Jalan tol A6 menuju Lyon tampak seperti pita hitam panjang yang membelah kegelapan malam. Mobil sedan yang membawa Widya melaju dengan kecepatan tinggi, namun Jean-Paul sesekali melirik cermin tengah dengan cemas.
"Mereka sudah di belakang kita, Mademoiselle," ucap Jean-Paul, suaranya tenang namun ada ketegangan yang nyata.
Widya menoleh ke belakang. Di kejauhan, ia melihat sepasang lampu depan yang sangat terang melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Itu bukan mobil polisi. Ia mengenali raungan mesin itu—itu adalah Lamborghini milik Keisha.
Widya merasakan jantungnya berdegup kencang. Separuh darinya merasa takut, namun separuh lainnya merasakan kerinduan yang menyiksa saat menyadari Keisha sendiri yang mengejarnya. Keisha tidak mengirim anak buahnya; dia datang sendiri untuk menjemput miliknya.
"Jangan berhenti, Jean-Paul!" perintah Widya. "Aku harus sampai ke bank itu sebelum dia menangkapku!"
Sementara itu, di dalam mobil sport-nya, Keisha mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya mengeras, matanya fokus pada mobil di depannya. Amarahnya meluap, bukan karena Widya melarikan diri, tapi karena Widya memilih untuk mempercayai Jean-Paul—pria yang menurut Keisha jauh lebih berbahaya.
"Kamu pikir bisa lari dariku, Widya?" desis Keisha. "Aku sudah memberikan seluruh duniaku padamu, dan kamu memilih pergi dengan tikus tua itu?"
Keisha menginjak pedal gas lebih dalam. Mobilnya melesat, memotong jarak dalam hitungan detik. Dengan manuver yang sangat berani dan berbahaya, Keisha menyalip mobil Widya dan membanting kemudi, memaksa Jean-Paul untuk menginjak rem secara mendadak hingga ban mobil berdecit memekakkan telinga.
Mobil Jean-Paul berputar di aspal sebelum akhirnya berhenti di bahu jalan yang sepi. Sebelum asap dari ban menghilang, Keisha sudah keluar dari mobilnya. Ia melangkah maju dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Keisha membuka pintu belakang mobil Jean-Paul dan menarik Widya keluar. Namun, Widya tidak menyerah. Ia mendorong d**a Keisha dengan sekuat tenaga.
"Jangan sentuh aku, Keisha! Aku bukan barang milikmu!" teriak Widya di bawah cahaya lampu jalan yang remang.
Keisha mengunci kedua tangan Widya di atas kepala, menekannya ke badan mobil yang masih panas. Gairah dan amarah meledak di antara mereka. Di pinggir jalan tol yang sunyi itu, mereka berhadapan seperti dua petarung yang saling mencintai.
"Kamu milikku, Widya! Secara hukum, secara batin, dan secara fisik! Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi dengan pria yang hanya ingin memanfaatkan rahasia ayahmu?" Keisha berteriak, napasnya memburu di depan wajah Widya.
Widya menatap Keisha dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh api. "Kalau begitu biarkan aku melihat rahasia itu! Biarkan aku tahu kebenarannya, Keisha! Jika kamu mencintaiku, dampingi aku ke Lyon. Jangan kurung aku!"
Keisha terdiam. Melihat ketegasan dan penderitaan di mata Widya, hati Keisha yang keras perlahan melunak. Ia menyadari bahwa jika ia terus memaksakan kehendaknya, ia akan benar-benar kehilangan jiwa Widya selamanya.
"Baik," bisik Keisha, ia melepaskan cengkeramannya dan justru memeluk Widya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di leher istrinya. "Kita pergi ke Lyon bersama. Tapi Jean-Paul tidak ikut. Kamu masuk ke mobilku sekarang."
Keisha menatap Jean-Paul dengan pandangan mengancam. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk tidak membunuhmu malam ini, Jean."
Tanpa pilihan lain, Jean-Paul pergi meninggalkan mereka. Widya dan Keisha kini berdiri berdua di pinggir jalan tol. Ketegangan yang tadinya penuh kemarahan berubah menjadi momen yang sangat emosional. Keisha mencium Widya dengan penuh pengabdian, sebuah janji bahwa kali ini, dia akan membiarkan Widya mencari kebenarannya sendiri—dengan dia di sampingnya sebagai pelindung, bukan penawan.
Suasana di dalam kabin Lamborghini itu terasa begitu padat. Hanya ada suara mesin yang menderu halus dan napas mereka yang masih sedikit memburu. Keisha mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Widya, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Widya akan menguap seperti kabut malam Paris.
Widya menyandarkan kepalanya di jok kulit yang lembut, menatap profil samping Keisha yang diterangi cahaya lampu dasbor yang remang-remang. Rahang Keisha yang tegas tampak mengeras, namun ada gurat kelelahan dan kesedihan di matanya yang biasanya tak terkalahkan.
"Kenapa kamu harus lari, Widya?" tanya Keisha pelan, suaranya parau karena emosi yang tertahan. "Apakah aku begitu mengerikan bagimu sampai kamu harus mempercayai orang asing daripada istrimu sendiri?"
Widya menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang kembali mendesak. "Karena di dalam apartemen itu, aku tidak merasa seperti istrimu, Keisha. Aku merasa seperti lukisan favoritmu yang kamu simpan di brankas besi. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa mencintai dalam kegelapan. Aku perlu tahu siapa ayahku sebenarnya, dan apa peran keluargamu dalam kematiannya."
Keisha menepikan mobil di sebuah area peristirahatan yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk jalan tol. Ia mematikan mesin, membuat kesunyian langsung menyelimuti mereka. Keisha memutar tubuhnya, menatap Widya dengan pandangan yang sangat rapuh.
"Duniaku sangat gelap, Widya. Sejak kecil aku diajarkan untuk menghancurkan sebelum dihancurkan. Tapi saat aku melihatmu, aku ingin menjadi orang yang berbeda. Aku takut jika kamu tahu betapa berdarahnya sejarah keluargaku, kamu akan memandangku dengan rasa jijik," bisik Keisha. Ia menarik tangan Widya dan meletakkannya di dadanya, membiarkan Widya merasakan detak jantungnya yang berdebu.
Widya bisa merasakan ketulusan itu. Ia mendekat, membelai pipi Keisha dengan lembut. "Aku tidak akan membencimu karena dosa ayahmu, Keisha. Tapi aku akan membencimu jika kamu terus membohongiku. Kita adalah satu sekarang. Bebanmu adalah bebanku."
Momen kejujuran itu memicu gairah yang sangat dalam. Keisha menarik Widya ke pangkuannya di kursi pengemudi yang luas. Ciuman yang mereka bagi kali ini tidak lagi penuh dengan d******i atau paksaan, melainkan penuh dengan permohonan ampun dan penerimaan. Di dalam ruang sempit yang mewah itu, mereka kembali menyatu.
Sentuhan Keisha terasa begitu memuja, jemarinya bergerak dengan kehati-hatian yang luar biasa di balik pakaian Widya. Widya merespons dengan memberikan seluruh dirinya, membiarkan Keisha merasakan betapa ia masih sangat mendambakan wanita itu meskipun kemarahan sempat menguasainya. Gairah yang muncul di dalam mobil itu terasa sangat sensasional dan intim—sebuah ritual penyembuhan luka batin yang baru saja terbuka.
"Jangan pernah lari lagi, Widya," gumam Keisha di tengah desahan mereka yang berbaur dengan sunyinya malam. "Bicaralah padaku, marahlah padaku, tapi tetaplah di sisiku."
"Hanya jika kamu berjanji untuk tidak pernah menyembunyikan apa pun lagi dariku," jawab Widya sambil mengecup rahang Keisha.
Setelah badai emosi dan gairah itu mereda, mereka tetap berpelukan dalam keheningan selama beberapa saat. Widya merasa kekuatannya kembali. Ia tahu bahwa perjalanan ke Lyon besok pagi akan mengubah hidup mereka selamanya, namun kali ini ia tidak takut. Ia memiliki Keisha di sampingnya, bukan sebagai penjaga, melainkan sebagai pasangan sejati yang siap menghadapi kebenaran pahit bersama-sama.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Lyon dengan tangan yang saling bertautan, siap untuk membuka kotak deposit yang menyimpan kunci masa lalu mereka