Bagian Sembilan

1346 Kata
"Kita pasti baikan." . . . "APOSEEE KAMU MARAHAN SAMA MAS RENOSE HAHAHAHA," Veny tertawa selebar truk teronton, sebelum mimik wajah bulenya mendadak berubah serius. "Kok, bisa?" "Mas Reno, bukan Mas Renose!" koreksiku mutlak. "Ah, iya bibir dinda terlalu lancip ini, jadi kebablasan!" bela Veny cuek. "Tapi, itu bukannya malah bagus, yah? Kan, katanya kamu mau bikin perhitungan sama Mas Reno?" "Perhitungan yang Adek maksud itu biar makin disayang, bukan malah jadi diem-dieman gini, Ven," curhatku lesu. "Mas Reno diemin kamu? Kok, tumben? Biasanya tanpa nunggu dese diem, kamu udah gelar lapak, bermurah ria, tebar diskon, nyosor-nyosor?" "Nggak nafsu nyosor, Ven," aduku semakin lesu. Bahkan dua sudut sikuku pun udah sukses lepek mirip rambut belum masuk salon keramas sewindu. "Halah! Alibi! Kalau disosor duluan juga semangatmu balik lagi, tumbuh kilat, membara, panas, tegang." "Ish! Veny jangan keras-keras ngomong gituannya ntar ada yang denger! Adek, kan malu," kataku sambil berusaha membekap mulut lebarnya. Namun karena si Veny Rus ini gesit sekali, dia sanggup mengelak dan balik menoyor kepalaku enteng dengan tangan bercita rasa premannya. "Prettttttt! Dari kapan kamu ngerti malu? Biasanya juga doyan malu-maluin dan menjijaikan. Urat malumu tuh udah lemah, lunglai, kendor. Sok sok-an isin," cibir Veny sambil mengupil. "Btw, Mas Renose ke mana sama buntut mungilnya itu?" "Mas Reno lagi nemenin Rama jajan martabak," jawabku pelan dan lagi-lagi dihantam kesadaran akan adanya kejanggalan yang bersumber dari lidah laknat Veny, hingga memancingku guna berujar, "Dan bukan Mas Renose ih, Vennn! Namanya Mas Reno, suami Adek." "Iyalah, iyalah. Mas Reno!" respon Veny malas, kali ini sambil menguap. "Tapi, kok bisa sih marahan? Hayooo loh, Mas Reno punya WIL, yah?" WIL? Yang Veny maksud ini tentu bukan ibukotanya Swiss, kan? Buat apa Mas Reno punya ibukota? Emang dia calon Gubernur? Ish! Jadi tukang tahu aja udah ribet, banyak fans-nya apalagi kalau mesti jadi pria nomor satu? Oh, no no no! WIL? Em, Nikita Willy? William Shakespeare? Will.I.am? Wanita ... Idaman Lain? Seketika wajah Ralisa memenuhi mata mayaku, membuat kelopak ini otomatis membulat waspada juga menarik refleks bibirku untuk berkata lantang, "Enggak! Enak aja! Mas Reno cuma milik Adek. Satu-satunya wanita yang Mas Reno idamin ya, cuma Adek juga." Tersenyum miring di tempatnya duduk sambil menyilangkan kaki di atas sofa, Veny lalu mencibir, "Idihhhh pede amir kamu! Serius? Terus mantannya apa kabar? Siapa itu namanya ... Ralisa? Ah, iya! Yang cantiknya udah kayak Raline Shah. Kamu nggak lupa, kan kalau waktu nikahin kamu Mas Reno itu nggak ada rasa? Yakin dia udah cinta mati ke kamu sekarang?" Dan aku pun bisu. Bukan karena nggak mampu menjawab perkataan Veny, tapi karena baru saja Veny—sahabat paling kentalku—berani mengungkit soal masa lalu yang susah payah aku pendam. "Eng ing eng! Jangan bilang, alesan perang dingin antara kamu sama Mas Reno itu, Ralisa? Aw aw aw, kusuka ini. Urusan mantan yang tertunda, nih ye? Enel nggak aku, hm?" Veny menaik-turunkan alis bentukan pensilnya cepat. Yang sesaat membuat wajahnya jadi mirip tante-tante genit. "Mas Reno masih ada sayang, yah sama doi, heh?" "Nggak," jawabku tajam dengan mata memicing galak, morse bahwa aku sedang dalam mode seratus persen serius. "Yang Mas Reno cinta cuma Adek. Dia bilang kok dan lagi kalau nggak cinta, Adek nggak bakal ngandung anaknya Mas Reno." Mengusap perut rataku pelan. Aku tahu semua pembelaan tadi berdasar juga nyata kebenarannya. Mas Reno ... saat bertemu denganku dia udah nggak bersama Ralisa. Hubungan mereka kandas jauh-jauh hari sebelum aku hadir. Lalu, persoalan Mas Reno yang belum cinta padaku sewaktu melamar dulu, memangnya itu masalah? Toh, sekarang satu-satunya wanita yang Mas Reno lihat di mata jua hatinya hanya aku, istrinya. "Nah! Itu dia!" ucap Veny ambigu seraya menjentikan jari-jari berkutek merahnya ke udara, memancing dahiku untuk mengerut tebal. "Kalau kamu udah ngerti Mas Reno cintrong, ya kenapa masih buang-buang waktu dan keringet buat main ragu-raguan, Adek? Sok-sok cemburu gaje kayak bocah. Hihhhh! Tau nggak?" "Enggak." "Husttt! Belum megar nih mulut udah nyamber aja. Dengerin, yah, Jeung! Pria itu jangan dikerasin! Kalau Adek terus-terusan kayak gini, dikit-dikit sensi, saupil-saupil salah paham, nyalahin Mas Reno. Ntar dia kabur loh. Tau rasa, kamu! Bisa, ngerawat anak kamu sendiri? Mau jadi janda kembang? Sanggup hidup solo tanpa Mas Reno? Hah? Sudi ngulang profesi jomblo? Nggak ada yang kelonin kalau tidur, nggak ada yang pegang-pegang, nggak bisa raba-rabaan, nggak bisa jilat—" "Enggak!" serobotku kilat yang sekaligus memblok paksa mulut Veny yang udah semakin beringas frasa-frasanya. "Makanya! Udah dibilangin juga jutaan kali. Manjamu, plis banget dikurangi! Profesimu sekarang tuh, istri, Dek. Bukan lagi abege aye-aye yang haus rayuan manja. Kalau ada masalah, jangan doyannya nunggu! Inisiatif kek. Apa-apa harus Mas Reno yang minta maaf dan ngaku salah. Mas Reno adalah pria bisa, Dek. Dese bisa lelah juga." "Tapi ... kok Veny jadi belain Mas Reno sih? Veny, kan partner in crime-nya Adek." "Bukan belain! Justru karena aku ini supporter loyal kamu. Jadi, kukasih tau kalau kamu salah. Hih! Bebel banget sih bikin laper aja. Ada sisa tahu bulet nggak di dapur?" ujar Veny yang langsung menerobos masuk ke ruang makan. Menginvasi dapur demi menemukan sebungkus-dua bungkus snack pengganjal perut. "Tahu bulet kemarin, ada. Veny mau? Hari ini Mas Reno libur jualan," tuturku sembari membuntutinya menjelajah. "Yaelah! Macem pi-en-es aja tanggal merah cuti. Kudunya tuh semangat juangnya dipompa kalau lagi libur gini. Ngider, biar dompet makin tebel. Katanya, mau memproduksi anak sebelas. Kalau tiap kalender merah absen, bisa-bisa bocah-bocah tak berdosa itu cuma makan tahu bulet selama hidup. Jangan cuma getol bikinnya, cari rezekinya pun kudu lebih gencar lagi!" Jika aku tak salah ingat, cita-cita terbaru Veny adalah jadi selebritis yang gosipnya bisa dimuat di laman lambe nyinyir. Oleh karena itu, wanita seumuranku yang masih solo nan sok happy ini hobi sekali membuat kontroversi dengan lambe-nya. Mengerucutkan bibir biar gemes, aku lantas merespon, "Yah, kan tiap anak bawa rezeki masing-masing, Ven." "Ya kali bayi kuat ngangkat karung duit? Orangtua, lah, Dek yang kudu buka jalan. Bantu angkutin rezeki-rezeki itu. Di dunia bulet ini, no action, no gain." "Okeh." Sejak mengenal Veny di SMA satu yang dapat kupelajari bahwa 'dia wanita, selalu benar dan makan tuh, kekalahan lo!' Menghela napas bukti kekalahan, aku kemudian teringat sesuatu yang super penting dan bertanya, "Eh, ngomong-ngomong soal no action, no gain. Kira-kira Adek mesti ngapain nih, Ven abis ini?" "Maksud L?" Veny melirikku dari balik bulu mata palsunya yang tengah melongok-longok isi toples. "Adek pengen baikan sama Mas Reno." Dengan mulut muncu-muncu akibat pilus, Veny menjawab tak jelas. "L-hah, bihasahnyah khamuh ukah hngahphain?" "Hm?" Menelan warga pilus di mulutnya, Veny lalu menatapku dengan seringaian menggoda yang sangat menjijikan. "Pegang tangan? Peluk erat? Cumbu mesra? Atau ena-ena?" "Ishhhh! Sensorrrrr, Vennnn!" geramku sambil mencubit ciut pinggangnya supaya setara ganasnya dengan gigitan kerangkang. "Dan, Adek lagi hamil kali. Emang boleh yah anuan?" Veny mengangkat kedua belah bahunya ringan sambil mengelus-elus bekas kejahatan tanganku. "Meneketehe, lah. Tanyalah ke dokter gantengmu itu! Apa mau aku wakilin nanya? Sini bagi kontaknya!" "Ish! Modus jomblo! Jangan diganggu ah! Dia udah punya calon." "Baru juga calon," gumam Veny. "Ini Mas Reno sama si buntut beli martabak di mana sih? Udah ngerti rumah di Jekardah, masih maksa beli martabak di Surabaya. Lambreta, kan jadinya! Udah ini perut meronta-ronta, cacing-cacing pada nari striptis, kamu juga nggak berguna. Tsk! Nggak lagi-lagi deh, bertamu malem-malem di saat tuan rumahnya lagi pada marahan. Nyiksa!" "Ihhh, Veny sabar! Bentar deh, coba Adek telepon Mas Reno dulu," ujarku sambil mengeluarkan handphone dari saku daster. Bersiap men-dial nomor Mas Reno. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi yang mengalun, menggelegar di seantero dapur. Yo yo c'mon tahu bulat yo digoreng dadakan yo lima ratusan yo raos pisan yo jib ajib jib ajib wokowokowok Mengerutkan bibir, aku dan Veny langsung kompak celingak-celinguk. Mendeteksi asal bunyi nyaring yang baru saja menyapa telinga. Dan tepat di atas meja makan, pandanganku berhasil menagkap penampakan ponsel Mas Reno yang agaknya tertinggal. "Yahhhh, Mas Reno nggak bawa handphone, Ven," simpulku sambil menghampiri benda persegi yang terus saja bernyanyi, menyuarakan simfoni bernada rap. Mengulurkan tangan demi meraihnya, tampak ada sugguhan tak biasa yang tertera di permukaan layarnya. Ini .... "Ven, ada telepon," aduku. "Yaelah! Malah laporan. Angkat, lah!" "Dari ... Ralisa, Ven," lanjutku. "Adek harus gimana?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN