Bagian Lima

1009 Kata
"Tiba-tiba aku jadi berpikir, andai kata Mas Reno nggak punya masa lalu pasti jauh lebih baik." . . . "Mas Reno liat deh Rama lagi gandeng siapa?" Aku yang sedang minum s**u tepat di sebelah Mas Reno, lantas merasa ikut terpanggil untuk memperhatikan si Rama yang tadi sempat pamit buat beli batagor di luar. "Ralisa?" Suara Mas Reno yang ramah menyambut, membuatku mendadak ciut sendiri di tempat. "Hei, Mas? Apa kabar?" tanya wanita feminin yang dua juta kali lebih cakep, ramping, jenjang jua anggun dariku. "Aku baik. Kamu gimana Ra? Lama yah nggak ketemu," ucap Mas Reno yang sekarang udah bangkit berdiri dan langsung menyalami jari-jari berkutek merah nan mempesona milik Ralisa. "Aku juga sehat, Mas. Iya nih, padahal aku sempet liat Mas jualan depan kantorku loh tempo hari, tapi waktu aku mau beli udah sold out," tutur wanita itu, Ralisa Anjani sambil tak lupa menebar senyum manis kelebihan kadar gula nan mendamaikannya. "Iya, kah? Habis di situ rame banget sih Ra. Makanya, tiap minggu aku pun pasti usahain buat dagang di sana. Kapan-kapan aku kontak deh kalau aku jualan lagi yah?" "Janji loh yah Mas?" "Iya." Apa itu? Kenapa Mas Reno memberikan janji kepada wanita lain? Udah begitu Ralisa, kan mantan pacarnya. "Eh, Mamih aku nanyain Mas Reno mulu tau." Melalui ekor mata ini, aku dapat menangkap kedua manusia tersebut juga ditambah si Ramasaurus telah menempati sofa putih di dekat pintu. Benar-benar mirip keluarga berencana gitulah dan aku adalah pembantunya. "Eh, tapi aku sempet mampir bulan lalu loh buat nganterin oleh-oleh dari Mamah." "Serius? Kok Mamih nggak cerita yah kalau Mas Reno ke rumah?" "Lagi banyak yang dipikir mungkin jadi lupa mau cerita." "Tega deh Mamih. Padahal aku, kan juga ingin ketemu Mas." "Nah, ini, kan juga ketemu. By the way, mau minun apa, Ra? Kopi yang gulanya satu setengah sendok? Masih suka?" "Kok Mas masih inget?" "Ya masa kebiasaan selama sembilan tahun lupa." Aku dapat melihat seutas senyum lebar nan semeringah sedang terpajang di atas bibir merah membara Ralisa. "Eh, nggak usah repot-repot deh, Mas. Lagian aku udah minum kok tadi. Terus terus, nih yah balik lagi dong ke tahu bulatnya Mas. Inget nggak dulu waktu awal-awal merintis, modal masih tipis banget, belum punya pengalaman lalu Mas maksain dagang pake Viar gara-gara ditentang sama Om. Nyangka nggak sih Mas, langsung bisa dikerubutin Ibuk-Ibuk gitu? Inget nggak?" "Yang kamu ngikutin aku pake motor bebek pink-mu itu, bukan? Yang saking banyaknya yang beli kamu bantuin aku goreng terus keciptratan minyak panas? Sumpah aku khawatir banget waktu itu, Ra." "Huum, Mas! Yang itu. Yang kamu langsung angkut aku sama motorku pake Viar buat ke klinik. Yang tahu buletnya sampe tumpah-tumpah gara-gara ngebut di jalan. Sumpah kalau diinget-inget lagi sekarang, kejadian itu kok lucu yah?" Jernih kujaring suara renyah tawa Mas Reno mengudara berbarengan dengan milik Ralisa, tentunya. Terdengar begitu jelas tapi terasa sangat jauh. Masa lalu yah? Apalah aku yang baru dua tahun hadir di hidup Mas Reno. Seketika, aku mampu merasakan hadirnya cubitan kecil yang hinggap di daging hati sana. Mas Reno .... "Eh, iya aku ke sini, kan mau izin buat ngajakin Rama jalan-jalan. Boleh nggak, Mas?" "Boleh dong, Mas? Yah? Yah? Plis?" Ini rajukan Rama. "Rama nggak bakal nakal dan ngerepotin Mbak Ralisa, kan?" tanya Mas Reno dengan nada damai yang biasa. "Pasti dong! Mbak Ralisa, kan nggak kayak bocah. Bisa jagain Rama, sayang lagi sama Rama," kata si Rama terang sekali tengah menyinggungku. "Ram!" Aku sanggup menangkap Mas Reno memperingati lalu dia berujar, "Ya udah ntar jam 5 sore Mas jemput di tempat Mbak Ralisa yah?" "Oke, Bos! Jemputnya sendiri aja Mas jangan ajak-ajak yang lain! Ntar kalau ajak yang itu, Rama suruh naik di ban mobil lagi pulangnya." "Ram! Nggak boleh begitu yah!" tegur Mas Reno tegas. "Udah ah Rama pergi dulu! Ayo Mbak Rara!" "Kami jalan dulu yah Mas? Sampe nanti dan salam buat Adek yah?" "Oke. Hati-hati Ra! Kabarin kalau butuh sesuatu atau ada apa-apa!" "Sippp." Selepas itu, hadir suara derit pintu yang ditutup. Mengambil langkah tanggap, aku pun berupaya sibuk berkutat dengan gelas jua piring kotor dalam bak cuci. "Adek? Susunya udah abis? Tumben nih cepet banget biasanya suka males." Aku tau Mas Reno mengatakan ini tepat ketika posisinya berada tak jauh dari punggungku. Memilih untuk diam aja, diri ini berusaha keras untuk tak berbalik serta menubruk tubuh Mas Reno seperti kegiatan rutinku bila sedang bersedih. Meremas spons erat, aku membusai sebuah gelas kaca sambil terus membiarkan mataku berembun. "Eh? Kok diem aja? Yang dicuci banyak yah? Sini biar Mas bantu bilasin." "Nggak usah Mas! Mas duduk aja Adek bisa kok," tolakku pelan sebagai siasat agar Mas Reno tak terlalu mendengar adanya perbedaan di diriku. Namun dia tetaplah Reno Adipati, suamiku. Yang lumayan sulit dibohongi. "Suara Adek kenapa? Kok serak?" "Jangan deket-deket! Jangan liat!" Walau aku udah melarang Mas Reno tetap memutar tubuhku dan mengakup wajahku menggunakan dua tangannya. Pria ini bahkan mendongakannya. "Adek nangis ... kenapa? Mas ... udah nyakitin Adek yah? Maaf tadi Mas nggak bermaksud buat cuek-" "Bukan Mas Reno kok yang salah. Adek yang salah. Adek sok paling kenal Mas. Padahal Adek, kan cuma orang baru di hidup Mas. Harusnya Adek nggak sok ngelarang-ngelarang Mas, nggak sok ngekang Mas, nggak sok manja. Harusnya Adek ngerti posisi Adek. Harusnya-" "Sttt ... nggak apa-apa, Dek. Kok ngomongnya ngelantur gitu sih? Mas suka kok Adek atur-atur. Mas suka Adek protektifin. Mas juga suka kok ngadepin manjanya Adek. Itu tandanya cinta Mas nggak bertepuk sebelah tangan. Itu tandanya Adek ngerasa memikili Mas juga. Adek peduli sama Mas kayak Mas peduli ke Adek." Mas Reno tersenyum lirih sambil menghapus air mata yang meluber di seluruh penjuru wajahku menggunakan telapak tangan lebarnya. "Jangan mikir begitu! Masa lalu buat Mas yah sebatas masa lalu aja. Di sini bareng Adek, sama calon anak kita, Mas bahagia. Adek tau kan seberapa sayangnya Mas sama kalian?" Aku mengangguk-angguk cepat sambil sesekali masih meneteskan tangis. "Kalau Adek nangis Mas ikutan sedih juga loh. Adek mau Mas sedih?" "Enggak. Adek sayang Mas." Sayang banget sama Mas Reno. Dan Adek suka di sini, dalam pelukan, Mas. Maafin Adek yah .... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN