Kehidupan sebagai istri seorang Keisha tidaklah sesederhana yang Widya bayangkan. Enam bulan setelah sumpah setia mereka di kastil, Widya kini bukan lagi sekadar pelukis berbakat; dia adalah Madame Widya, sosok yang setiap gerak-geriknya dipantau oleh majalah mode dan kritikus seni di seluruh Eropa.
Pagi itu, di apartemen mewah mereka yang menghadap ke arah Place Vendôme, Widya berdiri di depan kanvas raksasa di studio pribadinya. Sinar matahari pagi Paris yang pucat menembus jendela besar, menyinari debu-debu cat yang beterbangan. Widya sedang mengerjakan sebuah proyek ambisius—sebuah potret Keisha, namun bukan sebagai penguasa fashion, melainkan sebagai wanita yang rapuh dalam pelukannya.
Tiba-tiba, sepasang lengan yang kuat namun lembut melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma parfum sandalwood dan black rose yang khas langsung menyerang indra penciuman Widya.
"Kamu bekerja terlalu keras, sayang," bisik Keisha, mengecup bahu Widya yang terbuka. "Para kolektor dari New York akan tiba dalam satu jam, dan kamu bahkan belum menyentuh sarapanmu."
Widya meletakkan palet catnya dan berbalik dalam pelukan Keisha. "Aku hanya ingin lukisan ini sempurna, Keisha. Ini adalah hadiah untuk ulang tahun perusahaanmu."
Keisha menatap lukisan itu dengan pandangan yang dalam. Ia melihat dirinya di atas kanvas tersebut—mata yang biasanya tajam dan penuh perintah, di lukisan Widya, terlihat begitu penuh penyerahan dan cinta. "Hanya kamu yang bisa melihat sisi itu dariku, Widya."
Namun, kemesraan mereka terganggu oleh suara ketukan pintu yang tegas. Marc, asisten pribadi Keisha yang baru, masuk dengan wajah yang tampak tegang.
"Nona Keisha, Madame Widya... mohon maaf mengganggu. Ada kiriman paket anonim di lobi. Ini bukan sekadar surat penggemar," ucap Marc sambil menyodorkan sebuah kotak hitam kecil yang dilapisi beludru.
Widya membukanya, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan kuno milik ayah Widya—jam yang seharusnya terkubur bersama orang tuanya di Indonesia bertahun-tahun yang lalu. Di bawah jam itu, terdapat sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang rapi dalam bahasa Prancis:
"Penebusan dosa belum benar-benar selesai. Masa lalu tidak pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menuntut balas."
Widya menatap Keisha dengan mata yang penuh ketakutan. "Keisha... ini milik ayahku. Bagaimana bisa...?"
Keisha mengambil jam tangan itu, rahangnya mengeras. Ia menyadari bahwa musuh mereka belum habis. Jean-Paul mungkin sudah bungkam, tapi rupanya ada kekuatan lain yang jauh lebih besar yang tidak menginginkan mereka hidup tenang.
"Marc, panggil tim keamanan pusat. Dan batalkan semua pertemuan hari ini," perintah Keisha dengan suara dingin yang mematikan. Ia kembali ke mode "pelindung", namun kali ini ada kemarahan yang lebih besar di matanya.
Widya merasa genggaman Keisha pada tangannya semakin mengencang. Gairah yang biasanya membara di antara mereka pagi itu seketika berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Seseorang sedang mengincar kebahagiaan mereka, dan mereka tahu bahwa serangan kali ini tidak akan datang dari pengadilan, melainkan dari kegelapan masa lalu yang jauh lebih dalam.
"Siapa pun mereka, Widya... mereka melakukan kesalahan besar dengan menyentuh apa yang sudah menjadi milikku," desis Keisha.
Malam itu, di tengah kemewahan Paris yang berkilauan, Widya menyadari bahwa perjuangannya belum berakhir. Ia harus menjadi lebih dari sekadar pelukis; ia harus menjadi rekan perang bagi Keisha.
Studio seni yang biasanya menjadi tempat paling damai bagi Widya, kini terasa mencekam. Jam tangan kuno milik ayahnya yang tergeletak di atas meja seolah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Widya berdiri mematung, jemarinya yang masih berlumuran sisa cat minyak tampak bergetar hebat. Ingatannya kembali ke masa kecil di Indonesia, ke saat-saat terakhir ia melihat ayahnya mengenakan jam itu sebelum kecelakaan tragis merenggut segalanya.
"Keisha... bagaimana mereka bisa memilikinya?" suara Widya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam isak tangis yang mulai pecah. "Apakah makam mereka... apakah seseorang membongkarnya?"
Melihat Widya yang hancur, amarah Keisha meluap, namun ia menekannya demi menjadi sandaran bagi istrinya. Keisha melangkah mendekat, menarik Widya ke dalam pelukannya yang sangat posesif. Ia bisa merasakan detak jantung Widya yang liar karena trauma.
"Dengar aku, Widya," ucap Keisha, suaranya rendah dan penuh otoritas. Ia memaksa Widya untuk menatap matanya yang tajam. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenanganmu. Siapa pun yang mengirimkan ini akan membayar harganya dengan sangat mahal. Aku bersumpah."
Keisha menyadari bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk meredam kepanikan Widya. Ia perlu mengingatkan Widya bahwa di sini, di apartemen ini, di bawah perlindungannya, Widya adalah milik yang tak tersentuh. Dengan gerakan yang penuh intensitas, Keisha mengangkat Widya dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu yang penuh dengan tabung cat dan kuas.
"Jangan lihat jam itu. Lihat aku," perintah Keisha.
Keisha mulai mencium Widya dengan liar, sebuah ciuman yang bertujuan untuk mengalihkan pikiran Widya dari rasa takut menuju sensasi yang nyata. Gairah yang muncul di tengah studio seni itu terasa sangat panas dan mendesak. Keisha melepaskan pakaian Widya dengan gerakan yang tidak sabar, membiarkan kulit mereka bersentuhan di tengah aroma turpentine dan minyak linseed yang menyengat.
Penyatuan mereka di atas meja studio itu menjadi sebuah pelarian yang sensasional. Keisha memberikan stimulasi yang sangat kuat, seolah ingin menanamkan eksistensinya ke dalam setiap saraf tubuh Widya agar gadis itu lupa pada ancaman di luar sana. Widya merespons dengan sama liarnya; ia mencengkeram bahu Keisha, membiarkan kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan sebagai bentuk pelepasan dari rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Hanya ada aku, Widya... hanya aku," desah Keisha di sela-sela pergumulan mereka yang membara.
Di tengah keringat dan napas yang memburu, Widya merasakan kekuatan Keisha mengalir ke dalam dirinya. Gairah ini bukan sekadar nafsu, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap siapa pun yang mencoba memisahkan mereka. Di atas kanvas kehidupan yang sedang mereka lukis, mereka tidak akan membiarkan warna gelap masa lalu mendominasi kembali.
Setelah puncak kenikmatan yang meledak-ledak itu, Widya terkulai di pelukan Keisha, napasnya mulai teratur. Keisha tetap memegangnya erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, Widya akan menghilang.
"Kita akan cari tahu siapa mereka, sayang," bisik Keisha sambil menciumi kening Widya yang basah. "Dan saat aku menemukan mereka, mereka akan memohon agar tidak pernah lahir ke dunia ini."
Widya mengangguk pelan, rasa takutnya kini berganti menjadi keberanian yang dingin. Ia menyadari bahwa sebagai istri Keisha, ia tidak bisa lagi hanya menjadi pelukis yang lembut. Ia harus belajar menjadi pedang yang sama tajamnya dengan Keisha untuk melindungi kerajaan cinta yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Malam itu, studio seni tersebut menjadi saksi bisu di mana rasa takut diubah menjadi gairah, dan gairah diubah menjadi sumpah pembalasan yang mematikan.