Liena duduk di tepi ranjangnya. Jauh menatap lurus ke arah bintang yang bersinar di malam hari. Cahaya bulan sabit yang meneranginya mampu membuat perasaannya sedikit membaik. Liena tidak tahu mengapa ia menangis saat Kalandra memutuskan untuk pergi ke luar rumah dan tidak kembali sampai detik ini. Liena tidak pernah berpikir kalau pria itu akan menyakitinya. Kalandra takut akan dirinya sendiri. Takut jika keluarga atau wanita berambut merah itu akan menyentuhnya. Mereka tidak punya hak untuk menyentuhnya. Tidak sama sekali. Melangkah turun dari kamar, Liena menemukan Kalandra duduk di depan perapian dengan mug kopi. Tatapannya kosong saat menatap api perapian yang berkobar membakar kayu. Liena menunduk, menyembunyikan wajahnya. "Aku sudah mengunci pintunya." Liena menghela napasnya. M

