelas kasih, pria itu terus menendang dengan membabi buta. Sepertinya pria itu sudah gila hingga ingin melenyapkan wanita malang yang sudah tak berdaya itu.
“Hentikan!” Raja yang tak tahan melihat penindasan itu akhirnya turun tangan. Ia tak segan untuk ikut campur saat ia merasa kekejaman itu sudah di luar batas wajar.
“Kamu siapa? Beraninya Kamu mencampuri urusanku?” Pria itu tampak marah saat Raja menghentikannya.
“Saya adalah pemilik vila ini. Saya sangat terganggu oleh aktivitas Anda di depan rumah saya. Ini sudah malam, kami ingin beristirahat,” ucap Raja dengan suara yang sangat tenang.
Pria itu tertawa seraya menatap vila Raja. “Saya tahu Anda orang kaya, tapi bukan berarti Anda bisa ikut campur dengan urusan saya.”
“Tapi apa yang Anda lakukan adalah tindakan kriminal. Saya bisa memanggil pihak berwajib karena Anda melakukan kekerasan pada seorang gadis,” ancam Raja.
"Cih! Mana bisa dikategorikan dalam tindak kriminal saat aku ini adalah pamannya, wali yang bertanggung jawab padanya," ucap pria itu tanpa ragu.
"Anda salah. Hukum tidak akan memandang hubungan kekeluargaan atau apa pun. Tiap tindak kejahatan pasti akan mendapatkan hukumannya," ucap Raja.
"Be-begini saja. Bagaimana kalau kita selesaikan dengan jalan damai saja?" Pria itu sepertinya takut dengan ancaman Raja.
"Jalan damai?" Raja bingung dengan pemikiran pria itu.
"Saya akan melepaskannya asalkan dia mau memberikan ganti rugi sebesar lima ratus juta," ucap pria itu.
"Ti-tidak. Saya tidak akan sanggup memberikan uang sebanyak itu," ucap wanita itu. Dengan wajah yang pucat, ia bangkit dan duduk di atas jalanan aspal.
"Nona Stella?" Leon terkejut saat melihat wanita yang pria itu sakiti ternyata adalah Stella.
Leon langsung mendekati wanita itu lantas menolongnya. Leon membantu Stella untuk bangkit. Raja tampak terkejut saat ternyata wanita itu adalah Stella. Semula ia tidak terlalu memperhatikan, karena ia hanya fokus pada pria yang tengah mengamuk itu.
"Tuan." Leon mendongak, menatap Raja. Pria itu memohon kepada atasannya.
Raja memijat pangkal hidungnya. Merasa kesal, kasihan dan enggan dalam waktu bersamaan.
"Sekali ini saja, Tuan." Leon memohon kembali, agar Raja menyelamatkan Stella.
"Baiklah. Aku yang akan memberikan ganti rugi kepadanya. Tapi Kamu harus berjanji, bahwa Kamu tidak akan mengganggunya lagi," ucap Raja pada akhirnya.
"Baiklah. Aku setuju. Aku akan melepaskan dia, bahkan aku tak sudi lagi mempunyai urusan dengannya." Pria itu terlihat gembira karena Raja akhirnya mengiyakan permintaannya.