Kesepakatan

1072 Kata
"Apa?" Yani panik mengetahui Bayi Zoya dibawa pergi Septian, "kok, bisa, Buk?" Wanita yang merupakan tetangga Zoya tempat Yani menitipkan Bayi Zoya menggeleng lemah dengan raut menyesal. "Saya tidak bisa melarang, Mbak. Septian Ayah bayi itu. Dia mengancam akan melaporkan saya ke polisi kalau menghalangi membawa anaknya sendiri." Yani menatap tidak percaya mendengar penjelasan si wanita. Namun, dia tidak bisa menyalahkan wanita tersebut. Sebagai ayah, Septian memang berhak mengambil putrinya, tetapi tidak dengan cara seperti itu. "Kenapa waktu itu Mbak tidak menelepon saya?" "Tidak sempat, Mbak. Septian marah-marah sambil teriak di depan rumah. Saya tidak mau anak-anak saya celaka, lagipula orang tua saya udah tua. Saya takut mereka kenapa-kenapa." Helaan napas Yani terdengar berat. Dia memilih kembali ke rumah sakit setelah membawa beberapa pakaian ganti untuk Zoya. Sepanjang perjalanan dia bingung bagaimana menyampaikan pada wanita tersebut. Jalan satu-satunya menyampaikan pelan-pelan kepada Zoya. Dia akan berusaha meyakinkan untuk mengambil Bayi Zoya lagi. Dering ponsel membuyarkan lamunan Yani. Dahinya berkerut melihat nomor tidak dikenal tampil di layar berukuran 6, 5 inci miliknya. Dia mencoba mengingat-ingat siapa pemilik nomor telepon itu, tetapi nihil. "Hallo." Yani memilih menjawab setelah si penelepon menghubunginya sebanyak tiga kali. "Yan, ini aku. Ada Mas Tian di sini." "Mau ngapain dia?" "Dia bilang mau buat kesepakatan. Apa anakku ada sama kamu?" Yani diam. "Jadi, benar anakku sama dia?" Suara Zoya berubah cemas, membuat Yani yakin Septian sudah mengintimidasi istrinya. "Kamu tenang aja. Sebentar lagi aku ke sana. Jangan ngomong apa pun dulu." "Ta ... tapi." "Zoya, dengar aku. Tunjukkan kalau kamu enggak terpengaruh sama Tian." Tidak ada jawaban dari Zoya membuat Yani meminta sopir mempercepat laju mobil. Dia berdoa semoga lelaki itu tidak melakukan sesuatu yang akan menambah luka temannya. * "Zoya!" Yani membuka pintu ruang perawatan si wanita. Satu minggu sejak wanita dibawa ke ruang unit gawat darurat, keadaannya jauh lebih baik. Menurut dokter tidak perlu ada tindakan operasi karena bagian tulang yang retak bisa dipulihkan dengan obat-obatan. Yani melihat Septian bersama seorang wanita berdandan ala sosialita berdiri tidak jauh dari brankar Zoya. "Akhirnya datang juga. Aku mau buat kesepakatan sama kalian." Septian langsung menjelaskan maksud kedatangannya. Dia menyerahkan map berwarna biru kepada Yani. "Apa ini?" tanya Yani sambil membaca tulisan di atas selembar kertas yang ada di dalam map. "Itu surat perjanjian kalau Zoya enggak akan melaporkan aku ke polisi ...." Septian menjeda kata-katanya sebentar untuk melihat reaksi Zoya dan Yani. "Sebagai kompensasi aku akan mengurus surat perceraian tanpa kamu harus repot ke pengadilan agama," imbuhnya menatap sang istri." Zoya bergeming. Kebencian kepada Septian karena sudah memperlakukannya dengan keji masih membara di d**a. Namun, entah mengapa mendengar lelaki itu hendak menceraikannya mengundang ngilu ke jantungnya. Tidak dia pungkiri jika cinta untuk suaminya masih sangat besar. "Kamu pikir susah ngurus surat cerai?" Nada suara Yani terdengar ketus, "dengan melaporkanmu ke polisi, kami bisa membantu Zoya mendapatkan surat cerai tanpa perlu bersusah payah mengeluarkan tenaga dan uang." Wajah Septian memerah. Dia menatap ke arah Zoya. "Aku mau dengar jawabanmu." "Aku sudah bantu menjawab," sela Yani tegas, sambil memegang bahu Zoya. "Aku bicara sama istriku." Kali ini nada suara Septian mulai keras, "siapa kamu? Keluarga bukan, saudara bukan, pengacaranya juga bukan," tambahnya dengan raut mengejek. "Aku bisa mencari pengacara untuk Zoya." Tantang Yani sambil bersedekap. Muka Septian memerah mendengar jawaban Yani. Dia tidak terlalu mengenal teman-teman Zoya. Tentang Yani hanya dia dengar dari cerita-cerita sang istri saat masih pedekate dulu. Yani begini, Yani begitu. Hampir setiap bertemu puja-puji untuk Yani tidak ketinggalan. Septian yakin wanita bertubuh subur itu memiliki pengaruh yang besar terhadap Zoya yang saat itu baru dia nikahi. Tidak ingin rumah tangganya direcoki oleh Yani, dia meminta sang istri menjaga jarak dari wanita tersebut. Walaupun sudah memperingati, tetap saja keduanya bertemu setiap hari karena bekerja di tempat yang sama. Jurus terakhir, Septian meminta Zoya resign dari pekerjaannya. Bukan karena dia mampu memberi uang lebih kepada sang istri, tetapi untuk membatasi sosialisasi si wanita dengan orang lain. "Kita bicarakan baik-baik. Ini masalah rumah tangga mereka, lho, Mbak. Sebaiknya biarkan mereka memutuskan sendiri." Wanita yang berdiri di samping Septian angkat bicara. Paras cantik tidak bisa menutupi gaya pongah saat berbicara. Yani menatap Zoya, seolah-olah bertanya siapa wanita itu. "Mira, Mira ... kamu masih punya muka bicara sama aku setelah apa yang kalian lakukan di rumah?" Kali ini pertanyaan sinis justru keluar dari bibir Zoya. "Ck, kenapa membahas itu. Kami saling mencintai, harusnya kamu sadar kalau kamu enggak sepadan sama Septian," jawab Mira acuh tak acuh. "Apa?" Yani geram mendengar jawaban Mira. Mendengar dan melihat gerak-gerik Septian dan Mira, dia yakin keduanya memiliki hubungan terlarang. "Jangan bilang kalau mereka ...." "Iya, mereka selingkuh, yang lebih menyakitkan mereka berzina di rumahku, di kamar kami. Padahal aku baru melahirkan." Mati-matian Zoya menahan getaran dalam suara. Kilasan senja kelabu itu kembali terbayang di pelupuknya, membuat lukanya kembali berdarah. Yani terperangah sambil membekap mulut dengan kedua tangan. Sekarang dia mengerti keadaan Zoya. Pantas saja wanita itu seakan-akan hidup segan mati tak mau. Siapa pun wanita pasti akan hilang akal sehatnya bila ditimpa kemalangan seberat itu. Untung saja Zoya tidak gila. "Kalian benar-benar manusia terkutuk. Kalian penyebab Zoya seperti ini dan kamu ...." Yani menunjuk runcing ke arah Septian, "ke mana hatimu saat menganiaya istri yang sudah melayani dan melahirkan anakku? Kamu lebih busuk dari sampah paling menjijikkan!" Bergetar suara Yani menyumpah-serapahi Septian. Dia bukan wanita yang suka berkata-kata buruk. Namun, melihat dua orang manusia yang sudah kehilangan malu dan nurani, akal sehatnya pun ikut lenyap. Andai Zoya tidak memegang tangannya erat-erat mungkin sekarang dia sudah menghajar keduanya. Yani beristigfar. Dia memalingkan wajah ke mana saja asal tidak bersitatap dengan Septian dan Mira agar amarahnya tidak tersulut kembali. "Kami ke sini bukan untuk mendengar omong kosong kamu!" balas Septian. Dia menatap Zoya, "kalau kamu mau ribut-ribut, enggak apa-apa. Kita ketemu di pengadilan. Aku pastikan kamu enggak akan mendapatkan apa pun juga hak asuh anak." Mendengar ancaman Septian, amarah yang sejak tadi ditekan dalam-dalam oleh Zoya, meledak. Dia bergerak turun, tetapi ditahan oleh Yani karena jarum infus masih menancap di tangannya. "Apa hakmu mengambil anakku?! Pernah kamu peduli selama dia di kandunganku? Aku yang kepayahan mengandung, melahirkan, sementara kamu sibuk dengan wanita lain." "Kalau begitu tanda-tangani kesepakatan itu." Septian menunjuk map yang dipegang Yani. "Aku enggak akan ambil anak kamu, malah akan ngasih rumah dan uang untuk anak kita sampai dia besar. Dengan syarat kamu mencabut laporan ke polisi tentang KDRT." Bibir Zoya terkunci mendengar kata-kata Septian. Andai membunuh bukanlah dosa, dia akan menghabisi lelaki itu detik ini juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN