BAB 91

1203 Kata
Wajah Leon tampak muram saat mengangkat telepon entah dari siapa. Keningnya berkerut hingga kedua alisnya hampir bertautan. Beberapa kali, terdengar helaan napas panjang pria itu. Sepertinya ada masalah yang cukup serius hingga Leon segamang itu. "Ada apa?" tanya Raja begitu Leon menutup sambungan telepon. “Sepertinya ... kita harus pergi, Tuan. Ada sedikit masalah di proyek kita yang ada di kota B,” ucap Leon tanpa basa-basi. Wajah pria itu tampak sangat serius, tak ada sedikit pun senyum di wajah Leon. "Sangat serius kah?" tanya Raja seraya mengernyitkan keningnya. Tak biasanya Leon secemas itu. "Ya, sepertinya begitu. Untuk itu kita sepertinya harus turun tangan sendiri, Tuan. Saya takut akan semakin parah kalau kita tidak segera mengatasinya," ucap Leon. “Haruskah kita pergi? Tidak bisakah diwakilkan saja?” tanya Raja. Pria itu sangat malas untuk berpergian. Karena kondisinya baru saja membaik. Raja tak ingin anfal lagi saat ia harus bertemu dengan banyak orang. Apalagi ia tak rela jika harus meninggalkan Kitty di rumah. Karena jika ingin membawanya pun tidak mungkin, Raja takut jika Kitty akan menghilang lagi mengingat jadwalnya akan sangat sibuk di sana. “Jika Tuan merasa belum fit dan tidak ingin pergi, tidak apa-apa. Biar saya saja yang pergi menggantikan Anda. Saya akan berusaha sekuat tenaga mengatasi masalah di sana,” ucap Leon. “Tidak, Leon. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Aku akan ikut denganmu. Baiklah, malam ini juga kita pergi,” ucap Raja. Pria itu merasa sudah terlalu banyak menyusahkan Leon. Ia tak ingin membebankan tanggung jawabnya pada pria itu lagi. “Lalu bagaimana dengan Kitty, Tuan?” tanya Leon ragu-ragu. Masalah di sana sudah rumit, akan semakin rumit jika Raja harus membawa kucing itu. “Biar dia ada di rumah. Kita akan sangat sibuk di sana, aku takut dia tidak terurus jika aku membawanya,” ucap Raja. “Baik, Tuan. Sepertinya memang lebih baik begitu. Saya rasa Tuan sudah mengambil keputusan terbaik dengan memikirkan Hitam eh Kitty maksudnya,” ucap Leon dengan hati yang sangat lega. Sebenarnya, ia sangat suka jika Kitty tidak ikut. Berkurang sedikit kerepotannya selain mengurus Raja. Ia tidak perlu pusing-pusing memikirkan Kitty yang terkadang suka lari ke sana-kemari. “Hm, Kamu benar. Ah, ya. Bilang pada Boni, aku titip Kitty. Suruh dia jaga Kitty baik-baik. Jaga makanannya, pokoknya jaga semuanya. Jangan sampai terjadi apa-apa pada Kitty atau dia akan menanggung akibatnya,” ancam Raja. “Baik, Tuan. Nanti akan saya sampaikan,” ucap Leon mengiyakan. “Sekarang, Kamu kemasi dulu barang-barang yang akan aku perlukan selama di sana. Tak perlu banyak-banyak, karena aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Aku akan langsung pulang setelah urusan selesai. Ah ya, sekalian Kamu siapkan semua dokumen yang kita perlukan. Aku akan menemui Kitty sebentar sebelum kita pergi,” ucap Raja. “Siap, Tuan. Saya akan melaksanakan tugas dari Anda.” Pria yang rajin dan cekatan itu segera pergi untuk melaksanakan tugas dari Raja. Termasuk menemui Boni. Sementara itu, Raja segera pergi menemui Kitty yang ada di kamarnya. Ia akan menikmati waktunya bersama kucing itu sebelum ia pergi ke luar kota. “Hei, Kamu sedang apa?” tanya Raja saat melihat Kitty yang terbaring di lantai kamarnya, tanpa alas apa pun. Kucing itu tampak memejamkan mata dan lemah. Pria itu segera mengangkat tubuh Kitty, lalu membawanya ke dalam dekapan. Raja lantas mengelus bulu lembut Kitty dengan penuh kasih sayang. "Jangan tidur di lantai. Di lantai itu sangat dingin, bisa jadi juga di lantai ada banyak kuman," nasihat Raja. "Kenapa Kamu tidur di sana? Kamu mengantuk ya?" "Kalau begitu, temani aku tidur saja." Pria itu menidurkan Kitty di atas kasur, lalu dirinya ikut merebahkan diri di sana. Raja meletakkan kepala Kitty di lengannya. Membiarkan kucing itu bermanja-manja padanya. "Kitty, sebenarnya ... aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Malam ini aku ... harus pergi ke kota B untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. Aku tidak bisa membawamu, karena di sana aku dan Leon akan sangat sibuk. Aku tidak mau Kamu akan terlantar jika ikut. Aku harap Kamu mengerti, Kitty," ucap Raja. Kitty menatap Raja tanpa berkedip. Raja mengartikan seolah-olah kucing itu sedang meminta agar Raja membawanya. "Bawalah aku, Tuan. Bawa aku bersamamu, pinta kucing itu. "Tidak bisa, Kitty. Di sana aku dan Leon akan sangat sibuk. Aku tidak mau Kamu terabaikan. Jadi tinggallah dengan tenang bersama Boni di rumah ini. Aku janji aku akan segera kembali. Jangan nakal-nakal, mengerti?" tanya Raja. "Baiklah, kalau begitu," jawab Kitty dengan wajah yang sedih. Raja menyadari jika kucingnya itu sedih karena tak diizinkan ikut. "Tidak perlu memasang tampang sedih seperti itu. Aku janji aku akan membelikanmu ikan yang paling enak dan lezat. Bagaimana?" tawar Raja. "Benarkah? Tentu saja, aku mau." Kitty melupakan kekesalannya dengan cepat begitu Raja berjanji akan membelikannya ikan. Mata kucing itu berbinar-binar, pertanda setuju. Raja jadi tertawa geli karenanya. 'Kitty-ku sungguh menggemaskan. Baru saja dia merajuk karena mau ikut, begitu mendengar kata ikan, dia langsung melupakan kemarahannya. Eum, sepertinya sekarang aku tahu apa yang bisa meredakan kemarahanmu, batin Raja tertawa. "Kucing pintar. Bersikap manislah saat aku tidak ada, oke?" nasihat Raja. Kitty mengangguk perlahan. Pria itu lantas memeluk Kitty, lalu mengecupi kepala kucing itu dengan sayang. Cup. Lagi. Raja memberikan kecupan di bibir Kitty. Hati kucing itu kembali tidak karuan karenanya. Ingin sekali, Kitty berlari menjauh dari majikannya. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Saat ini Raja memeluknya erat-erat seraya memejamkan mata. Ia tidak bisa melarikan diri barang se-inci pun dari pria itu. "Kenapa Tuan selalu melakukan itu padaku? Bagaimana kalau jantungku benar-benar akan meledak?" gumam kucing itu. Kitty benar-benar merasa sangat aneh, ditambah lagi ia merasa tubuhnya bertambah panas. Haruskah aku mandi agar tubuhku tak sepanas ini lagi? batin Kitty yang sebenarnya tidak terlalu menyukai air. "Ya sudah, aku mau tidur sebentar saja sebelum pergi." Seolah tak terjadi apa-apa, pria itu langsung memejamkan mata dan terlelap ke dalam mimpinya. "Bisa-bisanya dia langsung tidur setelah melakukan hal itu padaku. Meskipun aku kucing, harusnya dia tidak menciumku seperti itu, kan? Aku ini kan beda dari kucing lainnya. Hatiku bahkan tidak karuan hanya karena perlakuan manismu, Tuan," gerutu Kitty. *** Malam itu cuaca begitu cerah. Tak setitik pun awan hitam menghiasi angkasa. Langit benar-benar bersih. Sangat sesuai untuk pergi keluar, berkencan atau melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama keluarga atau orang terkasih. Namun lain bagi Kitty, kucing kecil itu sama sekali tidak dapat menikmati keindahan itu. Kucing malang itu tak diizinkan ikut tuannya dan hanya boleh berdiam diri di rumah. Ditambah lagi, saat ini ia tengah tergolek lemah di atas lantai. Rasa panas yang ia rasakan tadi, sepertinya berubah menjadi demam. Semenjak kepergian Raja, ia merasakan tubuhnya sangat tidak nyaman. Kitty merasakan hawa panas yang luar biasa. Ia juga sangat lemas seolah tidak memiliki tenaga. Padahal ia baru saja makan seekor ikan besar. Kitty tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya hingga ia merasa tersiksa seperti itu.. “Aku ini kenapa?” tanya Kitty pada dirinya sendiri. Ia bergerak dengan tenaga minim. Saat ini, hawa panas semakin menyergap tubuhnya. "Uh ... ini sangat tidak nyaman sekali. Rasanya panas, haus sekali tapi aku tidak dapat bergerak. Kenapa aku jadi begini? Apa aku demam? Apa aku sakit? Atau mungkin ini efek dari apa yang Tuan lakukan kepadaku? Tapi tidak, biasanya hanya jantungku yang berdebar kencang. Tidak sampai separah ini. Apakah aku akan mati saat Tuan tidak ada?" ucap Kitty putus asa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN