Ketukan di pintu gerbang mansion mereka di Provence pagi itu tidak terdengar seperti ketukan tamu biasa. Itu adalah ketukan yang berat, berirama, dan membawa hawa dingin dari masa lalu. Tiga orang pria berjas gelap dengan raut wajah kaku—khas pria-pria "pembersih" dari keluarga besar Keisha di Jakarta—berdiri di sana.
Di pimpin oleh Hendra, paman Keisha yang paling konservatif dan pemegang hukum adat keluarga, mereka datang bukan untuk berkunjung, melainkan untuk membawa "pesan terakhir".
"Keisha," ucap Hendra dengan suara yang berat saat mereka duduk di ruang tamu yang megah. "Permainanmu di Paris sudah keterlaluan. Menikah dengan wanita? Di depan publik dunia? Kamu sudah menghina darah kita, menghina undang-undang dan moral tempatmu berasal. Keluarga besar menuntutmu pulang untuk 'pembersihan' atau namamu akan dihapus selamanya."
Keisha duduk dengan kaki menyilang, ekspresinya sedingin es. Di sampingnya, Widya berdiri dengan tangan yang digenggam erat oleh Keisha. Genggaman itu begitu posesif, seolah Keisha siap mematahkan tangan siapa pun yang mencoba menyentuh istrinya.
"Pembersihan?" Keisha tertawa sinis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kalian bicara soal moral setelah apa yang kalian lakukan pada orang tua Widya? Kalian bicara soal hukum setelah kalian menggunakan kekuasaan untuk menindas siapa pun yang tidak sejalan dengan kalian?"
"Jangan membangkang, Keisha! Wanita ini..." Hendra menunjuk Widya dengan hina. "Dia adalah kutukan bagi silsilah kita. Hubungan sejender ini adalah penyakit yang tidak akan kami biarkan mencoreng nama besar keluarga di tanah air."
Widya merasakan dadanya sesak. Penghinaan itu terasa sangat nyata, membawa kembali rasa takut akan norma-norma yang selalu menekannya di Indonesia. Namun, sebelum ia bisa bicara, Keisha sudah berdiri.
Aura Keisha meledak. Ia melangkah mendekati pamannya, menatapnya dengan mata yang menjanjikan kehancuran. "Dengar baik-baik, Paman. Aku bukan lagi bocah yang bisa kalian atur. Jika kalian menganggap hubungan kami sebagai penyakit, maka aku adalah wabah yang akan menghancurkan seluruh aset keluarga di Eropa jika kalian berani melangkah satu senti pun mendekati Widya."
Keisha mengeluarkan sebuah tablet dari sakunya, menunjukkan aliran dana rahasia yang selama ini ia kendalikan. "Satu kata dariku, dan seluruh kerajaan bisnis kalian di Jakarta akan runtuh dalam semalam karena skandal pencucian uang yang sudah aku siapkan buktinya. Aku tidak butuh nama besar kalian. Aku adalah Keisha, dan Widya adalah duniaku."
Hendra ternganga, wajahnya memerah karena amarah dan ketakutan. Ia menyadari bahwa Keisha benar-benar telah menjadi predator yang melampaui logika keluarga mereka.
"Pergi dari sini," desis Keisha. "Dan sampaikan pada para tetua di Jakarta: Jika ada satu orang lagi utusan yang menginjakkan kaki di tanahku, aku tidak akan mengirim mereka pulang dalam keadaan bernapas."
Setelah para utusan itu pergi dengan rasa malu dan takut, ketegangan di ruangan itu berubah menjadi getaran emosional yang hebat. Widya menatap Keisha dengan air mata yang mengalir. Ia menyadari betapa besarnya harga yang harus dibayar Keisha demi dirinya—wanita itu baru saja mendeklarasikan perang terbuka terhadap seluruh garis keturunannya.
Keisha berbalik, langsung merengkuh Widya dalam pelukan yang sangat kuat, hampir menyakitkan. "Maafkan aku, Widya... Maaf kamu harus mendengar hinaan itu lagi. Aku bersumpah, mereka tidak akan pernah menyentuhmu."
Gairah yang muncul setelah konfrontasi itu terasa sangat gelap dan penuh dengan rasa haus akan perlindungan. Di ruang tamu yang luas itu, Keisha mencium Widya dengan liar, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus setiap kata hinaan yang dilontarkan pamannya dengan sentuhan dan cintanya.
"Aku milikmu, Keisha... aku tidak takut selama aku bersamamu," bisik Widya di tengah isakannya.
Malam itu, di bawah perlindungan dinding mansion yang kokoh, mereka menyatu dalam sebuah pemberontakan batin yang paling dalam. Keisha memperlakukan tubuh Widya dengan cara yang sangat intens, menegaskan kembali kekuasaannya sebagai satu-satunya orang yang berhak memiliki Widya. Cinta terlarang mereka kini telah menjadi sebuah benteng yang tak tertembus, meski seluruh dunia—dan negara asal mereka sendiri—mengutuknya.
Malam itu, Provence terasa begitu sunyi, seolah dunia sedang menahan napas menyaksikan keretakan abadi antara Keisha dan silsilah darahnya. Di dalam kamar utama yang hanya diterangi oleh temaram lampu tidur, Keisha berdiri di depan jendela besar, menatap kegelapan di luar sana. Bahunya yang biasanya tegak dan kaku kini tampak sedikit merosot, beban sebagai musuh dari tanah leluhurnya sendiri akhirnya mulai terasa menekan.
Widya mendekat perlahan, melingkarkan lengannya di pinggang Keisha dari belakang. Ia bisa merasakan otot-otot punggung Keisha yang masih tegang. "Keisha... kamu benar-benar melakukan itu. Kamu memutus segalanya untukku," bisik Widya, menyandarkan pipinya di punggung hangat wanita itu.
Keisha berbalik, matanya yang biasanya penuh perintah kini tampak berkaca-kaca oleh emosi yang tertahan. Ia menangkup wajah Widya dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar. "Aku tidak pernah merasa memiliki keluarga di sana, Widya. Mereka hanya mencintai namaku, hartaku, dan kepatuhanku. Hanya kamu yang mencintai jiwaku yang cacat ini. Jika aku harus menjadi orang asing di negaraku sendiri demi menjadi istrimu, maka itu adalah harga yang sangat murah."
Keisha menarik Widya ke tempat tidur, bukan dengan hasrat yang menuntut seperti biasanya, melainkan dengan kebutuhan yang mendalam untuk merasa utuh. Di bawah selimut sutra, Keisha membenamkan wajahnya di d**a Widya, membiarkan dirinya menjadi kecil dan rapuh sejenak. Kehebatan sang penguasa fashion Paris itu luruh, digantikan oleh seorang wanita yang baru saja kehilangan akar dunianya namun menemukan rumah baru di dalam dekapan wanita sejendernya.
Widya membelai rambut Keisha dengan penuh kasih, memberikan ciuman-ciuman kecil di keningnya. "Kita tidak butuh pengakuan mereka, Keisha. Biarkan Indonesia dengan hukum dan normanya menghakimi kita dari jauh. Di sini, di ruang ini, cinta kita adalah satu-satunya hukum yang berlaku."
Gairah yang kemudian muncul di antara mereka terasa sangat puitis dan melankolis. Keisha mulai menciumi Widya dengan kelembutan yang menyayat hati, sebuah cara untuk memastikan bahwa Widya masih di sana, nyata dan miliknya. Setiap sentuhan terasa seperti sebuah janji bahwa meskipun mereka dikutuk oleh keluarga, mereka akan saling memuja hingga akhir waktu.
Penyatuan mereka malam itu menjadi sebuah simfoni penyerahan diri yang total. Keisha membiarkan Widya mengambil kendali, membiarkan dirinya dipuja oleh wanita yang telah ia selamatkan dari kegelapan. Di tengah gairah yang membara, ada rasa syukur yang luar biasa. Mereka adalah dua pengungsi cinta yang telah menemukan suaka di dalam tubuh satu sama lain.
"Aku mencintaimu... melampaui batas darah, melampaui batas negara," rintih Keisha saat ia merasakan puncak emosi yang luar biasa menghantamnya.
Widya membalas dengan pelukan yang tak kalah erat. "Dan aku milikmu... selamanya terlarang bagi dunia, namun sepenuhnya benar bagimu."
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk Provence, mereka tertidur dalam posisi yang saling mengunci, seolah-olah jika mereka terlepas, dunia akan menarik mereka kembali ke dalam kegelapan norma yang mengekang. Mereka telah resmi menjadi musuh dari tanah air mereka, namun mereka telah menjadi penguasa dari takdir mereka sendiri.