BAB 11: Cahaya di Balik Jendela

1166 Kata
Pagi itu, suasana di suite 909 terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekam seperti malam sebelumnya. Saat Widya terbangun, pintu kamarnya sudah terbuka lebar. Ia mencium aroma masakan rumahan yang sangat akrab di hidungnya—bukan masakan koki hotel bintang lima, melainkan aroma nasi goreng dan telur mata sapi yang sederhana. Widya berjalan ke dapur dan tertegun. Di sana, Keisha—sang model papan atas yang biasanya selalu tampil sempurna—sedang mengenakan apron sederhana di atas kaus putihnya. Rambutnya diikat asal, dan wajahnya tanpa riasan sedikit pun. "Selamat pagi, Little Bird," sapa Keisha dengan senyum yang kali ini terasa sangat tulus dan hangat, bukan senyum dominan seperti biasanya. "Aku mencoba memasak sendiri hari ini. Aku ingat kamu pernah bilang merindukan masakan rumah yang hangat." Widya duduk di kursi makan, masih merasa sedikit ragu. "Keisha... kamu tidak perlu melakukan ini." Keisha meletakkan piring di depan Widya, lalu duduk di sampingnya. Ia mengambil tangan Widya dan menggenggamnya dengan lembut. "Aura... maafkan aku untuk semalam. Maafkan aku untuk hari-hari sebelumnya yang membuatmu merasa terkurung. Aku terlalu takut dunia akan menyakitimu lagi, sampai aku lupa bahwa aku sendirilah yang sedang menyakitimu dengan caraku melindungimu." Widya menatap mata Keisha. Kali ini, ia tidak melihat kilat obsesi yang tajam, melainkan ada genangan penyesalan dan kasih sayang yang dalam. "Aku mencintaimu, Widya," ucap Keisha, menggunakan nama asli Widya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. "Dan cinta sejati tidak seharusnya menjadi penjara. Aku ingin kamu bahagia, bukan hanya sekadar aman." Setelah sarapan, Keisha tidak menyuruh Widya pergi ke ruang latihan piano yang kaku. Sebaliknya, ia mengambil sebuah kunci—bukan kunci elektronik, melainkan kunci mobil biasa. "Ayo, bersiaplah. Kita tidak akan pergi ke butik atau studio foto. Kita akan pergi ke tempat yang ingin kamu kunjungi," kata Keisha. "Benarkah? Aku boleh keluar?" Widya hampir tidak percaya. Keisha mengangguk mantap. "Ke mana pun kamu mau. Aku akan menemanimu sebagai teman, bukan sebagai pemilikmu. Aku ingin kamu melihat bahwa dunia tidak selalu jahat, asalkan kita berdiri bersama." Mereka pergi ke sebuah taman kota yang luas. Widya menghirup udara segar dengan rakus, merasakan rumput di bawah kakinya, dan melihat anak-anak kecil berlarian. Keisha hanya berjalan di sampingnya, menjaga jarak yang sopan, membiarkan Widya berinteraksi dengan dunia tanpa intervensi. Saat seorang penjual balon mendekati mereka, Keisha tidak lagi mengusirnya dengan kasar. Ia justru membelikan Widya sebuah balon besar berwarna biru dan tersenyum melihat binar di mata gadis itu. "Dunia ini indah, kan?" bisik Keisha sambil duduk di bangku taman bersama Widya. "Aku sadar sekarang. Aku tidak bisa menjagamu dengan cara mengurungmu. Aku harus menjagamu dengan cara mengajarimu bagaimana caranya terbang tanpa rasa takut. Aku akan selalu ada di belakangmu untuk menangkapmu jika kamu jatuh, tapi aku tidak akan lagi memotong sayapmu." Widya menyandarkan kepalanya di bahu Keisha. Untuk pertama kalinya, ia merasa aman bukan karena tembok suite yang tebal, tapi karena ia tahu ada seseorang yang benar-benar peduli pada jiwanya. Keisha yang ambisius dan dingin perlahan mulai luruh, digantikan oleh sosok penyayang yang belajar untuk mencintai dengan cara yang lebih sehat. "Terima kasih, Keisha... terima kasih karena telah membiarkanku bernapas lagi," bisik Widya. Keisha mengecup puncak kepala Widya, kali ini dengan kelembutan yang menenangkan hati. "Kita akan belajar bersama, Widya. Belajar tentang dunia, dan belajar tentang cinta yang tidak saling mengikat." Sore itu di taman, matahari mulai tenggelam dengan warna jingga yang membasuh langit Jakarta. Widya merasa seperti baru saja lahir kembali. Ia tidak menyangka bahwa Keisha bisa menatapnya dengan pandangan selembut itu—pandangan seorang wanita yang rela melepaskan ego besarnya demi senyuman orang yang ia cintai. Saat mereka berjalan kembali menuju mobil, Keisha menggandeng tangan Widya dengan jari yang saling bertautan, sangat ringan dan tanpa paksaan. Tidak ada lagi tarikan kasar atau perintah dingin. "Malam ini, aku tidak ingin ada koki, tidak ada asisten, dan tidak ada gangguan," ucap Keisha pelan saat mereka berada di dalam mobil. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Benar-benar denganmu, Widya." Sesampainya di suite, suasana yang biasanya terasa kaku dan mengintimidasi kini terasa jauh lebih hangat. Keisha menyalakan lampu-lampu kecil yang temaram dan memutar musik jazz yang sangat lembut. Ia tidak lagi memerintah Widya untuk memakai gaun merah yang mencolok, melainkan membiarkan Widya tetap mengenakan pakaian santainya. Keisha mendekati Widya yang sedang berdiri di balkon melihat kerlip lampu kota. Dari belakang, Keisha melingkarkan lengannya di pinggang Widya, memeluknya dengan rasa sayang yang tulus. Ia menyandarkan dagunya di bahu Widya, menghirup aroma rambut gadis itu yang kini berbau matahari dan angin taman. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Widya," bisik Keisha. "Aku tahu aku hampir menghancurkanmu dengan ambisiku. Tapi melihatmu tersenyum di taman tadi... itu lebih berharga daripada semua pemotretan dan kontrak mewah yang pernah aku tanda tangani." Widya berbalik dalam dekapan Keisha, menatap mata wanita yang kini tampak begitu rapuh namun jujur. "Aku mencintaimu, Keisha. Aku hanya ingin dicintai sebagai manusia, bukan sebagai barang koleksi." Keisha tersenyum tipis, lalu dengan lembut ia menuntun Widya menuju kamar utama. Kali ini, langkah mereka terasa sangat sinkron, penuh dengan ketegangan romantis yang manis. Keisha mendudukkan Widya di tepi tempat tidur yang luas itu, lalu ia berlutut di hadapan Widya, memegang kedua tangannya. "Malam ini, biarkan aku menunjukkan betapa aku sangat menghargaimu," gumam Keisha. Ia mulai mencium jemari Widya satu per satu, lalu beralih ke pergelangan tangan, dan perlahan naik menuju bahu. Sentuhannya sangat ringan, hampir seperti belaian bulu, namun mampu membakar perasaan Widya dengan cara yang sangat berbeda dari biasanya. Ini bukan tentang d******i; ini tentang penyatuan dua jiwa yang sedang belajar saling memahami. Keisha bangkit dan perlahan merebahkan Widya di atas sprei sutra yang dingin. Ia menatap wajah Widya di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan. Keisha mulai menanggalkan satu per satu penghalang di antara mereka dengan gerakan yang sangat anggun dan penuh penghormatan. Saat kulit mereka bersentuhan, Widya tidak lagi merasa takut atau tertekan. Ia merasakan kehangatan yang menjalar, sebuah getaran sensasional yang membuatnya merasa sangat diinginkan. Di atas ranjang itu, di tengah kesunyian malam yang mewah, mereka berbagi keintiman yang sangat dalam. Keisha memperlakukan tubuh Widya seolah-olah itu adalah porselen yang sangat berharga namun penuh nyawa. Setiap sentuhan, setiap kecupan di sepanjang leher dan punggung Widya, dilakukan dengan penuh kasih sayang yang tulus. Keisha tidak lagi memimpin dengan paksaan, melainkan mengikuti ritme napas Widya, memastikan setiap detik yang mereka lalui adalah tentang kenyamanan dan kenikmatan bersama. Suasana menjadi semakin intens saat napas mereka saling memburu di bawah selimut tebal. Keisha membisikkan kata-kata cinta yang menenangkan di telinga Widya, janji-janji tentang masa depan yang lebih bebas dan bahagia. Dalam keintiman yang hangat itu, Widya menyadari bahwa Keisha benar-benar telah berubah. Ia bukan lagi sang predator yang mengunci mangsanya, melainkan seorang kekasih yang sedang memberikan seluruh hatinya. Malam itu berakhir dengan mereka yang saling berpelukan erat di bawah hangatnya selimut, membiarkan kelelahan yang manis membawa mereka menuju alam mimpi. Keisha tidak lagi mengunci pintu kamar dari luar. Ia membiarkannya terbuka, sebuah simbol bahwa kini Widya bebas untuk tinggal atau pergi, namun Widya memilih untuk tetap berada di sana, di dalam pelukan wanita yang akhirnya belajar cara mencintai dengan benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN